Front Nahdliyin Serukan Boikot Acara “Cerita dari Blora”

Acara kebudayaan bertajuk “Cerita dari Blora” diboikot oleh Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Sikap itu diambil FNKSDA karena acara tersebut disponsori oleh Semen Indonesia.

Tidak hanya memboikot acara tersebut, FNKSDA juga menghimbau masyarakat untuk juga mempertimbangkan memboikot acara tersebut.

Komite Nasional Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Muhammad Al-Fayyadl mengungkapkan tiga alasan pemboikotan.

Pertama, Karya-karya Pramoedya Anantar Toer, yang salah satunya menjadi inspirasi tajuk acara ini dianggap sebagai manifestasi perjuangan revolusioner melawan penindasan manusia atas manusia dan penindasan-penghisapan manusia atas.

Kedua, pemilihan tajuk acara yang memiliki kesamaan dengan salah satu karya Pramoedya, menurutnya, adalah usaha untuk membajak Pramoedya dan karya-karyanya oleh pihak-pihak yang tak memiliki sensitivitas terhadap proses penindasan-penghisapan.

“Hal ini dapat kami jelaskan melalui keterlibatan PT Semen Indonesia (SI) sebagai salah satu sponsor acara kebudayaan “Cerita dari Blora,” katanya.

Menurut Fayadl, PT SI adalah instrumen penindas-penghisap terhadap petani di Jawa Tengah melalui ekspansi tambang dan pabrik mereka di Rembang dan rencana ekspansi berikutnya di Pati.

Pembangunan pabrik semen di Blora sudah lama menjadi objek penolakan gerakan petani Rembang dan berbagai kelompok petani dari Pati dan Blora karena ekspansi PT SI akan merusak kehidupan para petani Rembang.

“Kasus yang menimpa petani Rembang ini, hanyalah salah satu dari ratusan kasus perampasan atau perusakan ruang hidup rakyat yang saat ini terjadi masif di Indonesia. Karena itu, solidaritas yang lebih luas dari seluruh gerakan rakyat dalam memboikot acara yang kami sebutkan di atas, sangatlah masuk akal untuk diharapkan,” terangnya.

Ketiga, dari komunikasi personal yang dilakukan aktivis FNKSDA lakukan dengan salah seorang nama yang tercantum dalam poster acara kebudayaan “Cerita dari Blora”, pihaknya menemukan adanya ketidakterbukaan informasi dari panitia terhadap pengisi acara tentang keterlibatan PT Semen Indonesia.

“Bagi kami, acara-acara semacam ini haruslah sepenuhnya dengan sikap saling menghargai, bukan hanya dalam hal bagaimana sebuah keputusan dilaksanakan, namun juga dalam hal bagaimana sebuah keputusan diproduksi,” lanjutnya dalam press rilis yang diterima PORTALSEMARANG.COM.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.