Grace Susanto, Tak Lelah Nguri-uri Budaya Jawa

BERPROFESI sebagai dokter gigi tak menghalangi langkah Grace Susanto berkecimpung di bidang kebudayaan. Karena itu, banyak sebutan yang bisa disematkan padanya. Selain kerap disebut pemerhati budaya, pegiat seni, ia juga pengusaha.

Istri Guru Besar Undip Prof Dr dr J Hardhono Susanto PAK(K) ini merasa prihatin pada Indonesia. Pasalnya, bangsa yang begitu besar justru seakan kehilangan identitas. Kalau negara-negara luar bisa bangga dengan kebudayaan mereka, kenapa bangsa ini tidak.

Suara batin itulah yang ia dengar ketika bersama keluarga ia melakukan perjalanan hampir ke semua benua. Suatu kali, Grace Susanto bepergian ke New Zealand. Ia melihat sebuah lempengan raksasa dengan penunjuk arah. Bila diputar, penunjuk arah itu mengarah ke tempat-tempat bersejarah di negeri itu.

“Anak saya bilang, masih kalah bagus dengan pemandangan Gombel. Ini berarti apa, mereka pandai menjual harusnya kita bisa lebih dari itu karena pesona alam dan khasanah budaya yang sedemikian  beragam,” ujar ibu dari Anindya Pradipta (25) dan Adhyatmika Ardhanaputra (23).

Kecintaan akan budaya tradisional beranjak setelah Grace Susanto mendirikan Klub Merby, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang didirikan pada 7 September 1989. Lembaga ini dikonsentrasikan sebagai sarana pelatihan anak-anak, mengembangkan seni, kreativitas dan ilmu pengetahuan.

Di lembaga yang semula berada di Toko Buku Merbabu Jl Pandanaran 108 ini, hasrat  pengurus Yayasan Naluri Budaya Jateng itu tersalurkan.

Dia pun berprinsip dimana bumi dipijak, maka disitu langit dijunjung. Salah satu wujud niat pelestarian budaya Jawa itu antara lain dengan merintis dan mempertahankan seni dan budaya lokal. Di kampus Merby yang berada di Jalan Mataram 653 (Bangkong), gedung tiga lantai dengan 27 ruang kelas itu menjadi pusat berlatih, berkreasi dan berolah seni pada satu tempat (one stop course).

Dilengkapi galeri, arena bermain, ruang pamer, kantin, resto, Merby Unique (M-Unique) sebagai pusat souvenir , Merby Kedai (M-Kedai) juga menyediakan makanan, minuman, jajanan, sampai jamu traditional.

Sementara itu, Merby Study (M-study) yang menyediakan semua perlengkapan siswa-siswi Merby Club (M-Club). Terletak dipusat kota, dengan bernuansa alami dan tradisional Jawa Tengah, ia mengajarkan budaya tradisional dari hal-hal sederhana.

Semisal tiap murid diajarkan untuk menghapal hari pasaran. Komunikasi sehari-hari digunakan bahasa Jawa. Itu pun juga berlaku antara ia dan karyawannya.

“Saya biasakan ngobrol dengan karyawan, ataupun murid disini menggunakan bahasa Jawa. Kalau ada yang tidak mau berbahasa Jawa, saya tidak akan membalasnya,” seloroh Grace Susanto, penemu terapi gusi yang kini sudah dipatenkan.

Di sela-sela kesibukannya sebagai dokter gigi, Grace Susanto yang memiliki tempat penitipan anak bernama Child Day Care House di Jl Pandanaran 2 No 2D itu berupaya menghidupkan budaya khas Semarang.  Ada sembilan ikon  budaya dan kerajinan khas coba diangkatnya, lewat Merby Unique (M-Unique) Souvenir Kiosk.

Di sana pengunjung bisa menemukan replika tugu muda, relief lunpia, t-shirt bergambarkan kebiasaan orang Semarang atau permainan tradisional, dan berbagai macam simbol Semarang yang dibuat  dari limbah kayu.

Kebangkitan Kampung Batik juga tidak terlepas dari sentuhan dinginnya  bersama Sinto Sukawi, yang saat itu masih sebagai istri wali kota. Selain mengangkat cenderamata dari pelbagai daerah, Grace Susanto juga memberi ruang bagi seniman untuk berekspresi dan memajang karyanya untuk dijual pada pengunjung Klub Merby.

Semua kiprah ini ia lakukan secara mandiri. Tidak mengharap ‘iba’, Grace Susanto berusaha mematahkan anggapan tidak hanya orang pribumi saja yang bisa nguri-uri budaya Jawa, melainkan warga keturunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.