Guntur Susilo, Seimbangkan Karir dan Kebutuhan Spiritual

BEKERJA di perusahaan otomotif internasional Guntur Susilo memiliki karir yang cemerlang. Bahkan ia pernah merasa laju karirnya terlalu cepat. Namun hal itu tidak lantas membuatnya puas. Ketika karirnya melaju pesat, ia justru merasa perlu mencari “pelarian” lain; spiritualitas.

Ketika menjadi Representative Office Head untuk wilayah Sumatera Bagian Utara, kegelisahannya mulai muncul. Ia pun izin minta resign kepada atasan, namun tidak diizinkan. Tahun 2000 ia minta pindah ke Semarang sebagai regional office head Semarang.

“Kayaknya saya harus mengubah paradigma. Usia saya sudah 40 tahun, anak saya sudah besr-besar,” katanya.

Suatu ketika Guntur merasa dihadapkan pada dua pilihan. Mengejar karir atau menyeimbangkan karir dan pencarian spiritualitas. Karena itu, ketika ditarik oleh perusahaan ke Jakarta ia menolak. Di sana ia hanya bertahan selama 8 bulan dan memilih mengundurkan diri.

“Saya bilang sama atasan, Pak saya sudah tidak kuat,” kenangnya. “Saya harus kerja yang bisa membalancing dengan urusan ibadah.”

Ada dua pertimbangan yang membuatnya menjatuhkan pilihan berisiko itu. Pertama, saat itu usianya sudah 40 tahun. Sadar tidak lagi muda Guntur merasa perlu membagi waktunya untuk urusan spiritual.

Kedua, saat bersamaan ketiga anaknya mulai menganjak usia remaja. Menurutnya, kasihan kalau terus menerus mengajak mereka berpindah tempat tinggal.

“Saya ingin anak-anak tinggal di Semarang. Meskipun saya Jawa Timur dan istri saya dari Jakarta, di sini pendidikan untuk mereka lebih bagus,” kata laki-laki kelahiran Pasuruan ini.

Setelah mengundurkan diri, ia memperoleh tawaran bekerja di sebuah lembaga keungan. Tawaran itu menurutnya menarik karena disertai benefit dan posisi yang tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya dulu.

Namun tiba-tiba Astra Internasional menghubungi memintanya bekerja kembali. “Kebetulan, bulan itu juga Astra World mau buka di Semarang,” katanya. Setelah berkonsultasi dengan sang istri, Wiwi Herlina, akhirnya memutuskan kembali bekerja di perusahaan itu.

“Tapi karena itu perusahaan baru, saya harus down great. Down great dalam hal fasiliti, gaji, juga golongan,” lanjut kakek satu cucu ini tersenyum.

Meski begitu, Guntur merasa harus komitmen dengan pilihannya. Sebab, sejak awal yang ia cari adalah waktu.  Pilihannya membuat Guntur lebih dekat dengan dua hal yang selama ini diinginkannya, yakni menyeimbangkan karir dan spiritual, sekaligus bisa lebih open pada anak-anaknya.

“Kebahagiaan itu bukan karena uang, karena fasiliti. waktu. Waktu adalah sesutau yang sangat berharga,” katanya.

Masa-masa ketika ia harus bekerja hingga larut malam meninggalkan keluarga ia akhiri. Meski sekali waktu harus bekerja keras, itu tidak setiap hari. Sebaliknya, ia lebih sering menghabiskan sore di rumah sambil menikmati matahri terbenam dengan keluarga.

“Saya tidak tahu, tapi sejak saat itu urusan saya justru terasa lancar. Padahal waktu masih bekerja keras sampai larut malam ada-ada saja halangan,” katanya.

Menurutnya, berkah itu ia peroleh karena keyakinan, siapa pun yang berusaha meraih sukses akhirat pasti dia dapatkan dunia juga.

Namun, orang yang berusaha meraih dunia belum tentu mendapat sukses akhirat. Ia semakin yakin bahwa pekerjaan apapun memiliki nilai ibadah, tergantung niatnya. “Ibadah itu kan bisa ritual, tapi juga ibadah sosial. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga ibadah,” katanya.

Spirit itulah yang kemudian Guntur bawa ke tempatnya bekerja. Karyawan-karyawan di kantornya ia ajak menyeimbangkan dua urusan yang oleh banyak orang kerap didikotomikan; karir dan kebutuhan spiritual. Setiap pagi misalnya, di kantir diselenggarakan acara “motivasi hari ini”.

Pimpinan dan karyawan membuat renungan dan membaca artikel-artikel motivasi. Memanfaatkan ruang kosong di kantornya, ia bersama karyawan menyelenggarakan pengajian sebulan sekali. “Jangan kerja is kerja, ibadah is ibadah. Kerja kan juga ibadah,” lanjutnya.

Langkah itu ternyata berdampak baik bagi perkembangan kinerja perusahaan. Sebab, kata Guntur, kinerja karyawan tidak hanya dipengaruhi keterampilan, tapi motivasi dan suasana kerja.

“Suasana kerja itu kan lahiriah dan batiniah. Saya lebih senang karyawan yang tidak terlalu pintar tapi punya mentaliti yang baik,” katanya. “Kalau soal keterampilan kan bisa dilatih. Kreativitas juga bisa diasih. Tapi mental itu basic sekali,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.