Dianugerahi FBS Award, Ini Sederat Prestasi Sastrawan Triyanto Triwikromo

Sastrawan Triyanto Triwikromo mendapat penghargaan FBS Award dari almamaternya, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Selasa (1/10) kemarin.  Penghargaan diberikan sebagai apresiasi karena ia dinilai memiliki pencapaian dan dedikasi luar biasa menjadikan bahasa sebagai sarana berkarya.

Siapakah Triyanto Triwikromo dan prestasinya dalam dunia sastra? Karena nama besarnya, pertanyaan itu mungkin tidak relevan bagi masyarakat sastra. Namun dalam konteks yang luas, membincangkan prestasinya adalah pilihan yang perlu.

Triyanto Triwikromo (biasa disingkat Mas TT) adalah pemeroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa untuk buku kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi, Surga Sungsang (buku cerita terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2014, masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014.

Buku terbarunya, Kematian Kecil Kartosoewirjo memperoleh sambutan positif. Hampir semua media—termasuk Majalah Tempo, Kompas, Jawa Pos, Republika, dan Suara Merdeka—membahas panjang lebar buku itu dan dipamerkan.

Karyanya tidak hanya mendapat apresiasi nasional, tetapi juga internasional. Selain Kematian Kecil Kartosowirjo, kumpulan cerita pendeknya A Conspiracy of Godkillers (Lontar, 2015) dan The Serpent in The Holy Grail (Gramedian Pustaka Utama, 2015)
dan buku cerita Upside-Down Heaven (Gramedia Pustaka Utama, 2015)  dipamerkan di Frankfurt Boof Fair (2015), Jerman.

Pada Juni 2015 ia dikirim pemerintah ke Berlin dan Koln (Jerman) untuk membacakan cerpen tentang Berlin (“Dalam
Hujan Hijau Fridenau’’) dan petikan novel Surga Sungsang tentang pergolakan Islam di Indonesia (“Wali Kesebelas”). Kegiatan itu merupakan rangkaian acara Pra-Guest of Honour (GoH) Indonesia dalam Frankfrut Book Fair 2015.

Sepuluh cerpennya yang masuk Cerpen Pilihan Kompas sepanjang 2003-2012 dibukukan dalam Celeng Satu Celeng Semua (Gramedia Pustaka Utama, 2013). Cerpennya, “Dongeng New York Miring untuk Aimée Roux”, dimuat dalam Cerpen Pilihan Kompas 2013.
Cerpennya, “Cahaya Sunyi Ibu”, termuat dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpennya “Lembah Kematian Ibu” juga masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana.

Pada 2012-2013 dia terlibat dalam penggarapan program citybooks yang diproduksi oleh deBuren (rumah produksi dari Belgia). Proyek ini memungkinkan 10 puisi panjangnya tentang Semarang diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis. Cerpen-cerpennya
juga diterjemahkan dalah bahasa Swedia dan Inggris.

 

Produktif Sejak Muda

Proses kreatif TT telah dimulai sejak usianya relatif muda. Ia adalah alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Semarang yang sekarang Universitas Negeri Semarang. Semasa kuliah, dia turut membidani kelahiran Koran Kampus Nuansa dan aktif di Komunitas Pecinta Karya Sastra (Cakra).

Setelah itu, ia lulus Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro. Ia bekerja sebagai dosen Penulisan Kreatif, Jurnalisme Sastrawi, Sastra Siber, Sejarah Sastra, dan Kebudayaan Populer di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Ia juga mengajar
Jurnalisme Sastrawi dan Kajian Kebudayaan di Magister Ilmu Komunikasi Undip. Selain itu, kini ia jadi Redaktur Pelaksana Harian Suara Merdeka.

Selain menganggit puisi (antara lain terbit dwibahasa di Australia dalam Mud Purgatory, 2008), ia menulis kumpulan cerita pendek Rezim Seks (Aini, 2002), Ragaula (Aini, 2002), Sayap Anjing (Penerbit Buku Kompas, 2003), Anak-anak Mengasah Pisau (Children Sharpening the Knives) (Masscom Media, 2003), dan Malam Sepasang Lampion (Penerbit Buku Kompas, 2004).

Pada 2005 dan 2007 mengikuti Utan Kayu International Literary Bienale. Setelah itu, 2005, ia menjadi peserta Wordstorm: Northern Territory Writer Festival di Darwin dan Januari-Februari 2008 menjadi peserta Gang Festival dan residensi sastra di Sydney, Australia. Pada
tahun sama ia juga menjadi pembicara dalam Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali.

Bersama Budi Darma, Eka Kurniawan, Nugroho Suksmanto, dan Chavchay Saifullah, ia menulis L.A. Underlover (Katakita, 2008), kumpulan cerpen tentang persentuhan orang-orang Indonesia dengan manusia-manusia Los Angeles. Pada 2013 ia bersama Agus Noor mendapat semacam grant untuk menulis novel di New York, Amerika Serikat dari pendiri Anugerah Sastra Pena Kencana, Nugroho Suksmanto.

Triyanto sudah sejak lama berkecimpung di dunia penerbitan dan sastra. Pada saat belajar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Salatiga ia telah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Bahana. Ia juga menjadi pendiri gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman. Gerakan ini waktu
itu mencoba mewartakan betapa aktivitas sastra itu jangan sampai hanya dibatasi di media massa. Siapa pun berhak bersastra di berbagai tempat.

Begitu bekerja di Harian Umum Suara Merdeka, ia berturut-turut menjadi wartawan budaya, Redaktur Sastra, Kepala Desk Wacana, Kepala Desk Edisi Mingu, Kepala Desk Utama, dan yang terkini dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana. Ia juga berturut-turut pernah jadi anggota
Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah, dan Ketua I Dewan Kesenian Jawa Tengah.

Dengan berbagai prestasi itu, amat pantas FBS Unnes memberikan penghargaan kepadanya. Dibanding penghargaan lain yang telah diperolehnya, penghargaan itu mungkin tidak terlalu membuatnya bersuka cita. Tapi melalui penghargaan itu FBS Unnes sedang membuat jembatan penghubung agar tradisi berkarya yang telah ditunjukkannya bisa ditiru oleh para juniornya di Universitas Negeri Semarang.

Karena itu, tidak berlebihan jika kita berharap akan lahir Triyanto Triwikromo lain akan lahir daru kampus itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.