Cerita Tentang Bakteri yang Mengaku Bernama Homo Sapiens

Pada momen-momen tertentu, saya direpotkan oleh pertanyaan diri sendiri: apa yang membedakan manusia dengan makhluk lain? Benarkah peradaban manusia lebih baik dari binatang, tumbuhan, atau bahkan makhluk hidup kecil bernama bakteri?

Saya curiga, klaim bahwa peradaban manusia yang paling tinggi cuma klaim narsisttik tidak tahu diri yang timbul akibat antroposentrisme? Jangan-jangan, bakteri dan mahkluk kecil lain juga punya klaim yang sama: bakteri adalah makhluk terbaik di dunia?

Sebagaimana manusia, jangan-jangan bakteri juga membentuk keluarga, bermasyarakat, berpolitik, juga beragama? Jangan-jangan, bakteri yang menempel di ketiak, celana dalam, dan kelamin manusia – dalam peradaban mereka sendiri – juga mengklaim sebagai khalifah?

Manusia dan bakteri memiliki kesamaan dalam banyak hal. Keduanya sama-sama hidup. Keduanya hidup pada media (inang). Bedanya, inang bakteri adalah manusia. Adapun inang bagi manusia adalah debu angkasa bernama bumi.

Bakteri (terutama yang dengan sembrono kita sebut sebagai “bakteri jahat”) menghancurkan inanangnya. Manusia juga begitu: saban hari merusak bumi, tempat yang ditinggalinya.

Bakteri menyababkan kerusakan kulit manusia. Kadang menciptakan luka koreng pula. Sama: manusia juga merusak permukaan bumi. Kadang manusia juga mengeruk isi bumi hingga menciptakan koreng yang menganga.

Jadi, apa bedanya manusia dengan bakteri? Apakah bakteri berukuran kecil dan manusia berukuran besar?

Bakteri berukuran kecil adalah tuduhan manusia. Di sisi lain, manusia juga makhluk yang amat kecil kalau dilihat sebagai penghuni galaksi atau jagat raya. Keduanya sama-sama seperti bakteri yang menempel di debu.

Jadi, apa bedanya manusia dengan bakteri? Apakah manusia adalah yang makhluk yang berpikir dan bakteri tidak?

Setiap makhluk berpikir dengan caranya. Mereka mendayagunakan kecerdasan dan sifat biologisnya untuk mempertahankan hidupnya. Jangan narsis bahwa cuma manusia yang berfilsafat. Jangan-jangan di dunia mereka bakteri juga berfilsafat.

Salah satu bakteri itu mungkin pernah menulis buku yang dalam peradaban mereka berbobot sama dengan Also sprach Zarathustra . Bakteri lain mungkin juga ada yang pernah nulis  novel karya semacam The General in His Labyrint.  Jangan-jangan, para bakteri itu juga memiliki semacam Yayasan Nobel yang memberikan penganugerahan kepada bakter-bakteri yang memiliki gagasan paling cemerlang?

Jangan-jangan dalam dunia bakteri, di ketiak kita yang bau acem itu, ada kehidupan yang begitu kompleks di mana satu kelompok bakteri melarang pengajian kelompok bakteri lainnya.

Jangan-jangan pula, dalam dunia bakteri yang hidup dalam ketiak kita ada juga yang bernama Mark Zuckerberg dan mendirikan semacam Facebook sehingga di antara mereka bisa terhubung tanpa harus bertemu.

Jangan-jangan, dalam dunia bakteri juga ada bakteri yang mendirikan media online PORTALKETIAK.COM dan memposting tulisan berjudul “cerita tentang manusia yang mengaku bernama bakteri”.

Kita tak pernah bisa memastikan itu karena belum tersedia bahasa yang membuat manusia dan bakteri berbincang-bincang layaknya sepasang kekasih ngobrol di kafe.  Sama seperti belum tersedia bahasa bagi bintang-bintang raksasa di jagat raya untuk berbicara dengan manusia.

Manusia berkomunikasi dengan bakteri dengan memusnahkan mereka dengan antiseptic. Ketika manusia menggunakan antibakteri, hancurlah peradaban bakteri yang dibangun selama periode waktu tertentu.

Sama saja: gunung-gunung berkomunikasi dengan memuncratkan laranya. Saat itulah peradaban manusia yang dibangun selama periode tertentu hancur begitu saja.

Suatu ketika, ketika bintang-bintang raksasa menabrak bumi, bumi akan hancur dan peradaban manusia akan hancur juga.

Jadi, apa yang membedakan manusia dengan bakteri? Bakter-bakteri adalah manusia pada dunianya. Dan manusia-manusia adalah bakteri pada dunia tempatnya berinang.

Karena itu, mbok jadi manusia itu gak usah bikin rusuh-rusuh deh. Manusia sebagai makhluk hidup kan sama dengan bakteri. Proses hidupnya juga sama: lahir, hidup, kemudian mati.

Karena kita semua adalah “bakteri”, hiduplah menjadi bakteri yang baik, yaitu “bakteri” yang berguna bagi “bakteri” lain. Berbahagialah menjalani hidup yang singkat sebagai “bakteri” dengan membuat “bakteri”  lain di sekitar juga bahagia.

Kalaupun demi kepentingan mempertahankan hidup kok harus membuat sel manusia yang kita jadikan inang rusak, ya tidak apa-apa. Tapi jangan menjadi terlalu rakus membuat manusia yang kita huni terluka apalagi sampai mati.

Toh, pada saatnya, ketika “manusia” yang kita huni garuk-garuk ketiak atau mandi dengan sabun antiseptic, peradaban kita berakhir juga.

Rahmat Petuguran
Tidak suka Yakult

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *