Eksotisme Wisata Malam di Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama ternyata tak hanya menyuguhkan wisata sejarah. Malam hari, Kota Lama atau yang dikenal The Little Netherland juga menyuguhkan nilai plus, eksotisme bangunan berpadu kemolekan gadis belia yang siap menemani. Berikut laporan Agus Joko dari Harian Seputar Indonesia yang disajikan secara berseri.

Karaoke Satu Jam, Kimcil Bisa Di-book

Petang baru saja berganti malam.Jarum jam menunjukkan kurang dari pukul 19.00. Belasan gadis belia,dengan pakaian minim,terlihat berdiri berjajar di sekitar Jembatan Berok.Sekilas mereka seperti rombongan pelajar yang menunggu angkutan umum untuk pulang ke rumah. Tapi jangan terkecoh. Sebenarnya mereka adalah kelompok yang sering disebut kimcil.

Entah dari mana asal usul sebutan tersebut, yang jelas istilah itu mampu menggeser sebutan sejenis, ciblek yang populer di kawasan Simpanglima di era tahun 1995-an. Apapun sebutannya, kimcil dan ciblek mempunyai kesamaan, yakni bisa diajak jalan dan menemani para pria iseng.

Kimcil Kota Lama biasa nongkrong di depan Gedung Papak atau di jalan sisi barat Berok hingga Jalan Agus Salim, kawasan Johar.Sebagian dari mereka ada juga yang mangkal di jalan sisi timur Berok, terhubung dengan Jalan Sendowo.

“Sudah enam bulan terakhir mereka ada di situ. Mereka ini para pendatang, dari luar Semarang,dan sengaja didatangkan para pemilik karaoke di Berok untuk meramaikan bisnis karaoke miliknya. Tapi mereka muda-muda lho,tidak seperti mereka yang biasanya mangkal di Polder Tawang, STW (setengah tua),” tutur seorang pedagang nasi kucing di Kota Lama.

SINDO bersama seorang teman yang mencoba menelusuri keberadaan dan asal usul kimcil Kota Lama langsung disambut hangat oleh delapan gadis belia berpakaian minim. Rok atau celana yang mereka kenakan sangat pendek,dipadu tank top menjadi andalan untuk merayu setiap pria yang datang menghampiri. Sandal jepit dan bedak tebal di muka tidak menghalangi niat para kimcil melancarkan ajakan berkaraoke.

Mereka yang bekerja di Kota Lama tidak ada rasa sungkan dan malu untuk sekedar menggamit atau merangkul calon pelanggannya,meski itu dilakukan di tempat terbuka yakni di pinggir jalan utama yang membelah Kota Lama. Seorang wanita paruh baya, tak kalah seronok dan berdandan ala kimcil langsung menyeruak.

“Ayo dong karaoke, satu jam satu jam juga tak apaapa. Mau ditemenin siapa? Ini Siska, Rani, Rika,Santi (semua nama samaran),mau pilih mana? Mereka pintar nyanyi lho dan goyangannya jangan ditanya,” tawar wanita yang belakangan diketahui salah satu mami kimcil Berok.

Mereka bisa diajak jalan, tapi syaratnya,“Harus karaoke dulu minimal satu jam. Setelah karaoke terserah mau dilanjutin atau tidak. Tapi itu juga kalau yang nemenin mau diajak jalan.Ya,tergantung ngajaknya gimana,”cerocos si mami. Soal harga, klaim mami, juga tergantung dari tawar menawar kami dengan kimcil.

Jatah Preman Lancar, Karaoke Aman

Sudah bukan rahasia lagi jika bisnis karaoke, lengkap dengan si kimcil pemandu karaoke (PK) membutuhkan biaya operasional tambahan.Prinsipnya,selama jatah preman lancar maka karaoke aman.

Sebuah sedan merah dengan lampu rotari diatasnya,berikut tulisan identitas sebuah institusi penegak hukum,berjalan pelan memasuki jalanan sempit di jalan sisi barat Sungai Berok.Kondisi penerangan yang minim membuat sopir yang mengenakan baju seragam coklat harus ekstra hati-hati melintasi lubang jalan yang tertutup air.

Mobil berhenti di depan salah satu tempat karaoke dan seorang pegawai karaoke yang bertugas sebagai operator lagu menyambut dengan sodoran sebungkus rokok. “Biasa mas,jatah rokok seperti itu.Tiap hari kalau sudah sekitar jam 22.00 atau 23.00 mereka datang silih berganti untuk minta jatah,” tutur seorang mami kimcil sekaligus isteri pemilik salah satu karaoke di kawasan Berok,kawasan Kota Lama.

Silih berganti? Ya,ternyata tidak hanya mobil sedan merah yang datang. Tak lama sebuah mobil operasional milik institusi militer juga berhenti di tempat yang sama. Perlakuan dari pengelola karaoke pun tak beda,sodoran sebungkus rokok.Untuk petugas keamanan yang satu ini si mami mengaku pernah punya pengalaman buruk. “Mereka datang di saat karaoke saya masih sepi.

Terpaksa saya tolak, tidak beri jatah dan mereka marahmarah,” ujarnya. Bagi para pengelola karaoke di kawasan Sungai Berok Kota Lama,aktivitas permintaan uang keamanan atau yang lazim disebut jatah preman (JP) seperti itu disadari sebagai sebuah resiko bisnis hiburan malam. Selama permintaan dinilai wajar mereka pun tak mempersoalkan. “Itu belum seberapa,ada yang minta jatah tahunan Rp5 juta atau minta jatah tambahan di kegiatan tertentu,”katanya.

Merujuk sebuah nama institusi penegak hukum yang biasa mengamankan Balai Kota Semarang, mami mengaku tak bisa berbuat banyak lantaran instansi tersebut punya kewenangan yang cukup besar di bisnis karaoke.

“Uang Rp5 juta setahun itu diminta dengan alasan urusan IMB (Izin Mendirikan Bangunan).Bangunan yang saya sewa peruntukannya bukan untuk karaoke. Sementara Rp250 ribu untuk kegiatan HUT institusi tersebut,”bebernya.

Institusi itu pula yang kerap melakukan operasi yustisi.Sering kali,kimcil binaan para mami diciduk dan itu berarti ongkos operasional bertambah.

“Kalau itu istilahnya untuk nebus kimcil. Harga tebusan tergantung nego, biasanya Rp50 ribu per kepala (tiap kimcil),” timpal Diego (nama samaran), operator karaoke di Kota Lama. Meski tergolong lancar dalam memberi kontribusi jatah preman, namun bukan berarti pemilik karaoke bisa bebas setiap saat membuka pelayanan.

Di momen tertentu seperti pertemuan pimpinan ASEAN beberapa waktu lalu dan jika ada kunjungan pejabat penting luar negeri atau pejabat tinggi Jakarta ke Kota Lama dipastikan usaha karaoke dan pelayanan kimcil tutup sementara waktu. Kebijakan penutupan semu tersebut tak lebih sebagai usaha pencitraan bahwa wisata Kota Lama bebas dari aktivitas prostitusi. Anda tertarik ke Kota Lama?

2 Comments

  1. umroh murah

    November 24, 2013 at 5:42 pm

    lebih baik umroh aja Mas…..
    http://www.umrohalhabsyi.com

  2. tasa seng

    May 6, 2016 at 4:46 pm

    wisatanya indah mendunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.