Reputasi Buruk Humor: Pandangan Plato, Alkitab, hingga Descartes

Ketika orang ditanya apa yang penting dalam hidup mereka, humor mungkin salah satunya. Laki-laki atau perempuan biasanya mencantumkan “memiliki selera humor” sebagai ciri-ciri yang mereka inginkan dari pasangan mereka. Bahkan ciri itu mungkin dicantumkan sebagai kriteria utama atau mendekati utama.
 
Karena humor adalah bagian yang berharga dalam hidup, para filsuf juga memperhatikannya. Karena itu humor menjadi bahan pembahasan.
 
Tetapi kajian tentang humor masih sangat terbatas. Sejak zaman kuno hingga abad 20, tidak banyak filsuf terkemuka yang mengulasnya. Kalaupun ada filsuf yang menulis tentang humor, paling pol hanya dalam bentuk esai. Hanya beberapa pemikir kurang terkenal seperti Frances Hutcheson dan James Battie yang banyak menuliskannya.
 
Bahkan, kata humor tidak digunakan secara jernih seperti saat ini sampai abad ke-18. Kebanyakan filsuf besar seperti Plato, Hobbes, dan Kant biasanya menyinggung tentang tawa atau humor hanya di beberapa paragraf dalam diskusi tentang topik lain.
 
Buku Laugther yang ditulis Henri Bergson tahun 1900 adalah buku pertama oleh seorang filsuf terkenal tentang humor. Antropologis Martian membandingkan jumlah tulisan filosofis tentang humor dengan topik lain seperti keadilan. Tulisan tentang humor jauh lebih sedikit. Oleh karena itu, ia mungkin menyimpulkan bahwa humor dapat ditinggalkan dari kehidupan tanpa membuat manusia merasa kehilangan.
 
Selain sedikitnya kajian, hal mengejutkan lain dari humor adalah bahwa kebanyakan filsuf memandang humor sebagai sesuatu yang negatif. Sejak zaman Yunani Kuno hingga abad 20, humor masih terfokus sebagai ejekan, tawa yang mencemooh, bukan sebagai komedi, bentuk kecerdasan, atau bercanda.
 
Plato, salah satu filsuf paling berpengaruh memandang tertawa sebagai emosi yang dapat mengurangi pengendalian diri dan pikiran rasional. Karna itulah, dalam buku Republik (388 SM) dia mengatakan bahwa wali negara sebaiknya menghindari tawa. “Biasanya ketika seseorang meninggalkan tawa dengan kekerasan, kondisinya memprovokasi reaksi keras.”
 
Yang terutama mengganggu Plato adalah bagian-bagian di Iliad dan Odyssey dimana Gunung Olympus dikatakan berdering dengan tawa para dewa. Dia memprotes bahwa “jika ada orang yang digambarkan ada manusia dikuasai oleh tawa, kita tidak boleh menerimanya, apalagi jika dewa.”
 
Penilaian lain yang ditunjukkan Plato adalah bahwa tawa adalah sesuatu yang jahat. Dalam Philebus (48–50), ia mengatakan bahwa menikmati komedi sebagai bentuk mencemooh. ‘Secara umum” katanya, “menganggap orang lain konyol (sehingga kita menertawakannya) adalah sebuah kejahatan.
 
Orang-orang yang tertawa memandang diri mereka lebih kaya, tampan, dan lebih saleh dari sesungguhnya. Ketika menertawakan orang lain, seseorang sedang menikmati sesuatu yang jahat, dan itu secara moral tidak layak dilakukan.
 
Dari sikapnya yang keberatan dengan dengan tawa inilah Plato berpendapat bahwa dalam kondisi ideal, tawa mestinya dikontrol dengan ketat. Ia memandang tertawa mestinya cukup menjadi tradisi di kalangan budak atau pekerja asing. Sementara orang-orang bebas, baik laki-laki maupun
 
Pemikira Yunani Kuno pasca-Plato juga memiliki pandangan negatif yang sama tentang humor dan komedi. Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles sependapat dengan Plato bahwa tertawa berarti mencemooh.
 
Dalam Rhetoric (2, 12), ia mengatakan bahwa menertawakan orang lain adalah ekspresi penghinaan. Dalam Etika Nicomachean (4, 8) dia memperingatkan bahwa “Kebanyakan orang menikmati hiburan dan bercanda lebih dari seharusnya … sebuah lelucon adalah semacam ejekan, dan pemberi hukum melarang beberapa jenis ejekan sehingga mungkin mereka seharusnya melarang beberapa jenis candaan.
 
Orang-orang Stoa, dengan penekanan mereka pada pengendalian diri, setuju dengan Plato bahwa tawa mengurangi kontrol diri. Epictetus – filsuf dari Stoa – (33) menasihati “Janganlah Anda tertawa keras, terlalu sering, atau tidak terkendali.” Para pengikutnya mengatakan bahwa Epictetus sendiri tidak pernah tertawa sama sekali.
 
Penilaian negatif para pemikir Yunano Kuno terhadap tawa dan humor mempengaruhi pemikir Kristen pada periode awal, dan kemudian juga mempengaruhi kultur Eropa. Sikap ini diperkuat oleh pernyataan negatif Alkitab tentang tawa dan humor yang menarasikan tawa sebagai ekspresi permusuhan.
 
Satu-satunya gambaran Alkitab menggambarkan Tuhan tertawa adalah dengan permusuhan:
Raja-raja di bumi bersiap-siap, dan para penguasa bersekongkol melawan Tuhan dan raja yang diurapi …. Tuhan yang duduk bertahta di surga menertawakan mereka untuk dicemooh; Lalu dia menegur mereka dalam kemarahan, dia mengancam mereka dalam murka-Nya (Mazmur 2: 2-5).
 
Para nabi dan rasul yang dikirim Tuhan kepada manusia juga menyatakan bahwa tawa adalah ekspresi permusuhan. Dalam kontes antara nabi Allah, Elia (dalam Islam, Ilyas?) dan 450 nabi Baal, misalnya, Elia menertawakan mereka karena ketidakberdayaan tuhan mereka, dan kemudian membunuh mereka (1 Raja-raja 18: 21-27). Dalam Alkitab, olok-olok begitu menyinggung sehingga pantas mendapat kematian, seperti ketika sekelompok anak menertawakan nabi Elisa karena kebotakannya.
 
Berdasarkan etika Yunani Kuno dan Alkitab, para pemimpin Kristen pada periode awal seperti Ambrose, Jerome, Basil, Ephraim, and John Chrysostom mengingatkan bahaya tertawa secara berlebihan. Hal yang terutama mereka kritik adalah tawa yang membuat orang hilang kendali.
 
Dalam Aturan Panjangnya, misalnya, Basil the Great menulis bahwa “Tawa parau dan goncangan tubuh yang tidak terkendali tidak menunjukkan adanya jiwa yang diatur dengan baik, atau martabat pribadi, atau penguasaan diri”.
 
Di lain kesempatan mereka menghubungkan tawa dengan kemalasan, hilangnya tanggung jawab, dan nafsu.
 
Dari situlah, tidak mengherankan kalu institusi gereja yang sangat menutamakan pengendalian diri juga cenderung melarang tawa. Salah satu perintah monastik paling awal, dari Pachom of Egypt, melarang bercanda (Adkin 1985, 151-152).
 
Aturan St. Benediktus, kode biara yang paling berpengaruh, menyarankan para bhikkhu untuk “lebih memilih moderasi dalam berbicara dan tidak berbicara bodoh, tidak ada yang bisa memancing tawa; Jangan mencintai tawa yang tidak beraturan atau riuh. “Dalam Tangga Kerendahan Hati Benediktus, Langkah Sepuluh adalah menahan diri untuk tidak tertawa, dan Langkah Sebelas merupakan peringatan untuk tidak bercanda (Gilhus 1997, 65).
 
Biara St. Columbanus Hibernus mengatur hukuman bagi orang yang tertawa saat memberi pelayanan: “Dia yang tersenyum dalam pelayanan … enam pukulan; Jika dia pecah dalam deru tawa, puasa spesial kecuali jika terjadi dengan ampun “(Resnick 1987, 95).
 
Penolakan Gereja di Eropa terhadap tawa dan canda berlanjut hingga abad pertengahan. Reformasi apa pun yang terjadi di sana tidak mengubah penilaian dasar merek terhadap humor.
 
Salah satu kutukan terkuat terhadap tawa dan huomro datang dari orang-orang puritan, yang menulis pertengkaran terhadap tawa dan komedi. Satu oleh William Prynne (1633) mendorong orang-orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang serius dan serius. Orang-orang Kristen tidak boleh “secara tidak sengaja tergelitik dengan kesia-siaan yang sembrono,” tulis Prynne, atau “menyerang dalam liputan yang berlebihan dalam pandangan publik tentang orang-orang yang tidak percaya diri.” Ketika orang-orang Puritan mulai memerintah Inggris pada pertengahan abad ke-17, mereka melarang komedi .
 
Kecenderungan memandang tawa secara negatif masih terpelihara hingga era filsafat modern. Argumentasi filosofis diperkuat oleh Thomas Hobbes dan René Descartes.
 
Hobbes menggambarkan manusia secara individualistik dan kompetitif. Karena manusia adalah makhluk kompeitif, manusia selalu waspada terhadap tanda-tanda dirinya akan menang atau kalah. Anggapan bahwa seseorang akan menang merupakan reprsentasi bahwa dirinya merasa baik. Anggapan merasa dirinya akan kalah adalah gambaran bahwa dirinya dalam kondisi buruk. Persepsi bahwa dirinya lebih unggul cenderung terbawa dalam tawa. Padahal itu berbahaya, karena akan membuatnya lengah dan justru mungkin akan kalah.
 
Penjelasan yang kurang lebih sama datang dari Descartes dalam Passion of The Soul. Dia mengatakan bahwa tawa adalah merupakan salah satu dari enam ekspresi dasar manusia, yaitu kagem, cinta, benci, nafsu, riang, dan sedih. Meskipun dia mengatakan bahwa ada sebab lain dari tawa, tapi dalam bab Of Partcular Passion dia menyebutkan bahwa tawa hanya sebagai ekspresi cemooh dan ejekan.
 
Catatan:
1. Diterjemahkan oleh Rahmat Petuguran, pemimpin redaksi PORTALSEMARANG.COM
2. Terjemahan bebas dari artikel di https://plato.stanford.edu/entries/humor/
3. Artikel ini adalah pembuka, akan dilanjutkan dengan ulasan yang lebih mendalam.
4. Sumber gambar: http://irfazain.blogspot.co.id
 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *