Grand Palace Bangkok, Istana yang Berduka

Kepergian Raja Thailand Bhumibul Adulyadev untuk selama-lamanya meninggalkan duka mendalam bagi rakyatnya. Jutaan rakyat Negeri Gajah Putih itu melepas sang raja dengan tak rela. Jasa sang raja demikian besar sehingga jutaan rakyat merasa berhutang banyak kepada raja. Ekspresi duka dapat ditemui di sepanjang kota.

Kita lihat di kota terbesar di Thailand, Bangkok, misalnya. Sebagai ibu kota, Bangkok adalah pusat kegiatan politik. Tetapi tidak seperti di Jakarta yang jalanannya dipenuhi oleh wajah para politisi, di jalanan Bangkok hanya ada foto Raja dan ratu. Itu sebuah konvensi yang menunjukkan bahwa warga Bangkok sangat menghormati rajanya.

Pada hari-hari biasa, sebagai istana raja Thailand Phra Borom Maha Ratcha Wang dibuka sebagai tempat wisata. Dari situlah wisatawan bisa membaca kehidupan di dalam istana. Raja menjadi figur sentral yang kemuliannya dijaga hampir sama dengan cara warga menjaga kemuliaan Budha. Hiasan-hiasan istana hampir selalu merujuk pada penghormatan terhadap raja dan Budha.

Saat Raja Bhumibol Adulyadej meninggal pada 13 Oktober lalu, tidak kurang dari 80 ribu warga berkumpul di istana. Mereka menangis seperti kehilangan kekasih yang paling dicintai. Tidak semua warga yang ke istana berasal dari Bangkok. Sebagian berasal dari daerah dan harus berkendara selema 3 sampai 7 jam. Pengorbanan itu tak mereka hiraukan karena mereka merasa jasa raja jauh lebih besar.

Jenazah Raja disemayamkan di Kuil Emerald atau Wat Phra Kaew. Bagi warga Thailand, ini merupakan salah satu kuil terpenting. Dalam kuil inilah terdapat patung Budha yang sangat dihormati. Patung budha dipahat dengan begitu rapi, dengan keahlian tingkat tinggi, dari bahan batu giok. Ketika saya mengunjunginya pada 2013, petugas melarang pengunjung mengambil foto patung budha. Larangan ini agaknya dimaksudkan untuk menjaga kekhusu’an warga yang beribadah, juga menjaga agar patung Budha yang berbahan giok itu tidak mengalami kerusakan akibat lampu blitz dari kamera.

Tidak hanya dilarang memotret, pengelola juga tidak mengizinkan pengunjung mendekati patung Buddha. Hanya raja yang boleh. Untuk menjaga patung ini, petugas istana bersikap ketat. Mereka mengenakan jubah musiman, diganti tiga kali setahun sesuai dengan musim dingin, musim panas, dan musim hujan untuk membalut sang patung. Sebuah ritual yang sangat penting, pergantian jubah dilakukan hanya oleh Raja untuk membawa nasib baik untuk negara selama setiap musim.

Sempat Berpindah

Grand Palace dibangun pada 1782.  Selama 150 tahun Grand Palace merupakan rumah dari Raja Thailand, pengadilan Royal dan kantor administrasi pemerintahan. Istana ini dikenal luas dan menjadi tempat wajib dikunjungi oleh wisatawan karena anggun dan megah. Arsitektur yang indah dan detailnya yang rumit, yang semuanya memberikan rasa hormat dan bangga akan kreativitas dan keahlian dari orang Thailand.

Dalam sejarah kerajaan Siam tercatat, kerajaan ini pernah menggunakan Ayutthaya sebagai ibu kota. Namun kota itu diserang oleh Kerajaan Burma sehingga ibu kota dipindah ke Bangkok. Di Bangkok, Raja membangun Grand Palace sebagai ganti istana sebelumnya. Karena sebagai ganti, desainnya dibuat mirip dengan istana sebelumnya, namun dengan teknik dan seni yang lebih hebat.

Jika ditarik lebih ke belakang, perpindahan istana ini terkait dengan konstelasi politik kerajaan itu. Banyak yang meyakini, leluhur kerajaan Thailand adalah kerajaan kecil bernama Ayuthaya yang didirikan pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong). Ayyuthaya berdiri setelah pemimpinnya berhasil mengalahkan dinasti Kerajaan Sukhothai pada tahun 1376.

