Evolusi Ujian Skripsi, dari “Ya Udah” Sampai “Selempang-Bunga-Boneka”

Halaman pernikahan yang tayang sepekan sekali di New York Time telah menjadi hasrat baru bagi calon pengantin di New York atau bahkan Amerika. Itu karena orang-orang di sana mempersepsi halaman pernikahan itu telah menjadi penanda kelas.

Orang-orang yang pernikahannya diliput di sana merasa begitu bangga karena merasa dirinya telah menjadi bagian dari segelintir masyarakat paling elit.

New York Time selektif untuk memilih pernikahan yang akan diulasnya di marriage page. Hanya pernikahan-pernikahan tertentu yang dapat muncul di halaman itu. Biasanya hanya pernikahan keluarga super kaya, pejabat tinggi, atau selebritas yang muncul di sana.

Bukan hanya keluarga yang jadi pertimbangan New York Time. Siapa kedua mempelai yang menikah dan keunikan acara pernikahan juga jadi pertimbangan mereka.

Kedua mempelai yang pernikahannya menghiasi NYT biasanya adalah lulusan Ivy League dengan Ivy League lain. Sang laki-laki adalah lulusan terbaik di angkatannya, dan perempuan adalah lulusan dengan pujian cum laude. Mempalai laki-laki kerap dideskripsikan sebagai “pengacara muda dengan kecerdikan istimewa”, sedangkan mempelai perempuan dipuji sebagai “dokter yang sangat peduli terhadap kemanusiaan”.

Intinya, NYT hendak menyampaikan bahwa pernikahan yang diulasnya adalah pernikahan yang sangat berkelas, idaman setiap orang, dan sempurna.

A post shared by Desi Aulia (@deesiaulia) on

 

Demi Publisitas

Kesan itulah yang membuat calon pengantin di New York memiliki ambisi membuat pernikahannya tampil di NYT. Dengan cara itu mereka bisa meneguhkan diri sebagai masyarakat kelas atas di kota dan negara itu.

Tetapi koran itu ogah mengulas pernikahan yang biasa-biasa saja. Harus ada keunikan, kebaruan, kemegahan yang membuat pernikahan itu memiliki nilai berita.

Ambisi untuk mendapat publisitas itulah yang mendorong anak-anak muda di Amerika rela menghabiskan begitu banyak uang untuk pernikahannya. Mereka rela tabungannya (atau tabungan orang tuanya?) terkuras asal pernikahannya masuk koran.

Akibatnya, pernikahan bukan lagi soal komitmen hidup bersama yang disahkan oleh gereja. Pernikahan adalah soal style, soal siapa yang lebih gengsi daripada lainnya.

Fokus pernikahan bukan lagi komitmen jangka panjang dua manusia yang ingin bahagia bersama, tapi jadi soal berapa harga gaunnya, siapa perancangnya, berapa harga berlian pada cincin kawinnya, siapa penyanyi yang diundang, siapa saja tamu yang datang, juga soal bagaimana orang-rang membicarakan pernikahan itu di media sosial.

Kecenderungan yang dipaparkan David Brooks dalam Bobos in Paradise (2001) itu tampaknya tidak hanya terjadi di Amerika. Karena Amerika adalah trensetter gaya hidup dunia, pernikahan semacam itu juga menular ke berbagai negara, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.

Bagi anak-anak muda urban saat ini, sakralitas pernikahan bukan pada ijab dan kabulnya. Anak-anak muda menjadikan pernikahan sebagai panggung, sesuatu yang harus memiliki dampak publisitas.

Maka, tidak heran kalau anak-anak muda sekarang tidak terlau bersemangat membahas filsafah berkeluarga, tetapi selalu punya energi melimpah memilih gedung, merancang gaun, mendesain cincin, mengundang penyanyi, dan memilih fotografer.

Dalam Distinction, sosiolog Perancis Pierre Bourdieu menganalisis bahwa pilihan konsumsi seseorang tidak lagi didasarkan pada nilai fungsionalnya. Dalam masyarakat yang memuja identitas, pertimbangan utama dalam memilih barang konsumsi terletak pada nilai identitasnya.

Pemburu Perhatian

Saya mengingat itu ketika seringkali disuguhi foto mahasiswa memakai selempang, membawa bunga, boneka, dan sebuah background bertulisakan happy graduation ketika mereka baru ujian skripsi.

Dulu ujian skripsi terasa biasa saja. Sebuah ritus akademik yang harus dilakoni, ujian skripsi adalah soal mempertanggungjawabkan hasil penelitian. Sesudah itu, ya sudah, hidup akan berlanjut seperti biasa. Bahwa ada ucapan selamat dari beberapa rekan, itu diterima sebagai bentuk dukungan.

Entah sejak kapan, ujian skripsi mempersyaratkan adanya kue dan jajanan bagi penguji. Tradisi kuno ini masih ada di sejumlah perguruan tinggi. Mahasiswa harus memesan kue paling enak (yang dia sendiri mungkin belum pernah memakannya) untuk tiga penguji (yang belum tentu datang semua).

Padahal ujian skripsi adalah acara akademik yang diselenggarakan perguruan tinggi (melalui fakultas, jurusan, atau prodi). Kelengkapan dalam acara itu mestinya harus disiapkan universitas. Idealnya, mahasiswa fokus  mempertanggungjawabkan penelitiannya secara akademik.

Membawa kue sekarang tidak lagi keren karena sudah jadi kelaziman. Maka muncullah tradisi-tradisi baru. Ada yang   (oleh atau melalaui teman-temannya) memesan selempang bertuliskan namanya dan gelar akademik yang akan diperolehnya.

Sebenarnya, mahasiswa yang baru ujian skripsi belum berhak memakai gelar akademik. Bahkan meskipun dia dinyatakan lulus tanpa revisi, gelar itu baru diterimanya sejak ijazahnya keluar. Tapi mahasiswa sekarang mungkin punya gagasan lain: revisi dan ijazah urusan nanti, yang penting bergaya dulu.

Bukan hanya selempang. Sudah lazim sekarang ini, mahasiswa yang usai ujian skripsi juga mendandani diri dengan bunga dan boneka. Seperti masih kurang, kadang ada juga yang melengkapi diri dengan huruf-huruf besar berbahan balon yang disusun sesuai gelar akademiknya.

Kalau itu tidak cukup, mereka membuat semacam tempat foto dengan latar belakang bertuliskan: Happy Graduation.

Tidak penting untuk mencari tahu sejak kapan tradisi semacam itu dimulai. Tetapi gejalanya tapak serupa dengan berbagai perilaku aneh yang muncul menjelang dan usai pernikahan.

Baik calon pengantin maupun mahasiswa ujian skripsi membutuhkan sesuatu yang disebut publisitas. Mereka merasa perlu melakukan sesuatu yang unik agar perhatian orang lain bisa tertuju kepada mereka.

Tapi, bukankah tidak ada koran yang meliput mahasiswa ujian skripsi sebagaimana New York Time meliput pernikahan orang-orang kaya di Amerika?

Bagi anak-anak muda sekarang, publisitas itu tidak harus diraih lewat koran karena mereka sendiri memiliki korannya masing-masing: Instagram.

Dengan pola itu, kehobohan ujian skripsi sebenarnya berpengkal pada motivasi dirinya menjadi perhatian banyak orang. Motivasi itu yang menggerakkan mereka membelanjakan uangnya, bahkan mereka rela mengubah ritus akademiknya menjadi lelucon, mendandani dirinya seperti peserta karnaval.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *