Catatan 7 Harjanto Halim: Belajar Malu

Lha ibuk-e terus isone opo?,” tanya saya.
Isone maido…!” jawab si Bapak dengan kalem.

Saya diminta memberi wejangan seputar budaya Imlek di sebuah SD. Saya belum tahu apa yang akan saya katakan nanti. Mungkin akan saya ajarkan pada anak-anak cara bersoja atau pai yang benar. Bersoja dengan tangan kanan dikepal, lalu dibungkus tangan kiri. Kepada teman seusia, bersoja setinggi dada, kepada orangtua atau guru setinggi hidung, kepada Thikong atau Tuhan di atas kepala. Apa lagi ya?

“Ke Kalisari, pak…,” kata saya pada pak sopir agar menuju ke pasar bunga.

Saya akan membeli bunga sedap malam, ah. Akan saya tunjukkan kepada anak-anak, bunga sedap malam adalah kelengkapan sembahyang Imlek yang tak pernah ketinggalan.

Saya sampai di Kalisari. Saya bertanya pada seorang penjual bunga apakah jual bunga sedap malam.

“Habis mas..,” kata mereka.

Saya mencoba ke beberapa kios. Ternyata semua kehabisan stok. Mungkin diborong saat Imlek kemarin. Yang ada malah bunga mawar. Banyak sekali. Oya, saya lupa. Hari ini pas Valentine’s Day. Ada mawar berbagai warna: merah, putih, pink, orange dan ungu.

Saya sampai di kios ke-empat.  “Punya sedep malem, buk?,” tanya saya.

“Kari iki tok, mas…,” jawab si ibu sambil menunjuk ke ember berisi belasan tangkai sedap malam.

“Piro buk…?,” tanya saya mengamati sedap malam yang kurang segar.

“Rongewu limangatus…”

Saya membeli sepuluh tangkai. Saya minta dirangkaikan sekalian. Seorang bapak mendekat, rupanya suami si ibu. Dia mengambil 10 tangkai sedap malam. Dia potong bagian bawah tangkainya dengan kemiringan dan panjang yang sudah terpola. Si Bapak mengambil beberapa helai daun pressi, selembar plastik dan kertas putih. Dengan fasih ia merangkai bunga dan daun.

“Sebentar pak…,” kata saya. Tiba tiba terpikir, ada baiknya sedap malam dicampur mawar. Kan pas, Imlek dan Valentine’s. Hehehe. Saya mengambil beberapa tangkai mawar merah.

“Maware piro, buk?,” tanya saya.

“Sepuluh ewu…,” jawab si ibu.

“Lha kok larang men… Nek orak Valentine’s piro?,” tanya saya sambil mencium mawar yang saya pegang.

“Limang ewu… Iki mawar setengah Holland…, tidak ada durinya…,” kata si ibu.

Saya memegang tangkai mawar. Betul, tidak berduri. Hebat ya. Ternyata tak semua mawar berduri. Hmm… Adakah wanita cantik yang tak berduri-hati?

Si Bapak yang memakai t-shirt yang sudah pudar warnanya segera merangkai mawar dan sedap malam. Cak-cek, cak-cek, trampil sekali.

“Kok pinter to pak… Isa merangkai…,” kata saya.

Si Bapak menjawab sambil membungkus bunga yang telah dirangkai dengan kertas dan plastik.

“Ya sudah biasa, mas… Malah di sini yang merangkai, semua laki laki…” Si Bapak tersenyum.

Saya menoleh ke ibu penjual.

“Moso sih?,” tanya saya kurang yakin.

Si ibu mengiyakan.

Lha ibuk-e terus isone opo (Lha ibunya bisa apa?)?,” tanya saya.

Isone maido…! (Bisanya mengkritik),” jawab si Bapak dengan kalem.

Saya tertawa. Si ibu ikut tertawa.

Si Bapak selesai merangkai.

“Apik, yo…,” kata saya memuji.

“Yo mas, nak elek aku sing isin, mas… (Kalau jelek saya yang malu, mas),” kata si Bapak.

“Ben murah, kudu apik… Lho kuwi gaweane sopo… (Biarpun murah, harus baik… Lho itu buatan siapa)?,” imbuh si Bapak sambil merangkai pita warna merah, lalu menyerut ujung pita yang menjuntai dengan bagian pisau yang tumpul. Ujung pita mlungker dengan indahnya.

Saya mengucapkan terima kasih.

Di dalam mobil saya mengamati rangkaian bunga mawar dan sedap malam yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Sebuah sikap profesional – selalu memberikan yang terbaik demi menjaga reputasi. Kita mungkin bisa belajar dari bapak perangkai bunga, bagaimana memberdayakan rasa malu pada konteks yang tepat. Malu jika hasil kerjanya mengecewakan, malu jika gagal memberikan yang terbaik. Tapi sungguh ironis, kini rasa malu hanya bercermin pada keberlimpahan materi dan wanita simpanan. Malu jika henponnya jadul, malu jika mobilnya kacangan, malu jika tidak punya selingkuhan. Hehehe. Sungguh sayang sekali. Mungkin itu yang harus saya ajarkan pada anak anak nanti? Bagaimana menumbuhkan rasa malu. Hmm…

“Parkir, pak…,” kata sopir saya meminta uang untuk membayar parkir.

Saya terhenyak dan segera memberikan selembar uang lima ribuan.

“Susuk…,” kata sopir saya seraya mengulurkan uang kepada juru parkir.

“Wah mboten enten susuk…,” jawab si juru parkir kelabakan. Mungkin mobil kami yang pertama.

Sopir saya bergeming. Akhirnya juru parkir mengalah. “Yo wis…, simpen sik…,” katanya pasrah dan mengembalikan uang lima ribu.

Saya diam saja sedari tadi. Juru parkir mulai memberi aba-aba. “Prittt…, pritt..!!”

Mobilpun bergerak, saya tergerak. Ada malu di hatiku.

“Berikan saja, pak…,” kata saya pada pak sopir.

Dan sopir saya segera membuka kaca jendela dan mengulurkan uang yang tadi telah diikhlaskan pak juru parkir. Pak juru parkir menerima uang dari sopir saya dengan raut sumringah.

“PRITTT…, PRITTTT…!!” Sempritannya terdengar keras dan nyaring; memecah pagi.

Pebuari 2013

Sumber gambar: Kaskus

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *