Gawai: Mengakrabi Manfaatnya, Menjauhi Mudharatnya

Ada ungkapan berbahasa Inggris yang berbunyi “man behind the gun”. Ungkapan itu kerap digunakan untuk menjelaskan bahwa fungsi sebuah alat bergantung pada siapa penggunanya. Pistol adalah senjata yang dapat digunakan untuk kejahatan namun bisa juga digunakan untuk mengamankan diri. Tergantung siapa “man” atau “woman” yang memilikinya.

Setiap benda memang memiliki dua sisi seperti mata uang. Ada sisi positif dan negatfinya. Ada manfaat, ada pula mudharatnya. Begitu pula teknologi digital yang massif digunakan masyarakat sekarang ini. Jika digunakan oleh orang yang tepat dengan cara yang tepat, beribu manfaat bisa didapat. Sebaliknya, jika digunakan dengan cara yang tidak tepat, justru benda yang diperoleh.

Di abad informasi, teknologi digital memang jadi sebuah keniscayaan. Kehadirannya dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Pengguna smartphone di Indonesia memiliki karakteristik hampir sama dengan India dan Australia, yakni “social driven”. Di ketiga negara, smartphone dimnafaatan lebih banyak untuk aktivitas media sosial di peringkat pertama dan chat di peringkat kedua.

Meski demikian, kabar penyalahgunaan teknologi digital justru semakin sering terdengar. Tersebarnya foto atau video pribadi hanya salah satu dari sekian banyak penyalahgunaan itu. penggunakan teknologi pintar juga dipersepsi dapat merenggangkan hubungan personal dua orang. Hal itu dapat diamati dari kecenderungan di berbagai komunitas, baik di ruang privat seperti rumah atau ruang publik seperti stasiun. Orang-orang lebih asyik menggunakan smartphone daripada saling berbincang satu sama lain.

Penyebabnya tentu saja beragam, namun “man” atau penggunanya lah yang menentukan. Pendidikan dan pengetahuan si pengguna adalah faktor yang paling dominan. Jika mau diuraikan lagi, ada berbagai kemungkinan variabel yang mempengaruhi. Selain pendidikan, generasi juga mempengaruhi. Dalam kaitanya dengan teknologi digital, para sosiolog mengategorikan dua tipe, yaitu digital native dan digital immigrant.

Sebutan pertama merujuk pada generasi muda yang lahir dan dibesarkan setelah teknologi digital marak. Teknologi turut membesarkan mereka, mempengaruhi kepribadian, dan senantiasa ada dalam aktivitas mereka. Adapun kelompok kedua ditujukan pada orang yang lahir jauh sebelum teknologi digital diperkenalkan. Mereka adalah generasi analog, generasi yang masih terheran-heran dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat.

Jika teknologi memang sesuatu yang sulit dihindari, maka kita perlu memanfaatkannya untuk kebaikan. Sebisa mungkin teknologi digunakan untuk keperluan yang jelas. Ambil manfaatnya dan hindari sebisa mungkin mudharatnya. Gunakan teknologi seperlunya, hindari penggunaan teknologi yang sia-sia.

Agar bisa bersikap demikian, seseorang tentu harus memiliki seperangkat pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu, diperlukan tindakan edukasi yang memadai. Edukasi diperlukan terutama oleh anak-anak yang kini tumbuh pada fase coba-coba. Mereka perlu mendapat pemahaman yang cukup bahwa penggunaan teknologi digital ada risikonya.

Pada saat sama, akses anak terhadap manfaat teknologi justru perlu dibuka. Biarkan anak-anak bergaul dengan teknologi untuk kegiatan yang memiliki nilai guna. Toh, teknologi menawarkan manfaat yang tidak terhitung besarnya. Teknologi menunjang keperluan individu, keperluan bisnis, bahkan keperluan akademik. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan berbagai manfaat itu. siapa tahu, mereka justru memiliki minat yang besar untuk menjadi pengembang teknologi generasi selanjutnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.