Bisakah Membaca Jadi Tradisi Orang Indonesia?

Kurikulum berganti, kelas-kelas rusak diperbaiki, ribuan  guru telah tersertifikasi, tapi bagaiamana dengan tradisi membaca kita? Saat buku ada di mana-mana, apakah kita makin suka membaca?

***

Marten Boiliu, 39 tahun, hanya seorang satpam di PT Sandy Putra Makmur. Oleh perusahaan otusourching itu Martin dipekerjakan sejak 2002. Nasibnya berubah karena sejak 30 Juni 2009 ia di-PHK. Ia dan beberapa temannya tak menerima pesangon.

Nama Marten jadi perbincangan banyak orang karena 19 September lalu berhasil memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi. Pria kelahiran Kupang 11 November 1974 ini berhasil menghapus pasal 96 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal itu mengatur, dalam dua tahun hak pekerja menuntut pesangon akan kadaluarsa. Setelah dibatalkan, pekerja bisa terus menuntut haknya meski telah lama di-PHK.

Bagaiamana bisa, Marten yang “hanya” satpam bisa berperkara di MK dan menang melawan negara? Marten mengaku hanya berbekal doa. Tapi jika ditelisik lebih dalam, pria ini juga melengkapi dirinya dengan membaca.

“Saya sering baca perkara yang ditangani Prof Yusril dan putusan-putusan perkaranya. Saya baca semua tulisan Pak Yusril dan buku-buku lainnya saat ada waktu lowong,” ujar Marthen di rumahnya di Jatiasih, Bekasi.

Ya, membaca membuat Marten tahu hak-hak dasarnya sebagai warga negara. Dengan begitu, ia bisa membela diri saat hak dasarnya dirampas.

Pengalaman lain dimiliki Dino Patti Djalal, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat. Saat berusia 14 tahun Dino adalah tukang cuci piring di Kedutaan Besar RI di Woshington. Di kantor itu ia juga pernah bekerja sebagai penjaga gudang. Sebagai pegawai rendahan, ia terima saja tinggal di basement kantor itu.

Saat sibuk membersihkan gudang, Dino menemukan ‘harta karun’ berupa buku Di Bawah Bendera Revolusi yang merupakan kumpulan pidato dan tulisan Bung Karno. Buku setebal empat ruas jari itu amat disuakainya. Ke mana-mana Dino muda selalu membawa buku temuannya itu.

Dino begitu terpesona dengan kata-kata Bung Karno sehingga berulang-ulang membaca buku tersebut. Buku itulah yang semakin membuat Dino tertarik pada ilmu politik dan diplomasi. Setelah merampungkan pendidikan menengah di Maclean High School di Virginia pada tahun 1981 pada usia 15 tahun, Dino kemudian memperoleh gelar Bachelor’s Degree in Political Science dari Carleton University. Tradisi membaca mengantarkan Dino pada pencapaian social dan akademik yang mentereng, yakni sebagai doctor yang bertugas menjadi duta besar RI untuk Amerika.

Soal membaca, apakah Marten dan Dino mewakili tipikal warga Indonesia? Ternyata tidak. Survei Program for International Student Assessment (PISA) pada 2009 memnunjukkan, kemampuan membaca orang Indonesia berada di peringkat 65 dari 72 negara.

PISA adalah penilaian yang dilakukan tiap tiga tahunan oleh lembaga yang berafiliasi dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Negara yang berpartisipasi adalah 34 negara OECD dan 31 negara mitra, termasuk Indonesia, atau kota (Shanghai, China), dan satu wilayah khusus (Hongkong).

Gambaran yang sama dieroleh dalam Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery). Laporan itu menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0).

Tahun 2011 Unesco juga merilis hasil penelitiannya terhadap kemampuan membaca penduduk Indonesia. Dalam survei itu diketahui indek membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Itu artinya, dari seribu penduduk Indonesia hanya ada  satu orang yang gemar membaca. Indeks baca Indonesia terpaut jauh dengan tetangga, Singapura, yang mencapai 0,45.

Lebih menyedihakn, data CSM mendeskripsikan perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Tradisi Lisan

Ada banyak sebab mengapa Indonesia (baca: kita) jeblok dalam urusan membaca. Paul Sagajinpoula, peneliti, mengidentifikasi tradisi membaca belum diwarisi masyarakat Indonesia. Di negara berpenduduk 250 juta jiwa ini, komunikasi masih dominan dilakukan secara lisan. Buktinya,orang doyan bercakap tapi ogah membaca. Untuk mengisi waktu luang orang-orang lebih nyaman ngobrol daripada bersahabat dengan buku.

“Membaca belum menjadi gaya hidup dari kecil. Perkembangan teknologi mutakhir yang menawarkan informasi instan baik dari internet ataupun televise. Ini jelas semakin membuat orang malas membaca,” katanya.

Bagai lingkaran setan, keengganan membaca berpadu dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang masih miskin. Tak banyak keluarga yang mampu menyisihkan penghasilan secara layak untuk membeli buku. Adapun fasilitas baca gratis, seperti perpustakaan dan koran dinding, tak tersedia di setiap daerah.

Kepala Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat Agus M. Irkham banyak melakukan penelitian sekaligus memprovokasi orang untuk terus membaca.  Menurutnya, tradisi membaca harus dijaga seseroang supaya “lilin keilmuannya” bisa tetap menyala. Manusia, kata Agus, tercipta dilingkupi keterbatasan, baik ilmu, informasi, ruang, maupun waktu. Untuk menutupi kekurangan itu, ia harus belajar. Dan salah satu sarana pembelajaran adalah buku.

Sayangnya, di Indonesia, aktivitas membaca buku identik dengan aktivitas di sekolah dan saat kuliah. jika setelah usia belajar formal selesai, berhenti pula aktivitas membaca buku, lantas dari mana bahan ajar bisa didapat? Jika situasi itu menjadi kecenderungan mayoritas, dapat disimpulkan pula kematian ideal-substansial sebagian besar penduduk Indonesia dimulai saat usia 28 tahun, saat mereka lulus kuliah.

Lanjut Agus, selain membaca sebagai media pembelajaran seumur hidup, membaca merupakan fitrah asasi setiap anak manusia.  “Kita semua lahir dibekali dengan yang namanya rasa ingin tahu atau curiosita, sebuah dorongan instingtif alamiah pemberian Tuhan yang harus dipenuhi. Sebagaimana makan untuk memenuhi rasa lapar, maka membaca adalah upaya memberi makan otak dan jiwa kita agar tidak kelaparan.”

Akibat Ganda

Minat baca yang rendah berefek ganda. Pertama, secara individual, pengembangan diri akan terhambat. Pengetahuan yang cekak cenderung membuat pikiran bebal. Seain kesulitan menghadapi berbagai persoalan hidup, orang-orang yang tak biasa membaca akan kesulitan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Misalnya, menguasai teknologi mutakhir, bergaul dengan masyarakat luas, atau “menjual” kompetensi dirinya.

Jika itu terakumulasi, kebebalan yang awalnya hanya dialami orang per orang berakibat buruk dalam kehidupan berbangsa. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terpuruk, salah satunya, karena masyarakat belum “rakus” membaca.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.