Generalisasi, Teknik Lama yang Berguna Kembali

Di kelas bahasa Indonesia, generalisasi yang terlalu luas dikategorikan sebagai kesalahan berpikir (logical fallacy). Kesalahan jenis ini terjadi karena ketidakseimbangan sampel dengan populasi yang diwakilinya.

Label “kesalahan” sebenarnya tidak terlalu tepat. Label itu membuatnya tampak seperti sebuah ketidaksengajaan. Sebab, dalam praktik komunikasi, generalisasi lebih sering dipakai sebagai retorika. Dia adalah teknik ungkap yang didesain khusus untuk tujuan tutur tertentu.

Salah satu manfaat generalisasi adalah membuat sebuah klaim lebih kuat meski didukung bukti (proof) yang tidak memadai. Di arena politik, terutama dalam perdebatan, teknik ini berguna memanipulasi pikiran lawan dan penonton agar menyetujui argumentasinya.

Tapi belakangan, teknik itu juga digunakan media untuk mendesakkan pesan politik tertentu. Dengan membuat generalisasi, media berusaha “memaksa” pembaca agar sesuatu yang kecil dan spesifik seolah-oleh mewakili sesuatu yang lebih besar dan umum.

Sebagai teknik retorika, generalisasi bisa diciptakan dengan menukarkan kata khusus dan umum. Dua objek yang sejatinya berbeda akan tampak sama ketika dipertukaran seolah-oleh sebagai sinonim. Pendengar atau pembaca (yang tak cermat) akan terkecoh oleh pertukaran yang tampaknya alami itu.

Meski teknik lama, teknik manipulasi pikiran semacam ini masih berdampak efektif. Ini dapat terjadi karena dua hal. Pertama, pembaca tidak melihat teknik ini sebagai sebuah kesengajaan, melihatnya sebagai sesuatu yang normal. Kedua, sentimentalisme kelompok, kecenderungan mengabaikan kebenaran faktual akibat fanatisme pada pihak tertentu.

Kompas.com menggunakan taktik ini saat menerbitkan berita berjudul “Pendukung Anies Baswedan Minta UU Penghapusan Diskriminasi Etnis dan Ras Dihapus”.

Frasa “Pendukung Anies Baswedan” adalah pernyataan umum yang bermakna luas. Tapi frasa itu digunakan untuk menggantikan subjek tunggal, yaitu Sam Aliano, seolah-oleh satu orang itu merepresentasikan keseluruhan populasi.

Apa motif media ini menggeneralisasi? Itu patut diselidiki lebih mendalam.

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *