Dari Sayembara untuk Sastra Indonesia

KOMPETISI penulisan karya sastra turut mewarnai wajah sastra Indonesia modern. Sejumlah “wajah baru” sastrawan Indonesia lahir dari kompetisi jenis ini. Melalui kompetisi mereka menunjukkan kualitas diri dan karyanya sebelum akhirnya kembali “berkompetisi” di arena yang lebih luas.

Salah satu kompetisi yang memiliki wibawa nasional melahirkan sastrawan muda adalah Sayembara Penulisan Novel  Dewan Kesenian Jakarta. Lewat kompetisi ini, nama-nama seperti Ayu Utami, Abidah El-Khalieqy, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie lahir. Kemenangan mereka menjadi “teknik muncul” yang epik sebelum mereka memublikasikan karya-karya lainnya.

Sayembara serupa juga digagas oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui even bertajuk “FBS Unnes International Novel Writing Contest” sejak awal 2017. Penyelenggara kompetisi itu bahkan punya ambisi lebih besar karena memperluas cakupan hingga tingkat internasional. Hingga pendaftaran ditutup, menurut panitia, peserta sayembara itu mencapai 229 orang dari berbagai negara.

Jumlah yang besar dan jangkauan luas membuat panitia optimis, sayembara ini  akan jadi tradisi baru. Dikutip dari laman unnes.ac.id, Ketua Panitia Sendang Mulyana mengatakan, Kami optimis, “Sayembara ini akan menempatkan UNNES sebagai subjek penting dalam perkembangan sastra Indonesia ke depan.”

Unnes-DKJ, Saling Melengkapi

Kemapanan DKJ dan munculnya Unnes dalam kompetisi penulisan novel dapat dibaca dari dua perspektif. Pertama, dua lembaga itu berkompetisi berebut kuasa agar memiliki mengukuhkan standar estetika masing-masing dalam “pasar” sastra. Kedua, di sisi lain, dua lembaga ini juga sedang membangun kerja kolaboratif membesarkan sastra Indonesia. Sisi kedua ini patut diajukan karena siapa pun yang lebih berwibawa, akhirnya akan membuat sastra Indonesia semakin hidup dan semarak.

Memang, membandingkan Sayembara Penulisan Novel DKJ dengan Kompeteisi Penulisan Novel yang dihelat Unnes cenderung  sembrono karena perbedaan keduanya. Institusi yang disebut pertama tampak lebih mapan karena memulai tradisi itu sejak 1974 dan konsisten hingga saat ini. Adapun institusi kedua baru memulai tradisi itu. Namun dengan melihat keunggulan masing-masing, keduanya patut dibandingkan sekaligus disandingkan.

Pada satu sisi, dua institusi berbeda itu tampak sedang berkompetisi karena bermain di arena yang sama. Dengan modal budaya yang dimiliki masing-masing, dua lembaga itu akan berebut perhatian publik sastra. Ketika hasil kompetisi itu dipublikasikan, karya-karya yang dibidani keduanya akan berkompetisi di lapangan yang sama, yaitu “lapangan” sastra Indonesia.

Dalam perspektif Bourdieu, seyembara adalah mekanisme konsekrasi yang dihelat untuk mengukuhkan selera estetik tertentu. Panitia sayambera berusaha membuat standar keindahan tertentu dan merekomendasikan keindahan itu agar menjadi standar umum. Agar memiliki modal kultural sebagai penaklid standar keindahan, lembaga-lembaga itu sendiri harus terlebih dahulu menaklidkan diri sebagai penaklid yang baik. Oleh karena itu, modal budaya jadi aspek yang penting untuk dihitung.

Selain memiliki rekam jejak, DKJ memiliki keunggulan karena telah berhasil membangun jejaring dengan lembaga dan pekerja budaya secara luas. Mayoritas eksponen lembaga itu adalah pekerja seni dengan rekam jejak panjang. Karena itulah, DKJ relatif telah menemukan visinya, termasuk visi dalam penyelenggaraan sayembara penulisan karya sastra.

Dalam situs resminya disebutkan, DKJ dirikan agar menjadi payung yang mengayomi, memelihara dan menjembatani masyarakat seni dengan masyarakat umum, agar Jakarta menjadi kota seni terdepan. Meski secara administratif wilayah kerja DKJ “hanyalah” Jakarta, pengaruh kultural lembaga ini telah berkembang ke berbagai daerah. Pengaruh itu dapat dibaca dari dominannya wacana-wacana kebudayaan yang dikembangkan para eksponennya.

