Foe Jose Amadeus Khrisna, Dalang Muda Peraih Gelar Dalang Ngabehi dari Keraton Solo

Foe Jose Amadeus Khrisna merasa lega begitu selesai mementaskan wayang kulit purwa dengan lakon Wiratha Parwa pada 30 Agustus 2014. Pasalnya, lakon yang bercerita tentang penyamaran Pandawa setelah sebelumnya harus mengasingkan diri ke tengah hutan selama 12 tahun itu baru pertama kali dipentaskan dalang muda kelahiran Semarang, 16 tahun lalu ini.

Memulai pertunjukan pada pukul 16.00, dalam acara Wayang of World (WOW) dengan tema Negeri Wayang Indonesia Goes to Malldi Java Mall, Semarang, Jose – begitu dia kerap disapa, tampak dengan lincah memainkan wayang kulit purwa selama 45 menit pertunjukan.

Kepiawaian Jose memainkan wayang agaknya tak perlu diragukan lagi. Sebab, sejak usia tiga tahun anak tunggal dari pasangan Tirto Adjie dan Mayningrum ini sudah menyukai wayang. Setiap malam Minggu, selama dua tahun, Jose kecil tak pernah ketinggalan menonton acara wayang di Indosiar.

Perhatian yang besar pada seni dan budaya Indonesia, khususnya wayang, mendorongnya untuk mengambil kursus dalang. FX Rudjito dari Perkumpulan Seni Budaya kemudian menjadi gurunya, yang dengan tekun membimbingnya di Gedung Cagar Budaya Sobokartti, Semarang. ”Saya mendalang karena keinginan saya sendiri,” ungkap Jose.

Awalnya sang ayah sempat khawatir atas keinginan Jose untuk menjadi dalang.  Tirto Adjie takut kegiatan itu akan mengganggu sekolah putra tunggalnya itu.  “Tapi, dia ternyata sangat berprestasi. Walau kerap pentas, lima kali ikut roadshow di Semarang,  ikut festival wayang di Solo dan Bali, nilai mata pelajarannya di sekolah tetap tinggi. Rata-rata dia mendapat nilai 8,” cerita Tirto Adjie bersemangat. Juli 2013, Jose malah mendapat gelar Dalang Ngabehi dari Keraton Solo.

Berbagai acara dan festival wayang lokal serta regional telah dia ikuti. Jose pun sudah ikut mendalang pada Puppetry Festival, festival wayang level internasional bersama Rumah Topeng Setia Dharma, Bali, September 2013 di Bali. Bahkan November 2014, Jose akan ke Negeri Gajah Putih, Thailand untuk mengikuti festival wayang yang diikuti 150 negara.

Dan, kegiatan Jose mendalang selama ini ternyata sama sekali tidak mengganggu kegiatan belajarnya di SMA Karangturi, Semarang. “Kalau saya mendalang, sekolah malah memberikan fasilitas. Misalnya, saya diberi pelajaran tambahan,” ungkap Jose, yang kini duduk di kelas XI. “Kalau jadwal ulangan bentrok dengan acara mendalang, saya bisa ikut ulangan susulan,” dalang muda kelahiran Semarang, 21 November 1998, ini menambahkan.

Jose berharap Bakti BCA tertarik memberikannya beasiswa untuk meneruskan studi. Setelah tamat SMA, Jose ingin melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia, di Solo atau Yogyakarta, untuk mendalami ilmu seni, dalang khususnya. “Saya ingin menjadi dalang terkenal di tingkat nasional hingga kancah internasional, membawa nama baik Indonesia,” Jose menyebut obsesinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.