Cara Babahe Memopulerkan Jawa

DARI sisi disiplin ilmu, Babahe memang bukan sarjana Bahasa Jawa. Namun, jangan tanya lagi ikhwal kepedulian dan perhatian pegiat teater itu pada bahasa dan sastra Jawa.

Kalau boleh sedikit bombastis, sejak sepuluh tahun terakhir, seniman bernama asli Widyo Leksono itu telah menghibahkan hidupnya untuk bahasa (dan sastra!) Jawa. Setidaknya, karya-karyanya yang terus mengalir dalam berbagai bentuk, hampir semuanya ditulis dalam bahasa Jawa. Mulai dari naskah teater, cerita anak, hingga geguritan.

Yang paling mutakhir, selama November kemarin, Babahe berkeliling ke sejumlah SD untuk memopulerkan bahasa Jawa. Tanpa gembar-gembor, tanpa gegap gempita pariwara. Bahkan, tanpa pretensi untuk memperoleh imbalan, baik berupa honorarium atau ongkos bensin sekadarnya.

’’Keliling ke sekolah-sekolah itu, katakanlah, sebagai darma bakti saya buat anak-anak yang masih mau belajar bahasa Jawa,’’ kata Babahe, dalam perbincangan di gazebo Komunitas Marung Seni, Gebyog, Gunungpati, sore kemarin.

Dalam istilah yang populer sekarang, upaya Babahe menjadi semacam corporate social responsibility (CSR)-nya untuk membuat bahasa Jawa lebih digemari. ’’Saya merasa bahagia, jika anak-anak mau kembali menengok bahasa Jawa yang, diakui atau tidak, belakangan kian dilupakan,’’ kata seniman yang juga guru ekstrakurikuler teater di sejumlah sekolah itu.

Antologi Geguritan Dalam roadshow-nya, Babahe mengajak anak-anak untuk berdekat-dekat dengan bahasa Jawa. Bermodal antologi geguritan Blakotang, yang baru saja dirilisnya, dia memperkenalkan para siswa pada nama-nama anak binatang, daun, buah, biji, dan sebagainya. Bersamanya, anak-anak mengenal sawiyah (anak cicak), genjik (anak babi hutan), kirik (anak anjing), ujungan (daun pisang), hingga klungsu (biji asam jawa).

Supaya taaruf itu berlangsung menarik, sesekali Babahe mengajak mereka bernyanyi. Kadangkala, acara diselingi pula dengan melantunkan tembang dolanan, seperti ’’Padhang Bulan’’ atau ’’Kodok Ngorek’’. Dengan peranti ukelele, sejenis gitar kecil di tangannya, perkenalan dengan genjik atau kirik itu pun kian menarik. Seru.

Lihatlah, ketika dia berinteraksi dengan anak-anak MI Roudlotul Huda, Sekaran, Gunungpati. Anak-anak yang biasanya belajar ’’alif ba ta’’ itu bisa terkekeh-kekeh ketika Babahe membacakan, atau persisnya, melagukan geguritannya.

Kehangatan interaksi serupa, juga terjadi di SD Ngijo 03, SD Sumurjurang 01, SD Pongangan 01, MI Roudlotul Athfal Nongkosawit, atau SD Cepoko 02, yang semuanya berada di Kecamatan Gunungpati.

’’Anak-anak sebetulnya punya ketertarikan untuk belajar bahasa Jawa. Persoalannya, tinggal bagaimana cara kita mengenalkannya,’’ katanya.

Dalam rangkaian roadshow-nya itu, Babahe mencatat pengalaman menarik, ketika datang di SD Al Azhar 29 Bukit Semarang Baru, Mijen.

’’Seluruh siswa yang berjumlah 400-an orang dikumpulkan untuk belajar bahasa Jawa bersama saya. Hebatnya, pada hari itu upacara diliburkan untuk keperluan itu,” kata Babahe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.