Dua Hari Mendengar Nasihat Bajingan

Selain riskan ditolak, para bajingan biasanya punya keunggulan khusus yang membuat nasihatnya juga lebih mudah diterima.

Kekuatan itu muncul karena nasihat para bajingan biasanya diberikan dengan kesadaran bahwa dirinya bukan orang baik. Kesadaran itulah yang membuatnya punya kerendahan hati untuk tidak menempatkan dirinya secara superior.

Itulah kekuatan utama buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Buku laris ini (versi Indonesia sudah cetak ulang 16 kali selama 2018) dimulai dengan serangkaian pengakuan bahwa penulisnya bukan orang baik. Tapi karena bukan orang baik itulah dia tampak bisa memahami orang-orang (pembacanya) yang merasa punya masalah moral bahwa dirinya juga bukan orang baik.

Pengakuan bahwa dia orang baik itu juga dijadikan modal untuk melawan nasihat-nasihat yang tampaknya baik yang ternyata tidak baik.

Misalnya, Manson mengkrik nasihat bahwa setiap orang adalah istimewa dan bisa menjadi juara. Itu nasihat khas orang baik yang ternyata omong kosong. Manusia ternyata tidak istimewa, dan tidak setiap orang harus menjadi juara.

Keyakinan bahwa diri kita istimewa dan harus menjadi juara itulah yang membuat orang memiliki masalah hidup yang mestinya tidak perlu ada.

Misalnya, kebanyakan orang mengukur kesuksesan hidup dengan cara yang tidak tepat bagi hidupnya. Hanya karena tetangga kita kaya, kita ingin menjadi kaya. Kita terobesesi dengan kekayaan meski kekayaan tidak pernah menjadi nilai utama hidup kita.

Ia mencontohkan kehidupan Dave Mustaine, personel band Megadeth. Dalam industri musik, dia orang yang sangat sukses. Ia mencipta banyak lagu, terkenal, punya tour dunia, banyak uang, dan berhasil menjual setidaknya 25 juta kopi.

Tapi dia belum cukup bahagia dengan pencapaiannya karena ia selalu membandingkan diri dengan Metallica, band yang pernah memecatnya.

Sebaliknya, mantan drummer Beatles, Pete Best, merasa hidupnya bahagia dan sukses meski dipecat dari grup band legendaris Inggris itu.

Dibandingkan John Lenon atau personel Beatles lainnya, Best tentu tidak lebih terkenal, tidak lebih kaya, dan tidak lebih mendapat perhatian. Tapi dia berhasil menemukan nilai terdasar kehidupannya. karena itulah, dia bahagia hidup sederhana bersama keluarganya.

Lewat buku ini, Manson berusaha mengajak pembaca melawan dogma-dogma manusia modern yang telanjur dianggap benar. Misalnya, bahwa orang harus selalu bersikap positif. Menurutnya, kalau memang sekali waktu bersikap negatif ya tidak masalah.

Ia berusaha menerabas pakem-pakem hidup orang modern yang cenderung sangat meterialistis. Caranya, ia mengajak pembaca menemukan nilai hidup paling esensial dalam hidup.

Ajakan ini tentu saja tidak baru-baru amat. Tapi lumayan lah, untuk mengimbangi provokasi hidup sukses yang diajarkan televisi, tetangga, sekolah, dan kampus yang telanjur materialistis itu.

Sebagai penulis, nasihat-nasihatnya lumayan menghujam. Bukan cuma karena dia sedari awal telah menyatakan diri sebagai bajingan, tapi memang punya gaya bertutur yang ekspresif.

Dia juga menggunakan cerita-cerita minor yang relatif belum pernah saya baca sebagai prolog nasihat-nasihatnya. Jadi, ya, lumayan segar. Ini buku pembuka awal tahun yang bagus. Lumayan bagus untuk dibayar dengan dua hari membacanya.

Salam,
Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.