Diksi Pengemplang Hutang

Ternyata ada korelasi antara pilihan kata dengan kecenderungan seseorang akan mengembalikan hutang atau mengemplangnya. Simpulan ini diperoleh peneliti dari tulisan yang dibuat para calon debitur ketika mengajukan pinjaman. Dalam formulir yang harus mereka isi ada kolom yang meminta mereka menjelaskan dua hal: mengapa Anda perlu pinjaman dan bagaimana Anda akan membayarnya.

Data bahasa inilah yang dikelola para ilmuwan. Mereka membandingkan kecenderungan kata-kata yang lazim digunakan calon debitur dengan kemungkinan mereka akan menjelaskannya.

Simpulannya ya itu tadi: ada pilihan kata yang identik cenderung digunakan oleh orang yang akan membayar hutangnya, ada kata yang identik digunakan oleh orang yang cenderung tidak membayar hutangnya.

Anda mungkin penasaran, kata-kata apa itu? Ilmuwan data Google Seth Stephen-Davidowitz merinci kata-kata itu dalam buku Everybody Lies. Buku itu mengulas kemampuan big data dalam membaca dunia, bagaimana mengeksplorasinya, juga risiko etis yang menyertainya.

Seth menjelaskan, kata-kata yang lazim digunakan oleh pengemplang hutang adalah: God, promise, will pay, thank you, dan hospital. Adapun kata-kata yang lazim digunakan oleh orang yang cenderung membayar hutangnya adalah: debt-free, lower-interest rate, after taz, minimum payment, dan graduate.

Data ini diperoleh dari perilaku pengguna bahasa Inggris. Tentu ada bias budaya jika diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Sebab, tiap bahasa memiliki ekspresi yang secara semantik bisa saja tak sama untuk mengekspresikan maksud tertentu.

Data ini telah digunakan oleh sejumlah perusahaan pemberi pinjaman sebagai salah satu pertimbangan memberi pinjaman. Orang yang cenderung santun karena menulis kata “thank you” dan “promise” di mata perusahaan kreditur ternyata dinilai negatif. Begitu orang yang cenderung relijis karena menggunakan kata “God”, permohonan kreditnya justru lebih kecil untu dikabulkan.

Bagian paling menyenangkan saat membaca buku Davidowitz adalah ketika ia menulis paragraf pendek begini: para peneliti tidak mempunyai teori tentang mengapa ucapan terima kasih  (thank you) adalah bukti untuk kemungkinan mangkir membayar.

Saya senang membaca ungkapan rendah hati itu karena saya (merasa) punya penjelasan untuk mengisi kekosongan teoretis itu. Entah penjelasan saya tepat atau tidak, itu soal lain. Silakan Anda nilai setelah membaca penjelasan saya berikut ini:

Secara aktual fungsi komunikatif bahasa tidak terletak hanya ketika ia dijadikan sarana pertukaran informasi. Fungsi komunikatif pada bahasa melekat pada fungsi interpersonalnnya ketika ia digunakan penutur untuk menjalin hubungan tertentu dengan pendengar atau mitra tuturnya.

Fungsi interpersonal itu sangat mudah diamati dalam proses negosiasi. Saat bernegosiasi, hal utama yang harus dilakukan pengguna bahasa adalah menegaskan posisi dirinya untuk membuat orang lain bersikap atau memutuskan sesuatu sesuai kehendaknya.

Ketika berdebat di televisi, bahasa harus digunakan penggunanya  untuk menyatakan posisi superior agar ia dihormati secara intelektual. Karena itu, bahasa direkayasa demikian rupaya agar ia tampak cerdas. Orang cenderung akan berakrobat.

Ketika memohon maaf kepada istri karena seorang suami ketahuan berselingkuh  bahasa digunakan suami untuk menyatakan penyesalan. Bahasa direkayasa agar si suami tampak menyesal telah melakukan kesalahan itu sehingga ia terhindar dari perceraian. Di sini suami akan merendahkan posisi dirinya.

Dengan bahasa orang berusaha menegaskan posisi tertentu sesuai tujuan spesifiknya. Kadang seseorang ingin tampak dominan (cerdas, bijak, kuat) tapi ingin tampak lemah (menyesal, kalah, tidak berdaya).

Nah, proses pengajuan kredit adalah situasi negosasi yang sama dengan dua contoh di atas. Saat mengajukan pinjaman, orang merekayasa perilaku berbahasanya agar pemberi kredit meloloskan permohonannya. Agar peluang diberi kredit lebih besar, orang cenderung menampilan parameter tertentu yang secara konvensional menandakan komitmen untuk membayar hutang.

Nah, ada konvensi bahwa orang relijius berperilaku lebih baik. Begitu juga: ada konvensi bahwa orang santun punya komitmen yang lebik baik. Konvensi-konvensi itulah yang mendorong pemohon kredit merekayasa perilaku berbahasanya. Mereka menggunakan kata yang menurut hematnya dapat mewakili kepribadian yang ingin mereka tampilkan.

Ini mungkin bukan penjelasan yang menyenangkan Anda. Sebab, bisa saja orang memang relijius, santun, dan berintegritas “dari sananya” dan tidak mengada-ada ketika mengajukan kredit. Apalagi kita sudah kadung punya penjelasan klasik bahwa bahasa adalah representasi latar belakang budaya seseorang.

Bias itu bisa saja ada. Itu adalah tantangan para ilmuwan untuk membedakan bahasa yang tulus dengan ekspresi bahasa yang dibuat-buat.  Tapi secara teoretis, rekayasa identitas adalah teori yang bisa mengisi kekosongan yang disisakan Davidowitz dalam bukunya.

Sekarang, buku itu justru memprovokasi saya melakukan riset lanjutan. Adakah korelasi antara kata-kata yang digunakan seorang laki-laki saat merayu terhadap kemungkinanya berselingkuh?

Perlu data besar untuk menguji korelasi itu: apakah perayu ulung yang gombalannya yahud justru lebih berpeluang tidak setia? Mari kita kumpulkan data percakapan di WhatApp dan aplikasi chatting lain ketika seorang laki-laki mendekati lawan jenisnya. Kalau data itu benar-benar terkumpul, saya yakin lima tahun ke depan akan sangat berguna.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)

Sumber gambar: kreditpedia.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.