Catatan 9 Harjanto Halim: Tebak-Tebakan

Otak senantiasa menuntut jawab rasional atas kejadian atau fenomena. Kenapa kok bisa terjadi? Kenapa kok begitu?

Dulu, dulu sekali, saat gempa dan tsunami terjadi, Nyai Roro Kidul dianggap biang keladi. Ribuan bala tentara Sang Nyai diyakini datang menyerbu daratan. Bumi gonjang, langit ganjing. Bumi dan langit gonjang-ganjing.

Gunung jeblug, segara asat. Gunung meletus, lautan surut. Nyai Roro Kidul sedang ‘nesu’. Itu deskripsi yang ‘terjangkau’ nalar kala itu; saat manusia berusaha mencerna dan mencitra tsunami atau gempa bumi. Logika masa lalu, tumbuh dan mengakar, menjadi legenda yang kini disegani.

Saat gerhana matahari terjadi, kisah sang raksasa menelan sang surya pun diamini. Segala dandang dan kentongan dipukul beramai-ramai, menciptakan keriuhan untuk menakut-nakuti. Kemenyan dibakar, kembang disemburkan, doa dipanjatkan; anak-anak dan wanita hamil disembunyikan di bawah kolong. Gerhana matahari adalah pageblug yang ditakuti. Untung mantra dan doa, asap kemenyan serta suara keras dandang dan panci, mampu mengusir san raksasa jahat. Matahari pun dilepeh kembali. Hmm…

Kita mencoba mengkaitpautkan segala hal yang terlintas di pikiran, mulai dari yang bisa dinalar hingga yang tidak masuk di akal – untuk memuaskan keingintahuan yang tak terbendung. Lalu kita menciptakan kisah-kisah. Kisah-kisah yang diyakini sangat rasional – saat itu. Tak jarang dibumbui keajaiban dan nafas metafisika untuk menjembatani logika atau fakta yang belum terjangkau; diceritakan turun-temurun menjadi mitos dan legenda, yang akhirnya diyakini sebagai kisah dan kesaksian yang terlalu sakral untuk disangsikan.

Pernah dengar tebakan ini?
“Budi punya dua apel, Bambang punya lima apel. Jika jarak rumah Budi dan rumah Bambang adalah 10 kilometer. Berapa derajat suhu di matahari?”

Bingung? HªHŪHÁª. Jangan khawatir jika tak bisa menjawab. Saya yang mendengar tebakan ini juga bingung. Dua anak saya, si Sulung dan si Tengah tertawa, lalu menjawab bareng: “Zero degree..!!”

Saya ndak mudheng. “Kok bisa ‘zero degree’?,” tanya saya – blank total, wajah penuh tanda tanya.

Kembali anak anak tertawa, lalu menjawab, “….because the aliens wear purple hats…!”

HªHŪHÁª. Saya terpaksa ikut tertawa; mulai mudheng. Ini model tebakan maksa. Apapun jawabannya – tidak masalah, lha wong pertanyaannya juga tidak relevan; tidak terkait paut satu sama lain. Ngawur saja ndak masalah.

“Kenapa nol derajat?” Karena: “…kucing suka dielus…” Itu juga benar!

HªHŪHÁª. Kebenaran, tergantung otoritas pemberi jawaban. Tiap masa selalu muncul narasi yang diciptakan oleh orang-orang yang punya otoritas, untuk menjelaskan fenomena; untuk memberi makna. Penyakit kanker dan autis, pemanasan global dan teroris – suatu saat di masa entah kapan – akan bisa dijelaskan lebih gamblang. Teori dan pemikiran yang kini dianggap benar, suatu saat akan terdengar absurd. Tapi untuk masa kini, itulah kemutlakan yang diyakini – sebagai kebenaran.

Suatu saat, di masa entah kapan, dalam rentang ratusan, bahkan ribuan tahun. Sayang umur kita tak kan sepanjang itu.
“Kenapa nasib saya seperti ini?”
“Kenapa itu terjadi pada saya?”

Hmm…, untuk sementara, kita hanya bisa main tebak-tebakan.
“Mungkin karena ada kupu-kupu ungu hinggap di topimu.”
Atau, “Mungkin karena jari telunjukmu lebih tinggi daripada jari tengahmu…”
Atau, “Mungkin karena namamu tigabelas huruf.”
Hehehe.

“Berapa derajat suhu di matahari?”

Juni, 2013

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *