Empat Karakter Bahasa Milenial

panduan memilih kampus

Sebagai dosen sehari-hari saya biasa ketemu, ngobrol, bergaul dengan mahasiswa. Kadang kami bisa komunikasi lancer, tapi kadang juga ada gap. Gap itu kayaknya terjadi karena usia saya dengan mereka beda. Walupun Cuma beda sepuluh tahun, tapi istilah, gaya, dan humornya kadang beda.

Nah, karena itu saya pelajari denga nagak serius, sebenarnya anak-anak muda zaman sekarang kayak gimana sih? Apa yang perlu dilakukan supaya bisa nyambung saat komunikasi dengan mereka.

Untuk itu, hari ini saya akan bahas tentang bahasa milenial. Apa sih kekhasan bahasa milenials? Terus, kita juga selidiki, factor sosial budaya seperti apa yang membentuk kekhasan berbahasa mereka?

 

Sebagai permulaan, kita perlu sepaakati dulu bahwa bahasa adalah produk massa dan masayarakatnya. Karena itu, sifat dan karakteristik bahasa sangat ditentukan oleh era dan penuturnya. Setiap era memiliki norma dan normal berbeda. Begitu pun tiap kelompok masyarakat, memiliki norma dan normal yang berbeda juga.

Dalam buku When Milenial Take Over, Jimmy Notter dan Maddie Grant berpendapat bahwa karakter milenial sangat dipengaruhi oleh situasi khas pada saat mereka lahir. Ada empat situasi yang dianggap punya peran membentuk watak generasi ini yaitu keberadaan internet sosial, keberlimpahan ekonomi, keanekaragaman, dan perhatian mendalam terhadap anak-anak.

Internet sosial bukan hanya mengubah secara teknis bagaimana orang berinteraksi, tetapi memunculkan nilai-nilai baru. Komunikasi dengan hierarki yang tegas diterabas karena komunikasi yang egaliter dan langsung dianggap lebih bernilai oleh milenial.

Secara ekonomi, milenial hidup pada era yang lebih berlimpah. Kebutuhan dasar bagi mereka relatif tercukupi sehingga kebutuhan sosial mendapat perhatian serius. Karena nutrisi tercukupi milenial punya modal kesehatan yang baik untuk berkembang.

Milenial juga hidup pada era yang dipenuhi keanekaragaman. Mereka hidup pada lingkungan yang plural sehingga lebih siap menerima perbedaan. Saat lahir dan tumbuh mereka tidak lagi menerima ajaran rasial. Bahkan sebaliknya, salah satu nilai dasar yang paling awal mereka terima adalah menghargai orang dengan latar belakang berbeda.

Perhatian melimpah kepada anak-anak juga telah membuat milenial tumbuh dengan karakter khas. Orang tua lebih peduli dan rela menghabiskan lebih banyak waktu dan biaya untuk mereka. Orang tua dan sekolah membangun komunikasi yang intensif untuk memastikan pendidikan mereka berjalan baik. Istilah “parenting”, “tumbuh kembang anak”, “investasi pendidikan” menjadi lebih sering dibahas.

Kondisi zaman yang khas itulah yang membuat milenial memiliki etos yang juga khas. Masih di buku yang zama, Jimmy Notter dan Maddie Grant menyebutkan ada empat sifat  khas generasi milenial, yaitu digital, terbuka, fleksibel, dan cepat. Empat etos itulah yang mendasari perilaku milenial di berbagai bidang, termasuk dalam bahasa.

Ciri pertama adalah digital.

Bahasa anak muda zaman sekarang lebih banyak dipengaruhi oleh interaksinya di media sosial dibandingkan dengan masyarakat yang terhubung dengannya secara fisik. Meskipun dialek daerah masih pengaruh, dialek platform juga membentuk karakteristik bahasa mereka.

Interaksi di dunia digital membuat anak-anak memperoleh kosakata yang lebih banyak di internet. Karena itu, platform dan kanal apa yang mereka akses akan sangat mempengaruhi karakteristik berbahasanya.

Anak Twitter punya istilah khusus yang beda dengan anak Isntagram. Anak game juga punya karakter bahasa yang beda dengan anak Youtube.

