Cara Ki Hajar Dewantara Menjadi Pribadi Merdeka

Kemerdekaan menjadi salah satu hal yang diidamkan oleh banyak orang. Bukan hanya bagi sebuah bangsa, kemerdekaan juga penting bagi setiap jiwa. Dengan kemerdekaan, jiwa bisa menemukan jati dirinya. Dengan kemerdekaan pula, jiwa bisa tumbuh subur, menulang seperti pohon redwood. Bagaimana mewujudkannya?

Kemerdekaan jiwa tidak sama dengan kemerdekaan badan. Jika kemerdekaan badan biasanya hilang karena halangan fisik, kemerdekaan jiwa terhalang oleh hal psikologis. Ketakutan, ketidakpercayaan diri, dan phobia adalah contoh jiwa tidak merdeka. Kebodohan dan ketidaktahuan juga menjadi penghalang terwujudnya kemerdekaan jiwa.

Ketika Perguruan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, salah satu misinya adalah mewujudkan manusia berjiwa merdeka. Dengan pendidikan, Ki Hajar ingin membuat manusia Indonesia bebas dari kebodohan dan ketakutan. Jika sudah menjadi cerdas dan berani, manusia Indonesia bisa menentukan masa depannya sendiri.

Pada masa penjajahan, jiwa merdeka sangatlah diperlukan agar manusia Indonesia bisa menjadi manusia merdeka. Setelah Indonesia merdeka, Tamansiswa mengalihkan tujuan untuk mendidik jiwa merdeka  guna mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia, yaitu merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur. Jiwa merdeka adalah cara berpikir yang positif, berperasaan luhur dan indah,  dan berkemauan mulia.

Berpikir  positif artinya memahami sesuatu secara obyektif sesuai apa adanya Segala sesuai tidak perlu ditanggapi dengan kekhawatiran, kecurigaan, syirik, iri hati, isue, gosip, apalagi fitnah. Berperasaan luhur dan indah artinya dalam mempertimbangkan dan menghayati sesuatu harus didasari petunjuk Tuhan menurut agamanya dan menyejahterakan serta membahagiakan diri dan umat manusia pada umumnya. Berkemauan mulia adalah kemauan untuk hidup tertib damai (tata tentrem) dan salam bahagia (karta raharja).

Ada sepuluh nasihat Ki Hajar bagi kita yang ingin memiliki jiwa merdeka. Pertama, lawan Sastra Ngesti Mulya. Artinya, orang yang merdeka selalu berpedoman bahwa dengan ilmu dicapai kebahagiaan. Karena itu orang yang hidup merdeka selalu menuntut ilmu sepanjang hayat.

Kedua, suci Tata Ngesti Tunggal. Artinya orang yang merdeka berpedoman bahwa “Dengan ikhlas/rela berkorban dan swa disiplin dicapai kesatuan persatuan dan kesempurnaan”. Orang yang hidup merdeka selalu bersikap ikhlas, rela berkorban, disiplin, mengupayakan kesatuan persatuan, dan mengupayakan hasil kerjanya sesempurna mungkin.

Ketiga, hidup tertib damai. Tertib teratur, tertata, dan rapih. Damai tidak suka bermusuhan, selalu bersahabat. Orang yang merdeka hidupnya selalu tertib, disiplin, teratur, rapi, dan selalu bersahabat dengan sesama manusia.

Keempat, dalam keadaan apa pun selalu salam dan bahagia. Salam artinya sejahtera lahir, merasa tercukupi kebutuhan sandang, pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan, dan hiburan. Bahagia artinya merasa terpenuhi kebutuhan batin. Orang yang merdeka selalu mau mensyukuri dan menikmati dari apa yang ada. Mereka tidak mengeluh, tidak menyesali diri, dan tidak menyalahkan orang lain. Mereka bersabar menikmati apa yang ada sambil terus berikhtiar.

Kelima, alam hidup manusia adalah alam perbulatan. Yaitu alam diri (individu), alam keluarga, alam masyarakat, alam bangsa, dan alam dunia Kelimanya saling berkaitan, saling membatuhkan. Orang yang merdeka tidak mau hidup menyendiri. Mereka saling bekerjasama dengan keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat manusia sedunia.

Keenam, salam bahagia diri tidak boleh menyalahi salam bahagianya hidup bersama. Artinya dalam mensyukuri dan menikmati apa yang ada tidak boleh menyalahi ketentuan / norma keluarga, masyarakat, bangsa, ataupun dunia. Kita bebas menggunakan hak tetapi harus seimbang dengan kewajiban kita terhadap masyarakat, bangsa, dan umat manusia sedunia.

Ketujuh, berpikir positif dan bersemangat optimistis. Artinya orang yang merdeka selalu menghindari pemahaman secara negatif, dan dalam berusaha selalu optimis akan berhasil.

Kedelapan, bersemboyan madep, mantep, karef, dan antep. Madep artinya  berkonsentrasi kepada cita-cita dan tujuan. Mantep terhadap pilihannya sendiri. Karep berarti selalu berkemauan keras untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Adapun antep, berbobot, berkualitas dan profesional.

Kesembilan, bersemboyan kendel, kandel, bandel, ngandel. Kendel berarti berani menanggung resiko dalam beruang. Kandel berarti mampu menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan. Bandel berarti kebal terhadap kritik yang negatif dan godaan. Dan ngandel berarti dapat dipercaya kejujurannya, keadilannya, dan kebenaran serta kebaikannya.

Kesepuluh, dalam menghadapi masalah berpedoman neng, ning, nung, nang. Neng, meneng, diam, berkonsentrasi, tidak grogi, dan tidak gelisah, apalagi menyalahkan orang lain. Ning, hening, memerlukan petunjuk Tuhan sambil mencari alternatif pemecahan. Nung, hanung, merenung, mempertimbangkan resiko yang akan terjadi bila pilihan itu dilakukan. Nang, wenang, dilaksanakan dengan keyakinan akan menang. foto: sahabatmkaa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.