Bocah Milenium

Fenomena ‘Generasi Millenium’ kembali diulas majalah ‘TIME’ edisi paling anyar. Generasi super narciss, dimana semua hal harus berorientasi pada dirinya, disebut pula sebagai ‘Me Me Me Generation’. Foto-foto close-up bersama hewan peliharaan atau makanan kesukaan, berjibun di file HP. Disinyalir salah asuhan menjadi penyebab utama anak-anak menjadi over-pede. Mereka diindoktrinasi dalam fatamorgana semu; self-esteem dipompa habis-habisan, narciss menggelembung di luar kewajaran.

“Aduhhhh, anak ciyapa niiiii…, cakepppnya…., kayak bidadari princessss….!”

Dan si anak dengan bobot ‘kelas-berat’, terkekeh riang sambil ngemplog hamburger.

Saat beranjak dewasa, si anak hidup melayang dalam pujian overdosis yang mengisi jiwanya yang kosong. Bocah Millenium terlalu dijaga dan disayang; tak boleh terjatuh atau tersinggung. Kuatir bathinnya retak dan terluka, c’tar tak tersembuhkan. Frustrasi dan emosi bergaung dalam jiwanya yang telat matang.

“Jaman dulu, hidup susah…, anak-anak banyak… Tak pernah dapat jeruk utuh…, selalu harus dibagi…,” ujar mama mertua membandingkan anak-anak masa kini yang dibanjiri keberlimpahan barang maupun perhatian. Sesungguhnya hidup susah adalah pelajaran sesungguhnya.

Saya teringat, seorang motivator pernah bercerita. Dulu waktu dia masih kecil dan ada yang berulang tahun di keluarganya, sang mama akan bangun pagi-pagi untuk masak misoa dan merebus telur. Sang mama merebus 2 butir telur yang dicelup dalam kesumba merah. Satu telur untuk yang berulang tahun, satu lagi dibagi untuk saudara-saudaranya. Suara sang motivator tercekat, wajahnya sendu. Ia menelan ludah, seakan masih merasakan gurih telur rebus bikinan mamanya. Duhhh…!!

Bandingkan dengan ultah ‘sweet-seventeen’ Bocah Millenium yang dirayakan dengan gegap-gempita di hotel bintang 5 dengan cake tujuh tingkat.

“Kok cake nya cuman segini?”

Cuman segini? CUMAN SEGINI???? Bandingkan – sebutir telur rebus merah dengan segala cake dan keberlimpahan. Bocah Millenium tak pernah diajari berbagi. Kamar tidurnya seluas rumah RSS, penuh kado yang belum sempat dibuka. Semua mainan adalah miliknya. Egonya dijunjung setinggi singgasana.

*sigh, sigh*.

Lha terus piye? Apakah taraf hidup kudu diturunkan? Pindah ke gubug reot? Anak disuruh naik angkot? Suruh jalan kaki tanpa sepokat?

Ada kenyataan menarik menurut majalah TIME – teknologi digital telah ‘menyamaratakan’ status sosial. Harga gadget makin terjangkau, anak-anak kalangan menengah ke bawah punya akses yang sama. Tukang becak, tukang sayur, juga para pembantu, tak pernah melepas henpon dari tangan mereka. Mereka juga narciss, mereka juga egois.

Lalu bagaimana mendidik ‘Bocah Millenium’? Haruskah berbeda? Bola di tangan kita, para orangtua. Dari dulu dunia selalu berubah. Di masa kita, kitalah si ‘Bocah Millenium’ yang super badung, egois dan sak-karepe dewe. Dua ribu tahun yang lampau, seorang Bunda Maria sempat galau dan senewen, melihat dan mendengar ‘putra’nya membuat kalang kabut para petinggi Yahudi.

Tiap anak adalah ‘Bocah Millenium’. Coba tanya orangtua kita, sefrustrasi apa mereka saat membesarkan kita dulu…. HªHŪHÁª.

Mei, 2013

Harjanto Halim
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *