Bisakah Debat di WAG dan Facebook Menghasilkan Solusi?

Tanpa sepengetahuan bosnya, dulu karyawan Amazon memasang televisi di berbagai ruang kerja. Televisi-televisi itu dipasang dengan besi penyangga dari besi. Rencananya, televisi itu akan digunakan untuk koordinasi lintas divisi.

Tapi saat bos besar perusaahan retail online itu, Jeff Bezos, tahu, dia langsung marah-marah. Ia memerintahkan televisi-televisi itu dicopot dengan menyisakan rangka besinya tetap utuh. “Bagaimana mungkin sesuatu yang bagus dapat dikomunikasikan dengan cara begini?” kata Bezos mencak-mencak sebagaimana ditulis Brad Stone dalam The Everything Store (2009).

Orang semacam Bezos paham, sarana yang tepat amat penting agar komunikasi bisa berlangsung baik. Sarana komunikasi yang buruk, hanya akan mengacaukan gagasan, atau bahkan kesalahpahaman. Bezos mungkin terinspirasi oleh ahli komunikasi asal Kanada, Marshall McLuhan, bahwa “medum is the message.”

Tak hanya melarang televisi jadi sarana koordinasi, Bezos melanjutkan kebijakannya dengan melarang eksekutifnya presentasi menggunakan Power Point. Menurutnya, bullet-bullet dalam Power Pont hanya akan jadi tempat bersembunyi bagi detail. Ini membuat sebuah gagasan tampak menarik tapi tidak tersampaikan dengan seksama.

Karena itulah, ia kemudian mewajibkan semua eksekutifnya menulis prosa tiap kali akan presentasi. Prosa itu dibagikan kepada peserta untuk dibaca sekitar 15 menit sebelum didiskusikan dimulai. Inisiatif Bezos ini ia ambil jauh hari sebelum Harvard melarang dosennya mengajar menggunakan Power Point.

Apa yang bisa kita peroleh dari laki-laki tempramen yang kini berhasil membangun toko bukunya jadi the everything store itu?

Saat mengomunikasikan gagasan, seseorang sedang membawa sebuah gerbong besar. Gerbong berisi aneka isi yang mustahil disampaikan dalam sekali-dua kali ucapan.

Dalam teori wacana, teks yang terbaca atau terdengar sebenarnya berisi teks lain yang tampak. Ada teks mendahuluinya (preteks), teks di baliknya (beyond teks), dan  teks yang mengikutinya (posteks). Kesemua teks itu membangun pesan. Ketika salah satunya (di)hilang(kan), maka teks sendiri sudah tak lengkap.

Itulah kenapa para guru wajib menyampaikan apersepsi sebelum mulai pelajaran. Pembicara publik mempelajari horison harapan audience-nya. Penulis menggunakan lead sebagai sarana memperjelas praanggapan. Penulis buku referensi, bahkan, menulis catatan kaki yang kadang sampai setengah halaman.

Jika teks adalah ucapan, informasi tentang siapa yang mengucapkannya, bagaimana cara dia mengucapkannya, ekepresi yang dimunculkan saat mengucapkan itu adalah preteks . Preteks semacam itu tidak muncul dalam komentar di FB dan WA. Pesan-pesan itu terisolir.

Bayangkan jika diskusi di perusahaan sebesar Amazon dilakukan melalui telekonferensi, chating, atau saling komentar di FB? Berapa banyak detail yang terlewatkan? Berapa gagasan yang tertunda karena komunikasi tersendat?  Jika itu dilakukan Amazon, bisa jadi, proyek-proyek ambisius seperti fullfilment center yang digarap Jeff Wilke tak akan terwujud.

Karena itulah, Bezos lebih baik membiayai eksekutifnya terbang dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk bertemu langsung. Demi komunikasi yang lancar, dia juga rela terbang dengan jet pribadinya untuk rapat dengan para eksekutifnya. Padahal, rapat itu kerap berlangsung singkat dan dilakukan hanya di gerai McDonald.

Bagaimana dengan Facebook dn WhatsApp? Kira-kira, orang semacam Bezos akan mengizinkan karyawannya berkoordinasi dengan dua medsos itu saat mengerjakan proyek? Mungkin dia lebih pilih bunuh diri (dia sering mengucapkan hal semacam ini saat mengkritik kebodohan karyawannya.)

Saat berkomentar di WA dan FB orang cenderung tak mau menulis dan membaca dengan cermat. Orang-orang itu (ya, kita ini!) membaca sekilas kemudian berkomentar sekilas pula. Akibatnya, tidak semua informasi dalam tulisan bisa dicerap. Dan: tidak semua gagasan dalam pikiran bisa terutarakan.

Kendala semacam itu mungkin tak ditemukan saat kita menyampaikan guyonan. Joke. Saya masing sering terpingkal-pingkal baca anekdot di Facebook dan WA. Itu bisa terjadi karena struktur wacana joke memang sederhana. Satu dua premis bisa langsung punchline. Dengan struktur sesederhana itu orang bisa menemukan inti kelucuannya dalam satu dua detik baca.

Tapi untuk mendiskusikan gagasan yang besar dan rumit, kedua media sosial itu sebaiknya dihindari. Untuk diskusi (dengan topik yang kompleks) saja tidak layak, apalagi untuk debat. Percayalah, terlalu banyak energi yang mubazir. Lebih-lebih kalau di antara kedua pihak niatnya saling menyerang, Beeeuuh! Urusan bisa makin runyam.

Mari belajar kepada Bezos. Kurangi diskusi dan debat di media sosial. Kalau topik pembicaraan memang penting, buat janji untuk bertemu. Duduk satu meja, bisa saling berpandang mata, gestur pun terbaca.

Lalu, FB dan WA untuk apa? Untuk berbagi foto boleh. Berbagi dokumen boleh. Jangan lupa, bisa juga untuk mengirim emoticon seperti gambar ini ke pujaan hati.

Rahmat Petuguran
Penulis buku Politik Bahasa Penguasa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *