Budaya Membaca dan Membaca Budaya

Berdasarkan studi “ Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat 60 dari 61 negara terkait soal minat membaca. Indonesia tepat berada di bawah Thailand dan di atas negara Botswana.

Itulah salah satu informasi yang disampaikan Bapak Bimbong Yogatama, SH, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang pada acara Safari Gerakan Nasional Membaca yang diselenggarakan oleh Perpusnas di Gedung Moch. Ichsan Lt.8 Kompleks Balaikota Semarang pada Senin, 16 Maret 2018 lalu.

Sebagai guru yang setiap hari tidak pernah lepas mengingatkan siswa untuk membaca, temuan tersebut tentu membuat kita mengelus dada dan bertanya-tanya, bagaimana itu bisa terjadi? Padahal pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti sebagai salah satu upaya untuk menanamkan dan membudayakan pendidikan karakter positif siswa, satunya dengan kegiatan membaca di sekolah.

Lalu mengapa dengan adanya Permendikbud tersebut minat membaca masih rendah?

Budaya Membaca dan Membaca Budaya

Hemat kami, salah satu penyebab rendahnya minat baca bangsa Indonesia adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk membaca. Mari kita lihat salah satu ilustrasi aktifitas masyarakat berikut, saat akhir pekan lebih banyak masyarakat ke mall  daripada ke toko buku.

Dari gambaran tersebut, tanpa penelitianpun masyarakat awam bisa menilai, bahwa aktifitas masyarakat untuk membaca masih rendah dibandingkan kegiatan lainnya. Sehingga salah satu dampak negatifnya siswa sebagai salah satu anggota masyarakat, ada juga yang ikut terbawa arus kebiasaan tersebut akibat pengaruh budaya masyarakat di lingkungan masing masing.

Oleh sebab itu, guru sebagai insan pendidikan hendaknya peka dan tanggap dengan adanya fenomena tersebut. Selain itu, guru hendaknya juga lebih bisa membaca perkembangan budaya masyarakat dan terpanggil untuk lebih menumbuhkan budaya membaca masyarakat lebih masif lagi agar masyarakat menjadi lebih progesif.

Namun untuk menuju masyarakat berbudaya membaca yang mampu menumbuhkan kebiasaan atau budaya membaca budaya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Ada beberapa tantangan untuk menumbuhkan budaya karakter positif tersebut.

Hemat kami ada empat tantangan yang sangat berpengaruh, diantaranya adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk membaca, termasuk masyarakat pendidikan, dan masyarakat dalam arti luas. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian oleh Central Connecticut State University yang menyatakan rendahnya minat baca tersebut.

Benar memang, saat ini sudah media sosial, namun penggunaannya masih sebatas untuk membaca pesan belaka dan belum maksimal penggunaannya untuk penyebaran konten positif termasuk konten pendidikan yang membangun budaya membaca dan membaca budaya.

Tantangan kedua adalah masih ada masyarakat “gaptek” akan kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi. Kondisi ini biasanya dialami oleh generasi old  yang cenderung familier dengan informasi yang berasal dari kertas. Sehingga dengan perkembangan iptek yang begitu cepat, selain informasi dari pemerintah kurang maksimal, generasi tersebut juga cukup keropatan dalam mengikuti dan menyerap informasi digital.

Tantangan yang ketiga adalah aktifitas masyarakat yang begitu padat. Hal ini biasanya dialami oleh kaum pekerja dimana kemungkinan aktifitas untuk membaca sangat kecil. Memang, hal ini tidak bisa dijadikan patokan, tetapi bukti di lapangan banyak pekerja yang tidak sempat membaca karena terkendala macet dan faktor lain.

Kemudian tantangan terahir adalah minimnya quality time antar anggota masyarakat. Maksud quality time di sini adalah minimnya komunikasi langsung antar anggota masyarakat. Sehingga terkadang, arus informasi hanya sepotong sepotong atau tidak langsung sampai ke anggota masyarakat lainnya secara utuh.

Kolaborasi

Ya, kolaborasi sangat penting digunakan untuk membentuk budaya membaca masyarakat sebagai langkah awal dalam membaca budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jadi sudah bukan eranya lagi langkah positif membudayakan budaya dilakukan sendiri-sendiri tanpa kerjasama atau komunikasi antar elemen masyarakat.

Selain itu, kolaborasi adalah salah satu unsur penting dalam konsep keterampilan  abad 21 yang meliputi komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta kreativitas dan inovasi ini sangat cocok diterapkan dalam pendidikan di tanah air, baik pendidikan di sekolah maupun pendidikan di masyarakat.

Kolaborasi sebagaimana dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan kerjasama atau bekerja sama. Sehingga dalam hal ini, bentuk kolaborasi atau kerjasama yang dapat dilakukan guna membentuk budaya membaca agar masyarakat bisa membaca budaya dengan baik adalah kolaborasi menyeluruh atau kolaborasi antar semua elemen masyarakat yaitu elemen pemerintah, masyarakat dan sekolah sebagai unsur dari pendidikan.

