“Cuma Kamu” Cinta

SEDULURKU TERCINTA, ini masih soal Kang Wakilan yang “kebutaan” matanya disadari sebagai “takdir” dari Gusti Allah. Dan takdir itu juga dimiliki seluruh keluarganya,buta.

Dalam segala keterbatasan itu,dia “tetap” menyisakan senyum,walau kadang juga ada marah,namanya manusia. Termasuk kesadaran takdir itu adalah bahwa dia merasa jauh dari harapan untuk menikah karena ketika saya tanya untuk menikah, dia menjawab:”Sebagai lelaki normal tentu saya kepingin,tapi siapa orang yang bisa menerima keadaan saya ini,Kiai Budi.”

Namun soal Cinta memang soal “misteri”,walau Kang Wakilan ini sadar akan ketidak-mungkinannya ini,dia punya “cara lain” untuk menghibur diri.Cara lain itu adalah betapa sebuah “kata”,dia pandang hal yang seksi ketika “dibunyikan”.

Dan kata yang “seksi” itu dia pandang “bak bidadari” dalam imajinasi yang bisa menggetarkan seluruh tubuhnya.Kata itu adalah “kamu-kamu”,yang biasanya disiarkan penyiar radio,kata “kamu” ini singkatan dari “kawula muda”.Untuk mencari kata-kata “kamu” ini,dia rela “mengembara” di seantero radio di Indonesia ini.

Dalam kondisi yang seperti itu–kita tidak bisa membayangkan betapa repotnya,dia mencari radio di seantero Nusantara yang penyiarnya itu menyebut kata “kamu”. Dari Aceh sampai Papua pernah dia jelajahi hanya untuk mencari radio yang penyiarnya menggunakan kata-kata “kamu”, kawula muda.

Sampai-sampai ada kota yang semua radionya tidak menyiarkan kata-kata “kamu”,maka dia bilang: “Aku tidak sudi ke sana lagi karena di sana tidak ada kata-kata kamu.”

Siapapun yang dekat dengan Kang Wakilan kok bilang dengan kata-kata “kamu-kamu”,maka dia pasti akan terguncang tubuhnya dan bibirnya berbisik;”Ohhh My God.” Sepertinya dia bertemu dengan “kekasih” secara mendadak karena lama tidak ketemu,dan diekspresiakn kegembiraan yang “meluap-luap”.

Demikianlah ketika saya melihat dia mendengarkan radio,dia cari “gelombang” yang hanya menggunakan kata-kata “kamu” itu.Kalau sudah ketemu gelombang itu maka dia akan “berjingkrak”,dan dunia dia anggap tidak ada,adanya ya “cuma kamu” itu.

Kemaren,ketika saya ajak ke acara,dia saya ajak tampil dengan menyanyikan lagu-lagu yang dikuasi.Setelah itu dia saya mintakan panitia untuk mencari kamar dengan terlebih dahulu membelikan “batu baterai” untuk radionya.Setelah saya tingggal jagong agak lama,dia dari kamar itu tulung-tulung keras dengan bilang:”Tulung! Tulung! Tulung!”

Seketika saya datangi dia,dan bilang:”Kiai Budi,setelah aku mendengar kata-kata kamu di berbagai radio ini,aku sakit seperti ini.Aneh! Sakitnya itu ‘di sini’.” Saya kira di bagian mana gitu,ternyata setelah saya hibur dengan “mijiti” kepala sampai kaki,dia bilang:”Ada yang aneh dalam diri saya Kiai Budi,bukan pada apa yang kau pijit itu semua,tapi ‘ini’.” Kata¬† Kang Wakilan sambil “mringis” dan pegang “anu”–nya sendiri.

Seketika saya pukuli dia:”Wong edan! Wong Edan! Wong Edan!” Dia ngakak-ngakak! Ternyata,karena over dosis mendengar kata-kata kamu itu,dia mengalami “ejakulasi”.Setelah saya tinggal lagi,dia bisa tertidur pulas.Dan begitu bangun dia minta dituntun ke kamar mandi,ternyata “mandi besar” sambil ceria “bengok-bengok” sendiri.Edan!

Kawan-kawan,betapa cuma “kata-kata” telah menjadikan sedemikian itu Kang Wakilan.Sementara banyak diantara kita yang telah menemukan “jodoh” malah “kering” dari gelora cinta,dingin,membeku.

Mustinya,yang sudah sampai “berjodoh” secara nyata ini,geloranya musti melebihi Kang Wakilan itu,namun dalam banyak kasus malah rumah tangga itu menjadi “belenggu”.Mustinya rumah itu “bak surga”,malah “bak neraka”

.Inilah “keadilan” Tuhan,inilah keadilan Tuhan,Dia menyediakan siapa saja “ruang” dalam mencercap “karunia”,walau hanya sebatas kata-kata,kata-kata “kamu”,cuma kamu itu….Tabik!

– Kiai Budi Harjono, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Semarang

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *