Fokus Lain Pendidikan Karakter

Oleh Seftia Kusumawardani

Sejak era Muhadjir Effendy hingga menteri muda Nadiem Makarim, pendidikan karakter menjadi prioritas utama dalam pendidikan. Karakter sangat dieluh-eluhkan oleh semua pihak. Revolusi karakter bangsa sudah dilakukan sejak lama. Namun hasilnya belum sesuai cita-cita.

Perbaikan-perbaikan terus dilakukan dalam sistem pendidikan guna pembentukan karakter siswa. Sayangnya karakter guru sebagai pionir dalam pendidikan justru terlupakan. Kasus-kasus kriminal yang melibatkan oknum guru seharusnya menjadi refleksi pemerintah, apakah guru-guru yang berperan dalam membentuk karakter siswa sudah berkarakter?

Stigma bahwa guru merupakan manusia yang berkarakter mulia nampaknya membuat pemerintah mempercayakan sepenuhnya pembentukan karakter siswa di sekolah kepada guru. Namun, sampai saat ini masih ditemui oknum guru yang bertindak menyimpang dari nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi bangsa. Kasus pencabulan guru terhadap siswa misalnya, selalu menjadi topik hangat pembicaraan setiap tahun. Melihat kondisi tersebut, tentu tidak salah bila pendidikan karakter di Indonesia saat ini belum berjalan maksimal.

Pemerintah telah berupaya untuk melakukan revolusi karakter bangsa melalui penyelenggaraan program pendidikan karakter. Penguatan pendidikan karakter atau PPK menjadi program utama dalam melakukan pembenahan karakter bangsa. Dikutip dari kemendikbud.go.id Penguatan Pendidikan Karakter merupakan  gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, dan olah pikir. Berdasarkan pengertian tersebut, jelas sekali bahwa prioritas utamanya adalah membangun karakter siswa. Lantas, bagaimana dengan karakter guru?

Pendidikan karakter saat ini terpaku pada pembangunan siswa berkarakter yang diharapkan dapat membawa perubahan bagi peradaban bangsa. Jika pendidikan karakter bertujuan untuk merevolusi karakter, kurang pas bila hanya difokuskan pada pembentukan karakter siswa saja. Dalam KBBI, revolusi merupakan perubahan yang mendasar dalam suatu bidang. Kata perubahan di sini hendaknya dipahami sebagai perubahan secara keseluruhan terhadap semua pihak. Tidak terkecuali karakter pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan, salah satunya karakter guru.

Karakter guru sangat penting dalam menyukseskan pendidikan karakter. Hal itu dikarenakan guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Selaras dengan ungkapan Nadiem Makarim dalam acara Konferensi Pendidikan Indonesia di Jakarta (30/11/2019), bahwa pengajaran karakter yang benar adalah dengan langsung menunjukan tingkah laku atau menjadi role model. Sehingga keteladan merupakan pendekatan yang utama dalam pendidikan karakter.

Guru harus memahami dan mampu mengimplementasikan setiap nilai karakter dalam kehidupan. Guru tidak boleh menjadi orang yang pandai menasehati, tapi nol dalam implementasi. Guru harus menjadi role model  yang baik. Oleh sebab itu, nilai-nilai karakter harus ditumbuhkan dalam diri guru.

Salah satu peran guru dalam penguatan pendidikan karakter adalah sebagai penjaga gawang. Penjaga gawang memiliki arti bahwa seorang guru harus membantu siswa menyaring pengaruh negatif yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Peran penjaga gawang tidak dapat dilakukan jika guru tidak mengetahui mana nilai yang baik mana nilai yang tidak baik. Pemahaman mengenai nilai-nilai hanya dapat dilakukan oleh guru yang berkarakter.

Melihat pada pentingnya guru berkarakter, seharusnya pembentukan karakter tidak hanya difokuskan pada mencetak siswa berkarakter, tetapi juga difokuskan pada membangun karakter pada guru. Upaya-upaya perbaikan seharusnya bukan hanya ditujukan pada siswa sebagai generasi penerus bangsa, namun juga ditujukan pada guru sebagai tumpuan kemajuan bangsa.

Di Indonesia, pembentukan karakter  pada guru sebenarnya sudah dilakukan. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai penghasil calon guru, telah berupaya untuk membekali lulusannya dengan nilai-nilai karakter. Salah satunya dengan pemberian mata kuliah pendidikan karakter bagi calon guru. Namun, sangat disayangkan pembentukan karakter mahasiswa calon guru hanya terpusat pada pembekalan teori. Perlu adanya perbaikan terutama dalam membudayakan nilai-nilai karakter pada mahasiswa calon guru.

Selain itu, pengadaan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) juga merupakan upaya agar guru memiliki kompetensi profesional serta berkarakter. Namun, adanya program PPG juga belum sepenuhnya berhasil membangun karakter dalam diri guru. Hal tersebut dikarenakan, Pendidikan Profesi Guru seolah hanya dijadikan ajang untuk memperoleh sertifikasi.

Pada dasarnya yang terpenting dalam membangun karakter guru adalah menumbuhkan kesadaran guru tentang pentingnya nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi bangsa. Guru berkarakter tidak dapat terbentuk secara instan. Uhar (2013) menyatakan bahwa, guru berkarakter sesungguhnya  bukanlah sesuatu yang bersifat to be or not to be, melainkan a process of becoming. Guru berkarakter bukan soal ada atau tidakanya, melainkan suatu proses menjadi.

Dalam konteks ini, menjadi guru berkarakter merupakan sebuah proses. Dengan demikian, guru berkarakter adalah guru yang selalu belajar menjadi lebih baik setiap saat. Terus menerus meninjau arah hidup dan kehidupannya. Memahami setiap kesalahan yang dilakukan, kemudian melakukan perbaikan. Guru berkarakter menuntut belajar yang berkesinambungan.

Guru berkarakter merupakan unsur penting dalam membentuk siswa yang berkarakter. Upaya-upaya untuk merevolusi karakter bangsa tidak hanya berfokus pada penanaman nilai-nilai karakter dalam diri siswa, melainkan juga difokuskan pada karakter guru sebagai pemeran utama pendidikan. Jika karakter guru diabaikan, maka pendidikan karakter di sekolah tidak akan membuahkan hasil. Lagi-lagi kualitas guru menjadi permasalahan yang harus segera diselesaikan.

Perbaikan terhadap Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) memang harus dilakukan agar dapat menghasilkan guru profesional dan berkarakter. Namun, hal tersebut tentu membutuhkan waktu lama. Pembentukan dan perbaikan terhadap karakter guru sebenarnya dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadar dalam diri guru untuk terus menerus belajar dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Guru harus menyadari bahwa profesi guru sebagai suatu kesadaran akan panggilan hidup. Sehingga karakter dapat tumbuh dan bersarang dalam diri guru, yang kemudian akan membawa keberhasilan dalam revolusi karakter bangsa.

 

[Seftia Kusumawardani]

Artikel opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa mata kuliah Jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.