Kerajaan ini berkembang pesat dan melakukan banyak kerja sama perdagangan dengan kerajaan di Asia lain, seperti Tiongkok dan Jepang. Namun pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh dua pasukan besar Burma, yang kemudian bersatu di Ayutthaya. Ayutthaya akhirnya menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang berlarut-larut.

Kondisi itulah yang memaksa Jenderal Taksin berpindah ke Thonburi (sekarang bagian dari Bangkok) dan mendirikan istana baru.  Di istana baru ini ia menyatukan bekas kerajaan Ayutthaya. Pergolakan politik internal istana kemudian membuat Jenderal Taksin tersingkirkan, bahkan akhirnya dieksekusi pada tahun 1782. Ia digantikan oleh Jenderal Chakri, yang menjadi raja pertama dinasti Chakri dengan nama Rama II. Tahun yang sama dia mendirikan ibukota baru di Bangkok, di seberang sungai Chao Phraya. Istana inilah yang berdiri hingga kini dan dikenal sebagai Grand Palace.

Selama berabad-abad, kerajaan ini diberi nama Siam. Nama Thailand sendiri baru diperkenalkan sejak 1938 sebagai buntut dari kudeta tahun 1932 yang mengubah kerajaan Siam yang monrakhi absolut menjadi kerajaan monarkhi konstitusional. Kata “Thai” berarti kebebasan, namun bisa juga merujuk pada suku minroitas di kerajaan itu, yaitu suku Thai. Dengan demikian, nama Thailand, kurang lebih berarti tanah kebebasan atau tanah air suku Thai.

Memelihara Sungai

Pilihan pemimpin Siam untuk membangun istana di dekat sungai Chao Praya tidak hanya didasarkan pada pertimbangan ekologis. Bangsa Thai sangat percaya dan menghormati sungai itu. Ekspresi cinta terhadap sungai adalah bagian dari usaha mengamalkan ajaran Budha.  Chao Praya adalah sungai terbesar yang membelah Bangkok.

Sungai ini dihuni banyak ikan patin. Ukurannya cukup besar, dari seukuran lengan hingga seukuran betis orang dewasa. Meski patin adalah jenis ikan konsumsi, warga setempat tak ada yang menangkap apalagi mengonsumsinya. Mereka percaya, ikan-ikan ini adalah milik dewa yang ditugasi menjaga sungai. Alih-alih menangkap, warga justru dianjurkan untuk memelihara dan memberi makan ikan-ikan ini.

Bagi warga Bangkok, Chao Praya tak sekadar sungai. Chao Praya adalah berkah dari dewa untuk mereka. Sungai ini menjanjikan penghidupan sekaligus kehidupan spiritual. Seperti warga Hindu di India mempersepsi Gangga sebagai sungai suci, warga Bangkok memperlakukan Chao Praya sebagai titipan dewa.

Chao Praya mengular lebih dari sepanjang 372 kilometer, mengalir dari Sungai Ping hingga Teluk Thailand. Harus diakui, secara fisik sungai ini mulai kotor. Air mulai kekuning-kuningan akibat endapan aluvial yang pekat. Selain itu, Chao Praya tak luput dari ekspolitasi ekonomi. Para pengusaha kuliner menjadikan Chao Praya sebagai restoran terapung. Biasanya, restoran mulai buka menjelang petang. Makanan yang lezat dicampur dengan pemandangan khas malam yang berkilauan.

Pelesir mengarungi Chao Phraya tak hanya bisa dilakukan perahu. Lebar sungai yang lebih dari 300 meter memungkinkan kapal pesiar lewat. Jika hendak menggunakan perahu kayu yang bisa mengangkut sekitar 40 penumpang, tarif carternya sebesar 1.000 baht atau sekitar Rp 300.000 selama dua jam.

Sementara, tarif penumpang kapal pesiar yang lebih nyaman, termasuk makan malam dan perjalanan sekitar 1,5 jam, sebesar 1.200 baht atau Rp 360.000 per orang. Siapa pun yang singgah, agaknya akan terkesima menikmati pemandangan Chao Phraya yang jika diterjemahkan bebas, berarti “sungai para raja itu”. Rahmat

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.