Sementara Unnes, meskipun baru memulai tradisi menggelar kompetisi penulisan novel, sejatinya memiliki modal kultural yang panjang pula. Sebagai lembaga pendidikan, Unnes telah melahirkan banyak penulis dan pengkaji sastra yang cukup diperhitungkan. Nama seperti Triyanto Triwikromo dan S Prasetyo Utomo memulai proses kreatifnya di lembaga pendidikan ini. Dosen dan mahasiswanya juga punya tradisi meneliti yang tak pernah putus, baik penelitian akademik maupun profesional.

Deskripsi di atas menunjukkan bahwa kedua institusi ini memiliki modal budaya yang sama sekali berbeda. Karena itulah, keduanya dapat dipandang sedang melakukan kerja kolaboratif yang saling melengkapi. Kerja kolaboratif ini secara akumulatif akan menyemarakkan rumah besar sastra Indonesia. Rumah besar sastra Indonesia terlalu besar untuk dihuni satu atau dua kelompok pekerja budaya. Semakin banyak penghuninya justru rumah itu akan semakin hidup.

Dari Kritikus ke Juri

Pada era terdahulu, kerja konsekrasi dalam arena sastra dilakukan oleh kritikus. Nama yang paling moncer dan mewakili kerja konsekrasi semacam ini tentu saja adalah Hans Bague Jassin. Sebutan “paus sastra Indonesia” yang disematkan kepadanya merupakan pengakuan bahwa pria kelahiran Gorontalo itu memiliki seperangkat modal budaya yag membuatnya layak jadi kritikus yang paripurna.

Sebagai kritikus, Jasin tak hanya bekerja menjadi juru catat dan juru arsip. Koleksinya yang melimpah  tentu saja kekayaan yang sangat berharga, tetapi itu hanya berfungsi sebagai sarana. Modal kultural sejati yang membuatnya mampu berperan sebagai “paus sastra” adalah pengaruh wacananya yang luas. Dengan pengaruh yang dimilikinya, ia memiliki keleluasaan menghidupkan (atau justru mematikan) genre sastra tertentu juga membesarkan (atau justru mengecilkan) nama sastrawan tertentu.

Media sastra legitimate seperti Horison mengambil peran sebagai penaklid ketika majalah itu berjaya. Nama-nama besar seperti  Mochtar Lubis, PK Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail yang berada di balik berdirinya majalah itu membuat Horison mampu menjadi parameter baru sastra Indonesia. Melalui puisi, prosa, dan kritik sastra yang dimuatnya secara berkala, majalah itu berusaha menetapkan standar estetik karya sastra di Indonesia. Namun peran itu semakin merosot hingga akhirnya berhenti cetak pada 2016.

Peran melakukan konsekrasi kemudian beralih ke koran-koran nasional seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, dan Suara Merdeka (di Jawa Tengah). Koran memiliki keunggulan karena intensitas kemunculannya yang tinggi. Koran-koran itu memiliki lembar sastra yang setidaknya terbit sepekan sekali. Intensitas demikian membuat redaktur sastra koran-koran itu memiliki ruang yang memadai untuk menawarkan karya dan kritik yang sesuai selera estetiknya. Sejak 1992 Kompas bahkan memperkuat peran itu dengan menyelenggarakan pemilihan cerpen terbaik yang terbit pada tahun tertentu. Label “cerpen pilihan” yang dilekatkan pada karya-karya terpilih seolah-olah sekaligus menaklidkan pengarang dan genre cerpennya sebagai yang terbaik pada periode itu.

Hingga saat ini peran koran masih diperhitungan. Namun bersamaan dengan itu, berbagai kompetisi penulisan karya sastra juga digelar. Artinya, koran bukanlah panggung tunggal yang menjadi pertarungan antargenre dan antarpenulis karya sastra. Di luar koran ada penyelenggara dan juri sayembara yang memiliki kekuatan kultural yang juga cukup besar.

Sayembara memiliki keunggulan karena lazimnya melibatkan sejumlah juri dari latar belakang yang berbeda. Sayembara penulisan novel DKJ tahun 2017, misalnya, melibatkan akademisi (Ari J. Adipurwawidjana), sastrawan (AS Laksana) dan kritikus (Martin Suryajaya) sekaligus. Adapaun lomba penulisan novel Unnes melibatkan Seno Gumira Ajidarma (sastrawan) dan dua akademisi dari institusi yang berbeda yaitu Agus Nuryatin (Unnes) Suminto A Sayuti (Universitas Negeri Yogyakarta). Keberagaman juri mestinya menjadi modal lain yang membuat kekuatannya untuk mengukuhkan menjadi semakin kukuh.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Alumni Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *