Hamil Tua “Hasrat” Berkarya

 

PEREMPUAN dengan terusan motif bunga itu berjalan di tepian jalan. Melongok ke kiri lalu kanan, ia bersiap menyeberang jalan. Dengan ragu tampaknya. Mobil bak terbuka melaju kencang. Lalu suara tumbukan terdengar. Sejurus kemudian, perempuan terkapar. Sebagaimana lazim disaksikan pada sinetron, seorang laki-laki datang, memeluk erat, tampak guncang,  lalu berteriak “tidak..!” tanda tak rela.

Itu potongan adegan pentas Persetan yang dihelat dengan meriah di Lab. Teater Usmar Ismail, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesa FBS Unnes, Jumat (30/3) malam. Persetan, agaknya akronim dari Persatuan Sastra Indonesia lintas Angkatan, menyajikan pentas penutup malam itu. Sebelumnya, ditampilkan pula teater oleh Komunitas Godhong, Lab Film, dan Teater SS, juga pentas musik oleh Saskustik, lalu pembacaan puisi oleh Orchid, Arya Sutha, dan Janoary M Wibowo.

Perempuan hamil tua dalam pertunjukan Persetan punya makna yang beragam. Sebagaimana “hamil” memang menyajikan beragam makna konotatif. Tapi bagi saya, kondisi hamil tua adalah “kata kunci” untuk memahami mengapa acara malam itu ada. Dan, barangkali, juga membantu memahami mengapa organisasi atau komunitas Persetan lahir.

Sejak lama, program tsudi, jurusan, bahkan fakultas sastra menyajikan paradoks. Atau, untuk menghindari tuduhan itu, saya mengajukan istilah “tak memenuhi ekspektasi” publik. Alih-alih menjadi ladang subur karya dan wacana kesusastraaan, jurusan sastra kerap gamang menentukan domainnya. Menghasilkan sastrawan tidak, kritikus pun tidak. “Sastra kampus” yang konon pernah disebut pernah menjadi satu dari sekian aliran sastra kini tak lagi dilirik sebagai salah satu yang punya pengaruh.

Dengan sedikit romantisme, Situmorang (2009) pernah mengajukan “gugatan” atas kondisi ini. Persoalan idiologis, menurutnya, dominan memengaruhi eksistensi sastra kampus. Pasalnya, mahasiswa kini telah berjarak dengan realitas sosial masyarakatnya.  Ini berbeda dengan kondisi  “Angkatan 66” yang konon gemuruh oleh wacana dan karya. Periode itu sastra kampus menjadi bagian penting karena beberapa pegiat angkatan masih berstatus mahasiswa. Goenawan Muhamad salah satunya. Pada periode, agaknya siapapun bersepakat, realitas sosial nyaris tak berjarak dengan kampus. Mahasiswa menjadi pemain yang diperhitungkan dalam “konflik” ideologis, baik yang melibatkan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, partai politik, dan masyarakat umum.

Kini kondisi telah berubah. Kampus adalah arena yang nyaris steril dari perdebatan ideologis. Mahasiswa (juga dosen) memilih menjadi penonton dengan memakai “baju” akademisi, pengamat, dan peneliti. Maka tidak heran jika mereka telah menjadi anomali dalam sejarah realism-sosial. Indikatornya adalah, mahasiswa tak lagi tertarik menggarap gagasan-gagasan sosial dalam karya mereka, kemudian beralih menulis persoalan-persolan pribadi yang sentimentil belaka.

Hasrat Berkarya

Sekalipun tuduhan Situmorang terbukti pada tahun-tahun belakangan ini, rasanya tak mutlak. Sastra(wan) kampus menolak mati ditandai dengan lahirnya berbagai komunitas sastra. Di Semarang, komunitas tersebut hamper bisa dijumpai di seluruh perguruan tinggi, seperti Unnes, Undip, IAIN Walisongo, IKIP PGRI, Udinus, juga Unsibank. Arif (2012) misalnya mencatat di IAIN saja ada Soeket Teki yang dibidani oleh Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat, Liksa oleh LPM Justisia, beranda sastra Edukasi milik LPM Edukasi, kelompok teater, dan komunitas-komunitas pecinta sastra lainnya.

Keberadaan mereka, secara kelembagaan, menunjukan hasrat berkarya sastrawan-mahasiswa masih ada. Ini tentu kondisi yang tak serta merta mewujud. Persoalan apakah komunitas-komunitas sastra mahasiswa menghasilkan karya bermakna atau berpuas diri jika disebut eksis, adalah soal lain.

Lantas, mengapa mahasiswa pecinta sastra berkomunitas? Bukankah karya bisa pula lahir dari ruang sepi, kesendirian, dan “berbicara dengan diri sendiri”? Efendi (2007) pernah melempar pertanyaan serupa dalam diskusi Ode Kampung 2, Temu Komunitas Sastra, Rumah Dunia, 2007. “Ada apa di balik komunitas sastra yang tumbuh subur di Indonesia ini? Apakah dengan komunitas seorang pegiat sastra menjadi lebih dipandang? Atau sebaliknya, komunitas akan lebih bersinar bila didukung oleh para pegiat sastra yang sudah mapan?”

Stiawan (2006) coba memahami kecenderungan munculnya komunitas sastra secara sosiologis. Menurutnya “Komunitas (community) atau kelompok atau “segeromobolan” dari individu-individu lalu berkuimpul untuk suatu visi dan misi bersama. Artinya, komunitas tidak lantas hanya “membesarkan” satu individu (biasanya hanya ketua atau yang dituakan), maka komunitas tersebut sudah menjadi sebuah organisasi yang mengacu kepada struktur tertentu.”

Sebagaimana Stiawan, saya tak bisa memberi justifikasi apakah tujuan “besar bersama” pada komunitas sastra terpelihara atau tidak. Sepengamatan saya, telah banyak komunitas sastra yang meng”ada” kemudian lesap tak berjejak meski ada pula komunitas sastra yang berhasil menjalani khitahnya menjadi pusat kreatif.

Di Solo misalnya ada Pawon Sastra. Berdiri pada 2007, Pawon Sastra eksis dengan menerbitkan buleotn Pawon, kemudian meluaskan kegiatan ke wilayah lain diluar penerbitan, yakni mengadakan diskusi, workshop penulisan, kelas menulis, pentas seni dan sastra, menambah lini penerbitan (Gerilya Peradaban), dan pendokumentasian kota melalui cerita. Mereka, baru-baru ini, merilis kumpulan esai bertajuk “Aku dan Buku”. Karya mereka mudah dijumpa baik dalam bentuk esai, puisi, maupun prosa.

Di Semarang kita juga bisa menyebut sejumlah komunitas yang terbilang (pernah) sukses, bukan hanya dalam mengelola diri, tapi juga mengelola karya. Untuk menyebut beberapa diantaranya adalah Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Semarang, Hysteria, Laci Kata, Open Mind Community, Sindikat Penulis Semarang (Sipilis), dan beberapa lainnya. “Pernah” yang saya gunakan pada kalimat pertama paragraf ini bukan untuk menyangsikan, tapi karena saya memang tak mengikuti perkembangan mereka mutakhir ini.

Mengelola komunitas sastra membentangkan tantangan ganda, dari internal pegiatnya juga kondisi lingkungan (baca: iklim kreatif). Tantangan terbesar barangkali adalah menjaga konsistensi, istikamah, dan terus eksis. Menjaga konsistensi berarti pula menjaga “hasrat berkreativitas” eksponen dalam komunitas yang kerap muncul redup. Lantaran sastra masih menjadi bidang yang “kering” banyak pegiat sastra tergoda menjajal bidang lain yang lebih “basah”, seperti musik, pertunjukan, atau lainnya. Di sisi lain, komunitas sastra juga harus bertahan dari ketakacuhan lembaga resmi, baik pemerintah maupun kampus.

Alternatif

Di tengah kondisi seperti ini, kelahiran Persetan menguatkan tesis “timbul tenggelam” seperti saya kemukakan di atas. Namun, di luar itu Persetan juga membuktikan bahwa hasrat berkarya ternyata terus ada. Persetan, yang konon dibikin untuk menghimpun mahasiswa Sastra Indonesia FBS Unnes dari berbagai angkatan, menjadi alternatif sekaligus jalan darurat. Jadi jalan alternatif lantaran “jalur resmi” berkarya mampat, jadi lalur darurat karena hasrat berkarya tak tertahan, seperti perempuan yang hamil tua. (Rahmat Petuguran)

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.