Bisakah Sains Membantu Jomblo Menemukan Jodoh Idamannya?

Kawan dekat saya mendadak mengajukan pertanyaan yang sulit. “Mas, menurutmu, apa aku berjodoh dengan dia?” Saya tidak menanyakan subjek yang namanya ia ganti dengan kata ganti orang ketiga, sebab saya tahu persis.

Saat itu, saya tidak bisa memberikan jawaban. Menurutku, soal jodoh dan perjodohan adalah perkara rumit yang tidak cukup dijawab dengan beberapa kalimat. Status ini akan menjadi pengganti jawabanku.

Pertama-tama, yang saya ketahui, jodoh adalah sebuah mekanisme sosial. Meskipun tampak rumit, di sana dapat diselidiki sebab musababnya.

Hal pertama yang memungkinkan perjodohan dapat terjadi adalah perjumpaan. Ya, pertemuan – baik dalam bentuk tatap muka maupun lainnya.

Dari perjumpaan itulah muncul ketertarikan. Para ahli psikologi sosial telah meriset, sebagian besar laki-laki adalah makhluk visual. Mereka tertarik dengan lawan jenis yang menurut mereka cantik. Adapun para perempuan adalah makhuk perasa. Mereka tertarik dengan lawan jenis yang berkberiadian dan membuat mereka nyaman.

Hingga di situ, barangkali kau akan bertanya, “Teman-temanku banyak yang lebih cantik darinya, tapi kenapa aku jatuh cinta dengan dia?”

Cantik, tampan, baik hati, berkpreibadian baik adalah kuantita yang hanya hidup dalam benak, saya kira. Konsep cantik adalah hasil akumulasi dari berbagai jenis pengalaman estetik. Penilaian seseorang terhadap kecantikan bergantung kepada iklan yang ia saksikan, film yang ia tonton, novel yang ia baca.

Kalau mau dikonkretkan, konsep cantik adalah semacam lingkaran besar yang di dalamnya terisi lingkaran yang lebih kecil hingga lingkaran terkecil membentuk titik. Semakin mendekati titik pusat, semakin ideal.

Saat seorang laki-laki memilih pacar atau istri, mereka memang akan mempertimbangkan perempuan-perempuan tercantik dalam lingkaran pergaulannya. Tetapi, tidak selalu yang terpilih adalah yang tercantik.

Pasalnya, laki-laki sepertimu pasti menginginkan hubungan yang seimbang. Kau harus memilih perempuan yang tidak terlalu cantik untuk mengimbangi dirimu sendiri, yang – maaf – tidak terlalu ganteng. Maka, wajar, kalau kau justru jatuh cinta pada perempuan dengan “skor” kecantikan menengah. Adapun perempuan tercantik tetap kau eliminasi sejak awal.

Lalu, apakah orang yang kini kau taksir itu akan menjadi jodohmu? Ini ini daripertanyaannmu, bukan?

Kalau yang kau maksud sebagai jodoh adalah pernikahan, itu bergantung pada kesepakatan. Kesepakatan, kamu pasti tahu, adalah hasil negosiasi. Dan dalam proses negosiasi, orang perlu strategi dan kesungguhan agar bisa “goal”.

Siapa pun menikah untuk sebuah tujuan primer: bahagia. Kalau kau bersungguh-sungguh ingin mengajaknya berkeluarga, berstrategilah meyakinkannya bahwa kebahagiannya tampak nyata ada dalam dirimu. Semakin tepat startegimu, semakin dekat jodohmu.

Pernah dengar kisah dua anak muda yang diminta memilih bunga terindah dalam sebuah taman kan? Aturan mainnya, pemuda itu hanya boleh memilih satu bunga. Dan dia tidak boleh melangkah mundur.

Pemuda yang pertama selalu ragu. Ketika ia mendapati bunga yang menurutnya cukup indah, dia khawatir menyesal akan menemukan bunga lain di depannya yang lebih indah. Keraguan terus membayanginya hingga ia melewati seluruh taman. Lantaran ia tidak boleh mundur, ia tidak mendapatkan apa pun.

Pemuda kedua lebih beruntung. Begitu ia masuk taman, ia langsung memetik bunga yang terindah. Dia kemudian menutup mata sambil lari hingga melewati seluruh lebar taman. Ia berbahagia karena keluar membawa bunga (yang menurutnya) terindah.

#SosiologiPerjodohan

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.