Guru-guru Hebat yang Kukenal (1): Wasis Sucipto

Bayangkanlah guru fisika bertubuh 155 cm, berkacamata tebal, punya model sisiran rambut ke kanan (yang selalu begitu), dan hanya punya Astrea Prima sebagai alat transportasinya.

Sudah kau bayangkan? Sterotip fisikal itu barangkali cocok untuk menggambarkan guru yang menjenuhkan. Jadul. Kuno. Setidaknya stereotip itulah yang digambarkan di sinetron-sinetron.

Tapi tidak dengan Wasis Sucipto. Beliau adalah guru saya di SMA 1 Wanadadi, Banjarnegara. Meski berpenampilan masa lalu, cara berpikir, cara berkomunikasinya dengan siswa, dan caranya mengajar menjanjikan masa depan.

Meski agak hiperbolik, saya berani gambarkan bahwa dia justru guru paling menyenangkan yang pernah saya miliki. Dalam banyak hal, dia bahkan menjadi sahabat bagi saya, sahabat bagi kami, siswanya.

Ketika saya dan teman-teman masih SMA, kesan saya terhadap beliau sederhana saja: menyenangkan. Baru setelah saya belajar di perguruan tinggi dan belajar tentang pedagogi, saya tahu beliau memang memiliki keunggulan pedogigik, sosial, dan kepribadian sekaligus.

Sebagai guru fisika, beliau punya jam ngajar rutin seperti guru lainnya. Tapi di sela-sela itu, beliau masih punya waktu membimbing kami di laboratorium untuk merencanakan dan melaksanakan penelitian.

Bukan hany pada jam-jam istirahat, beliau melakukan itu usai jam sekolah selesai.

Beliau biarkan laptopnya (yang saat itu masih jadi benda langka) untuk kami gunakan menulis agar kami tidak perlu rental komputer. Dia membiarkan printer kantornya jebol karena kami gunakan terlalu sering-kadang untuk hal yang tak perlu (kadang iseng ngeprint gambar “pemandangan”, haha).

Lain waktu, saat kami jenuh di kelas, beliau mengajak kami meneliti di luar kelas. Beliau menyiapkan semacam program studi wisata. Suatu hari beliau mengajak kami ke alun-alun kota dan kemudian ke Dieng untuk mengukur perbandingan kekuatan gravitasi di dua lokasi itu. Beliau mengajak kami menyusuri Serayu untuk mengukur asam basa air, juga mengukur tingkat sedimentasinya.

Meski kami pikir, apa perlunya mengukur grvitasi?, kami mulai merasakan bahwa fisika adalah dekat dan nyata. Fisika tidak cuma menghitung sesuatu yang imajiner.

Yang membuat beliau begitu istiemwa (bagi saya pribadi) adalah jasanya memperkenalkan saya kepada dunia jurnalistik. Meskipun beliu guru fisika, tapi beliau yang memperkenalkan kami 5W + 1H, piramida terbalik, dan perwajahan media. Di sela istrihat, dia membimbing kami menulis berita. Dia memperkenalkan teknik wawancara. Dia memperkenalkan tata wajah media.

Dari kegiatan jurnalistik itulah kami melakukan banyak hal. Berlomba ke berbagai kota: Purwokerto, Salatiga, Semarang, dan lainnya.

Karena lomba-lomba itu harus kami siapkan di luar sekolah, beliau membiarkan rumah kontrakannya yang sempit untuk kami jadikan ruang redaksi, tempat tidur, dan urusan lain. Dia merelakan ruang tamunya yang sempit dipenuhi sampah kertas, sterofoam, dan belepotan oleh cat kertas.

Pekan lalu saya dan istri ingin mengunjungi beliau di rumahnya. Kami ingin belajar lebih banyak lagi dengan beliau sambil menyerahkan buku yang baru saja saya terbitkan. Tapi ternyata beliau sedang ke Jogja untuk mengikuti bintek.

Pertemuan itu urung terjadi. Tapi pertemuan yang gagal itu pun mengajarkan satu hal: sudah senior saja masih giat upgrade pengetahuan hingga ke luar kota, masa yang junior cuma kampus-rumah aja sih?

Terima kasih Pak Wasis Sucipto.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *