Dua Kekonyolan Sinematis dalam Surga yang Tak Dirindukan

Dalam perjalanan dari Pontianak ke Jakarta, saya menonton Surga yang Tak Dirindukan. Film itu tersedia dalam kategori Film Indonesia Terbaik yang disediakan Garuda untuk menghibur penumpang selama perjalanan.

Saya memilih film itu karena film dibintangi oleh Raline Syah. Apa istimewanya perempuan itu? Dia cantik. Dia punya jasa besar karena fotonya terpampang di Simpang Lima Semarang pada baliho iklan Mandiri. Fotonya cukup mendinginkan suasana tempat itu yang pansas bukan main pada hari tertentu.

Film itu dibuka dengan adegan drama yang teatrikal. Seorang anak menyaksikan ibunya lari dari rumah, ibunya lari dan tertabrak mobil di mulut gang.

Adegan itu saya sebut teatrikal karena adegan itu lebih menyerupai drama panggung (teater). Dalam drama panggung, sebuah peristiwa harus didramatisasi dengan agak berlebihan agar pesannya sampai kepada penonton.

Para pemain drama panggung kadang mengeksplorasi dialog dengan agak berlebihan, membuat gerakan yang berlebihan, atau menampilkan simbol-simbol visual yang terlalu mencolok. Sesuatu yang tampak berlebih-lebihan itu diperlukan karena panggung adalah potongan drama yang sangat minimalis, sehingga segenap potensi audio visual harus dieksplorasi.

Lihat, misalnya: dalam panggung teater, para pemain tidak cukup menunjukkan napas cepat untuk menunjukkan pesan bahwa ia kelelahan. Para pemain mengeksplorasi dengan menaikturunkan bahu, atau bahkan menarik kepala supaya tampak maju dan mundur.

Polanya mungkin sama dengan gulat bebas (smack down) sebagaimana dikritik Roland Barthes dalam Mitos. Dalam ring itu, sandiwara dieskplorasi hingga taraf tertinggi yang paling menjijikan. tubuh seorang pegulat terjatih ke lantai ring hanya karena ditampar. Dua pegulat sama-sama sulit berdiri menjelang akhir ronda karena saling banting.

Dalam film, eksplorasi berlebihan semacam itu mestinya tidak digunakan. pasalnya, film memiliki sejumlah perangkat audiovisual yang jauh lebih kompleks sehingga sebuah peristiwa bisa digambarkan apa adanya.

Sayangnya, justru itulah yang saya dapati dalam Surga yang Tak Dirundukan. Selama setengah jam atau 40 menit menonton, saya menemukan dua kekonyolan sinematis yang membuat saya menyerah melanjutkan film itu.

Pertama, saat  Prasetya (Fedi Nuril) dan dua temannya memasuki Jogjakarta. Dari seetingnya, mungkin itu di daerah cupit urang keraton. Mereka berhenti karena bingung dengan masjid yang mereka cari. Saat itulah di belakang mobil mereka ada anak yang jatuh dari sepeda.

Anak itu mungkin lecet. Tetapi respon yang ditunjukkan oleh Prasetya benar-benar konyol. Dia menghampiri anak itu, membopongnya masuk ke dalam mobil, seperti memperlakukan orang yang kecelakaan berat sehingga pinsan.

Kekonyolan ini tampaknya diproduksi sutradara sekadar untuk mempertemukan Prasetya dengan Arini (Laudya Cintya Bella).

Kekonyolan kedua dapat ditemui saat Meirose (Raline) mau bunuh diri. Ketika dia menjatuhkan diri, dengan segera Prasetya bisa menangkap tangannya. Ini adegan yang sangat klasik dan teatrikal, yang saya kira mestinya mulai ditinggalkan oleh para sutradara.

Tetapi bukan itu yang membuatnya konyol. Prasetya ternyata memutuskan berjanji untuk menikahi Meirose saat detik-detik itu. Ia seperti paham betul problem hidup perempuan yang baru saja ditemuinya hanya karena ia menyaksikan potongan video yang tersimpan dalam handphone Meirose.

Islam memang tidak melarang poligami. Seorang lelaki boleh mengambil satu, dua, tiga, atau empat istri. Tetapi memutuskan menikahi seorang perempuan dalam pertimbangan sekian detik adalah kekonyolan yang tidak bisa diterima.

Saat itulah saya menekan tombol off pada layar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.