Begitu kuatnya karakter digital ini membuat saya yakin bahwa dialek berbasis platform ini sama pentingnya dengan dialek berbasis geografis dan kelas sosial.

Etos kedua milenial adalah terbuka.

Ciri kedua ini sangat berkaian dengan berkembangnya infrastruktur digital. Anak-anak zaman sekarang punya semua sarana untuk mengomunikasikan apa pun yang mereka lakukan, yang mereka pikirkan, yang mereka pengin.

Keberadaan media sosial bukan Cuma memungkinkan, tetai juga mendorong penggunanya selalu aktif dan update. Karena dengan cara itulah mereka mendapatkan apreisasi di dunia digital tempat mereka hidup.

Sifat terbuka ini membuat milenial memang cenderung ceriwis dan cerewet. Konsep penting dan menarik, public dan privat, cenderung tidak diindahkan. Mereka bisa mengungkapkan apa pun, meskipun itu nggak menarik dan penting. Mereka juga bisa dan biasa membawa urusan privat ke domain public.

Ciri ketiga adalah fleksibel.

Orang-orang zaman dulu cenderung ketat dalam aturan, mematuhi nilai-nilai tradisi, dan terikat oleh struktur sosial yang ketat.

Anak-anak milenial cenderung fleksibel merespons aturan-aturan itu. Mereka biasa hidup bergerak ke sana kemari. Untuk urusan idologi juga cenderung begitu. Untuk isu tertentu kadang liberal, untuk isu lain bisa moderat atau konservatif. Pagi liberal, siang moderat, malam konservatif juga biasa di sebagian besar anak-anak muda.

Sifat fleksibel itu berdampak juga dalam berbahasa. Salah satu contohnya, mereka cenderung tidak ketat dalam aturan. Kalau pas bisa dan menguntungkan ya ikut aturan, kalau pas susah ya nggak usah ikut aturan. Atau, kalau memungkinkan ya bikin aturan berbahasa sendiri. Kayak anak Jaksel itu lah kurang lebih.

Fleksibilitas dalam menyikapi aturan tradisional juga menciptakan dorongan berbahasa secara egaliter. Anak-anak zaman sekarang cenderung tidak nyaman dengan gaya bahasa feodalistik, birokratis, apalagi militeristik. Mereka cenderung berbahasa secara egaliter, karena bahasa seperti itulah yang cocok dengan semangat zaman generasi mereka.

Ciri terakhir adalah cepat.

Menurut penulis Amerika Nicolas Carr, kebiasaan orang memakai internet ternyata punya pengaruh terhadap cara kerja otak. Internet mengubah kemampuan memahami menjadi kemampuan mengetahui. Saya ulang ya: Internet mengubah kemampuan memahami menjadi kemampuan mengetahui.

Perubahan pada cara kerja otak itu terjadi karena internet menyediakan informasi dalam porsi yang amat melimpah. Jumlah informasi yang melimpah itu tidak mungkin direspons otak dengan menyimpannya di memori jangka Panjang. Karena akan susah.

Akibatnya, otak hanya akan menyimpan hal-hal yang bersifat di permukaan. Itupun dalam ingatan temporer yang relative singkat. Cepat diperoleh, tapi juga cepat hilang.

Dalam tren berbahasa, sifat cepat itu juga terasa. Anak-anak milenial itu suka sekali menciptakan sesuatu yang baru. Tapi umurnya gak lama. Mereka akan berpindah ke sesuatu yang baru lainnya.

Istilah-istilah yang diciptakan dan dipopulerkan anak-anak milenial bisa sangat booming. Dalam hitungan jam atau hari sudah jadi tren. Tapi gak sampai seminggu tren itu sudah ditinggalkan.

Nah, empat sifat bahasa milenial ini saya kira penting dipahami. Pertama, milenial ini sekarang adalah pemegang kendali. Selain secara demografi mereka jumlahnya dominan, secara politis mereka juga sedang siap-siap mengambil kendali.

Milenial awal kan usianya sekarang sekitar 30 atau 35 tahun. Secara sosial mulai mapan. Mereka juga berada di produktif, punya duit, jadi selera mereka akan menentukan selera pasar secara umum.

Biar bisa berkomunikasi secara tepat dengan mereka, penting banget untuk memahami karakteristik bahasa mereka.

Semoga ulasan ini bermanfaat.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.