Lalu bagaimana idealnya bentuk kolaborasi? Berdasar uraian di atas, hemat kami ada tiga bentuk kolaborasi positif yang digunakan untuk membentuk budaya membaca dan membaca budaya dalam masyarakat dengan baik.

Yang pertama adalah kolaborasi antar pemerintah dengan masyarakat. Bentuk kolaborasi yang bisa diterapkan yaitu kerjasama antar pemerintah dengan masyarakat dalam menentukan kebijakan yang hendak diterapkan oleh pemerintah.

Konkritnya sebelum kebijakan ditetapkan, pemerintah bisa meminta pertimbangan masyarakat sehingga saat penerapan di lapangan masyarakat tidak kaget dan program kebijakan pemerintah tersebut bisa terserap maksimal oleh masyarakat, termasuk dalam progam literasi masyarakat dalam bentuk Gerakan Pembudayaan Gemar Membaca.

Selain itu, pemerintah juga bisa berkolaborasi dengan komunitas membaca atau komunitas literasi seperti klub baca, Pusat Kegiatan Masyarakat, atau perpustakaan yang dikelola masyarakat untuk menyukseskan gerakan literasi masyarakat sehingga “Bu LiSa” ( Budaya Literasi MaSyArakat) bisa tumbuh, berkembang dan membudaya di masyarakat.

Yang kedua adalah kolaborasi antara sekolah dengan pemerintah. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah tidak hanya membaca selama 15 menit sebelum pelajaran. Tetapi pemerintah dan sekolah juga berkolaborasi menindaklanjuti progam tersebut agar tidak hanya berhenti di membaca saja.

Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain dengan menghasilkan produk dari membaca seperti rangkuman atau intisari dari apa yang dibaca sehingga siswa bisa menerapkan amanat, nilai positif atau inspirasi dari apa yang sudah dibaca.

Selain itu, membuat buku juga bisa dilakukan oleh pemerintah dan sekolah guna menindaklanjuti gerakan membaca di sekolah tersebut. Sehingga harapanya dengan adanya produk yang dihasilkan dari membaca, gerakan literasi nasional tidak hanya berhenti pada event lomba saja. Tetapi  bisa menginspirasi semua elemen agar bisa membaca budaya dan mengahargainya sebagai kekayaan bangsa.

Yang terakhir, kolaborasi antara sekolah dengan masyarakat. Bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan adalah dengan memaksimalkan peran komite sekolah, paguyuban kelas, dan orang tua siswa baik dalam pembelajaran di sekolah atau dalam bentuk bimbingan terhadap siswa. Sehingga komunikasi yang terjalin antara sekolah dan masyarakat tidak hanya saat menerima rapot saja. Melainkan bisa terpogram dan berkelanjutan yang berdampak positif dalam perkembangan anak baik di sekolah maupun di rumah.

Selain itu, masyarakat juga bisa berkolaborasi dengan sekolah dalam hal pengawasan sikap dan perilaku siswa saat mereka sudah tidak di lingkungan sekolah tersebut. Dampak yang ada dari pengawasan masyarakat diantaranya adalah penyimpangan sikap, dan perilaku negatif dari siswa semakin berkurang dan karakter positif siswa semakin meningkat.

Namun, agar kolaborasi antar unsur tersebut maksimal, komunikasi serta komitmen dari semua unsur sangat dibutuhkan di dalamnya. Karena dengan komunikasi, komitmen, serta disiplin positif, dan juga kesamaan visi pola kolaborasi antar elemen tersebut akan berlangsung terus menerus dan berkesinambungan tentunya demi keberlangsungan tumbuhnya budaya positif bangsa.

Dan harapannya dimulai dari budaya membaca yang “dipaksakan” kepada siswa setiap 15 menit sebelum pembelajaran di sekolah, sebagai bagian masyarakat dan agen membaca yang baik bagi orang tuanya di rumah, siswa bisa berperan langsung dalam gerakan literasi masyarakat melalui aktifitas keseharian mereka di lingkungan masing-masing.

Sehingga dengan tumbuhnya budaya membaca di masyarakat yang salah satunya melalui siswa tersebut, hubungan positif kebiasaan aktifitas membaca dan membaca budaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat semakin meningkat dan kelestarian budaya sebagai kekayaan negara tetap terjaga dan semakin berkembang serta mampu menjadi kebanggan bangsa di dunia internasional.

Dan budaya bangsa sebagai kekayaan dan kekhasan negara menjadi semakin kuat dan bisa menjadi benteng pencegah disintegrasi atau perpecahan bangsa yang saat ini gencar merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. Tentu demi Indonesia yang berbudaya dan lebih berkarakter.

Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd.

Guru  SDN Kalibanteng Kidul 01. UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.