Bisakah Sains Membantu Jomblo Menemukan Jodoh Idamannya?

Beberapa hari lalu teman dekat saya ada yang mendadak nanya. “Mas, menurutmu, aku berjodoh sama dia nggak?”

Saya tidak menanyakan subjek yang namanya ia ganti dengan kata ganti orang ketiga itu, sebab saya tahu persis siapa orangnya.

Saat itu, saya tidak bisa memberikan jawaban. Menurutku, soal jodoh dan perjodohan adalah perkara rumit yang tidak cukup dijawab dengan beberapa kalimat. Lewat tulisan ini saya ingin menjawabnya.

Pertama-tama, yang saya ketahui, jodoh adalah sebuah mekanisme sosial. Meskipun tampak rumit, di sana dapat diselidiki sebab musababnya. Karena mekanisme sosial, perjodohan bisa diurai varibel dan kemungkinan-kemungkinannya.

Hal pertama yang memungkinkan perjodohan terjadi adalah perjumpaan. Ya, pertemuan, baik dalam bentuk tatap muka, pertemuan virtual, atau jenis pertemuan lainnya.

Variabel pejrumpaan itulah yang bikin banyak orang berjodoh dengan teman sekolah, teman kuliah, tetangga sekampung, teman sekantor, teman nongkrong, dan lainnya.

Namun pertemuan cuma syarat awal. Yang membuat perjumpaan bisa terkonversi jadi perjodohan adalah interaksi yang muncul akibat ketertarikan.

Para ahli psikologi sosial telah meriset, sebagian besar laki-laki adalah makhluk visual. Mereka tertarik dengan lawan jenis yang menurut mereka cantik. Adapun perempuan adalah jenis yang memerlukan jaminan dari ketidakpastian. Karena itu, mereka senang dengan laki-laki yang dapat menjamin keamaan: keamanan fisik, finansial, maupun sosial.

Karakter itulah yang bikin perempuan lebih senang laki-laki -sehat-kuat, kaya, dan kalau bisa: berkuasa.

Hingga di situ, barangkali temanku itu akan bertanya, “Teman-temanku banyak yang lebih cantik dari dia, tapi kenapa aku jatuh cinta dengan dia?”

Cantik, tampan, baik hati, berkepribadian baik adalah kualitas yang hanya hidup dalam benak. Konsep cantik adalah hasil akumulasi dari berbagai jenis pengalaman estetik yang diperoleh seseorang melalui pengalaman sehari-hari selama hidupnya.

Penilaian seseorang terhadap kecantikan bergantung kepada kawan main saat bocah, iklan dan film yang ia tonton, novel yang ia baca, dan aktivitas budaya lainnya.

Kalau mau dikonkretkan, konsep cantik adalah semacam lingkaran besar yang di dalamnya terisi lingkaran yang lebih kecil hingga lingkaran terkecil membentuk titik. Semakin mendekati titik pusat, semakin ideal.

Saat seorang laki-laki memilih pacar atau istri, mereka memang akan mempertimbangkan perempuan-perempuan tercantik dalam lingkaran pergaulannya. Tetapi, tidak selalu yang terpilih adalah yang tercantik.

Pasalnya, laki-laki pasti menginginkan hubungan yang seimbang. Kamu harus memilih perempuan yang tidak terlalu cantik untuk mengimbangi dirimu sendiri, yang – maaf – tidak terlalu ganteng. Maka, wajar, kalau kau justru jatuh cinta pada perempuan dengan “skor” kecantikan menengah. Adapun perempuan tercantik tetap kau eliminasi sejak awal.

Lalu, apakah orang yang kini kau taksir itu akan menjadi jodohmu? Ini inti dari pertanyaannmu, bukan?

Kalau yang kau maksud sebagai jodoh adalah pernikahan, itu bergantung pada kesepakatan. Kesepakatan, kamu pasti tahu, adalah hasil negosiasi. Dan dalam proses negosiasi, orang perlu strategi dan kesungguhan agar bisa “goal”.

Siapa pun menikah untuk sebuah tujuan primer: bahagia. Kalau kau bersungguh-sungguh ingin mengajaknya berkeluarga, berstrategilah meyakinkannya bahwa kebahagiannya tampak nyata ada dalam dirimu. Semakin tepat startegimu, semakin dekat jodohmu.

Pernah dengar kisah dua anak muda yang diminta memilih bunga terindah dalam sebuah taman kan? Aturan mainnya, pemuda itu hanya boleh memilih satu bunga. Dan dia tidak boleh melangkah mundur.

Pemuda yang pertama selalu ragu. Ketika ia mendapati bunga yang menurutnya cukup indah, dia khawatir menyesal akan menemukan bunga lain di depannya yang lebih indah. Keraguan terus membayanginya hingga ia melewati seluruh taman. Lantaran ia tidak boleh mundur, ia tidak mendapatkan apa pun.

Pemuda kedua lebih beruntung. Begitu ia masuk taman, ia langsung memetik bunga yang terindah. Dia kemudian menutup mata sambil lari hingga melewati seluruh taman. Ia berbahagia karena keluar membawa bunga (yang menurutnya) terindah.

Tapi perjodohan juga soal kemauan. Saya teringat pidato Soekarno dalam sidang BPUPKI 1 Juni 1945, menjelang kemerdekaan.

Dia termasuk orang yang ingin Indonesia segera merdeka karena merdeka itu soal kemauan, bukan soal kesiapan. Siap atau tidak, itu urusan nanti.

Untuk mengungkapkan pemikirannya itu, Soekarno kurang lebih bilang begini;

Ada sepasang laki-laki dan perempuan cuma mau menikah setelah rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, mungkin mereka baru nikah setelah punya semuanya. 

Tapi kalau sepasang laki-laki dan perempuan ingin menikah walaupun cuma tikar pandan, ya menikahlah mereka.

Rahmat Petuguran
(sedang jadi) Konsultas Perjodohan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.