Catatan Kelas Menulis Esai (1): Pengetahuan

Kepada Nia, Ayu, dan Anissa – tiga peserta kelas menulis esai yang datang paling awal – aku sorongkan secangkir kopi di depan mereka. “Berikan pendapatmu tentang ini,” pintaku. Ketiga mahasiswi ini duduk berseberangan meja denganku di sebuah kedai di Patemon.

Seseroang di antara mereka menyebut satu kata: hitam. Lainnya menyahuti: pekat. Dan lainnya menyahuti: dalam sebuah cangkir keramik.

Mereka melakukan sesuatu yang sama minta dengan baik: memberikan pendapat. Dari ketiga pendapat itu, semuanya benar. Setidaknya jika “benar” berarti “faktual”.

Tetapi untuk menulis esai, saya berceramah, kita tidak cukup lagi menggambarkan dengan mengandalkan pandangan mata. Jika itu yang kita tulis, tulisan yang kita akan lebih menyerupai berita daripada esai.

Lalu, bagaimana sesuatu yang “esai” itu? Menurutku, esai lebih menyerupai tanggapan personal seseroang atas sesuatu.

Tanggapan yang baik, bagiku, adalah yang dibumbui penilaian subjektif sesuai dengan wawasan dan pengetahuan kita.

Untuk mengulas kemacetan, esai tidak sekadar menampung deskripsi mengenai sesuatu yang tampak: jumlah kendaraan, orang yang terburu-buru, atau knalpot yang menyalak.

Agar menjadi esai, kemacetan perlu diihat sebagai “akibat ketidakdisiplinan pengguna jalan” – sejauh cukup argumentasi untuk mengatak itu. Dari perspektif lain, kemacetan dapat diulas sebagai “kejadian yang bersumber pada keterburu-buran, sebuah stereotip manusia perkotaan.”

Untuk menulis kemacetan sebagai berita, kita bisa mendeskripsikan ada seorang pengendara yang berteriak-teriak. Tapi untuk menjadi esai, teriakan pengendara dapat diulas sebagai “beban psikologis kelas pekerja akibat relasi korporasi yang tidak seimbang” – sejauh ada jembatan argumentasi untuk mengatakan itu.

Kepada ketiga mahasiswi itu, kusodorkan sebuah tulisan berjudul Foto Itu dan Metropolis. Kedua tulisan itu ada di halaman paling akhir sebuah majalah berita.

Pada tulisan Foto Itu, si penulis berkoemntar tentang foto karya jurnalis Nelufer Demir. Tapi penulis tak mendeskripsikan hal-hal visual. Penulis justru mengulas kebermaknaan foto itu bagi manusia dan kemanusiaan.

Pada tulisan Metropolis, penulis tak semaca berbicara tentang gedung, hiruk pikuk, kesibukan. Penulis membawa penulis pada sesuatu yang lebih dalam: ketidakadilan.

Saya kira, itulah esai.

Agar sampai pada pencapaian itu, sekali lagi, esai tak cukup jika ditopang dengan deskripsi hal-hal yang indrawi. Seorang penulis esai perlu melakukan analisis dan refleksi.

Kualitas analisis seseroang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Begitu pula kemampuan reflektifnya. Salah satu hal yang paling mempengaruhi adalah: pengetahuan.

Ya, pengetahuan. Itu modal yang sangat penting saat seseroang tergerak menulis esai.

Pria bernama Sherlock Holmes, jika kita anggap dia benar-benar ada, bisa melakukan analisis mendalam tentang hal-hal visual hingga bisa menyimpulkan sesuatu secara akurat. Metode analisis itu sering disebut deduksi. Kemampuan deduksi mustahil dimiliki seseroang tanpa pengetahuan yang baik.

Atau contoh lain: Kolonel Frank, pensiunal Angakatan Laut Amerika. Saat naik pesawat, pria buta ini bisa menyapa seorang pramugari dengan nama yang tepat. Padahal, Frank tak pernah melihat apalagi kenal pramugari itu.

Ternyata, Frank mencium aroma parfum si pramugari. Aroma parfum itu ternyata unik hanya dimiliki parfum merk tertentu. Merek itu hanya diproduksi oleh pabrik yang berada di kota tertentu. Nah, Frank ternyata tahu bahwa gadis di kota tersebut menggunakan nama depan yang sama. Makanya, Frank bisa menebak nama depan si gadis.

Dengan pengetahuan yang cukup, deduksi Frank bisa dilanjutkan untuk membaca kecenderungan politik si gadis, latar belakang sosiokulturalnya, dan sikapnya terhadap seks.

Singkatnya, diperlukan pengetahuan yang cukup agar analisis tak berakhir sebagai kengawuran.

CATATAN:
Kelas Menulis Esai difasilitasi Kang Putu dan Achiar M Permana, pemilik Kedai ABG, diselenggarakan tiap Selasa malam. Pada pertemuan pertama, hadir pula Lintang Hakim, dan Muhammad Sholekan. Putaran kedua Kelas Menulis Esai akan dilaksanakan pada Selasa (8/12) di tempat yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.