Green Comunity (GC) Unnes

DARI namanya, Green Community, tidak sulit menebak aktivitas komunitas anak muda di Kelurahan Ngijo, Gunungpati ini. Mereka memang fokus mengkaji persoalan lingkungan. Tapi, mereka tidak sekadar menanam. Penelitian satwa langka bahkan pernah beberapa kali mereka lakukan. Seperti apa?

Awalnya, Green Community hanya kumpulan anak muda yang suka naik gunung. Sebagaimana umumnya pecinta alam, mereka rajin menguji keberanian dengan mendaki. Namun, lama kelamaan aktivitas itu dirasa kurang produktif. Hanya kesenangan yang mereka dapatkan. Sementara lelah dan biaya pendakian tidak ada kompensasinya.

Karena itulah, pada tahun 2006, Green Community menggagas aktivitas lain. Saat melakukan pendakian mereka juga meneliti satwa langka. Mereka memang punya ketertarikan di bidang yang sama. Maklum, dari 50 anggota, hampir seluruhnya memang  mahasiswa Biologi. “Kami sepakat Green Community menjadi pusat studi lingkungan,” kata Heri Widyatmoko, anggota yang duduk di Dewan Alumni.

Sejak saat itulah berbagai penelitian mulai mereka lakukan. Namun, sebagai organisasi baru, mereka kerap terkendala dana. Heri dan teman-teman kemudian berinisiatif menjual barang-barang bekas. “Kami tidak malu memunguti sampah plastik, botol air mineral, untuk kami jual. Hasilnya untuk mbiayai kegiatan,” kata Khairi Nurohman, anggota lainnya.

Meski begitu, dana masih kurang. Anggota akhirnya sepakat untuk urunan. Sebagian uang saku mereka disisihkan untuk membiayai kegiatan. Pada awal 2010 baru mereka mencari donor. “30 sampai 31 Desember kemarin kami bekerja sama dengan LSM di Kendal untuk menanam mangrove di Pantai Rowosari,” lanjut Nurohman.

Komunitas ini memang bersahaja. Kantor mereka di Ngijo pun sangat sederhana. Rumah kayu milik salah seorang warga mereka kontrak Rp 2,5 juta per tahun. “Ini juga kami jadikan tempat tinggal. Ada 6 orang yang tinggal di sini,” kata Nurohman. Maklum, sebagian besar anggota memang mahasiswa pendatang. Ada yang dari Banyumas, Cilcap, Pati hingga Rembang. Heri sendiri asalnya dari Jepara, sedangkan Nurohman asli Pekalongan.

Beruntung, pada Juli 2010, salah satu proposal penelitian mereka disetuji lembaga donor. Adalah Amphibi Spesies Group (ASG), sebuah LSM di Amerika yang menggelontorkan dana hiangga 2 ribu dolar untuk mereka. Maka, pada awal hingga akhir Agustus 2010, sebulan penuh mereka melakukan penelitian katak di Gunung Ungaran. Padahal, saat itu tepat bulan puasa.

Objek yang mereka amati adalah katak Philantus Jacobsoni. Konon, Jacobsoni adalah spesies katak endemik yang hanya ditemukan di Gunung Ungaran. “Terakhir, peneliti Belanda Van Kampean yang menemukan spesies ini pada tahun 1920an. Karena itu, satu-satunya spesimen katak itu kini ada di Belanda. LIPI juga belum punya,” lanjut Nurohman.

“Terakhir, peneliti Belanda Van Kampean yang menemukan spesies ini pada tahun 1920an. Karena itu, satu-satunya spesimen katak itu kini ada di Belanda. LIPI juga belum punya,”

Nurohman.

Penasaran dengan spesies langka itu, 5 anggota Green Community sebulan penuh melakukan penelitian di Gunung Ungaran. Ada empat lokasi yang mereka jadikan sampel, yakni di Banyuwindu, Watuondo, Bantir, dan Promasan. “Tapi saat itu kami juga dibantu 5 orang valounteer,” lanjutnya.

Mengambil data selama berminggu-minggu ternyata bukan pekerjaan mudah. Selain medan, mereka sering berjibaku dengan hujan. Medan terasa semakin berat karena saat itu mereka sedang berpuasa. “Kami bawa nasi, gereh, dan Sarden,” kata Heri.  “Kami buka dan sahur di hutan. Tempat sedaptnya,” timpal Nurohman.

Kebetulan, pada saat yang sama ada dua peneliti yang memburu katak itu. Herbeto Fauna Indonesia, sebuah pusat studi fauna dari Institut Pertanian Bogor  (IPB) jauh datang dari Bogor untuk memperoleh spesimen katak langka itu. Seorang peneliti LIPI juga sedang mencarinya. Akhirnya mereka berduet. “Kalau medan kami paham, tapi teknis penelitian mereka jauh lebih tahu. Jadi kami benar-benar terbantu,” kata Nurohman.

Mendekati deadline, mereka berhasil menangkap katak mungil yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. “Katak itu kami kirimkan ke LIPI. Tapi mereka bilang itu bukan Jacobsoni, tapi spesies Philantus aurifatus,” kata Nurohman. Ragu dengan pernyataan itu, mereka meminta LIPI melakukan tes DNA untuk menguji spesiesnya. “Sampai sekarang hasilnya belum keluar,” lanjutnya.

Heri berharap, dari berbagai penelitian yang dilakukan, anggota  Green Community bisa menjadi pakar di bidangnya. “Kami arahkan setiap anggota ahli dalam satu bidang, misalnya ahli kupu-kupu atau lainnya,” kata Heri. Ia sendiri berusaha menekuni kupu-kupu. Ia bahkan sudah berhasil mengembangkan satu spesies kupu-kupu langka. “Tapi kami belum bisa membuat penangkaran. Belum ada izin,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.