Benarkah Penghasilan Pengamen Bisa Mencapai Rp18 Juta?

Jika Anda melintas di perempatan Jl.  Petompon Semarang, jangan kaget kala lampu merah menyala Anda akan mendengar alunan bonang dan kendang yang terdengar sumbang. Dan sekonyong-konyong muncul tiga empat orang dengan dandanan dan pakaian warna mencolok menari bak di atas panggung pertunjukan.

Ya, mereka adalah Mbah Pomo, Eko, Priyo, Gabul, Febri, Siman, dan Ruwiyati. Tujuh bersaudara ini mencoba mengais rezeki, mengamen dengan cara yang cukup unik-menggelar pertunjukkan jaran kepang di tengah deru kendaraan dan debu jalanan.

Kakek, anak menantu dan cucu itu datang dari Ambarawa, Demak, dan Temanggung. Mbah Pomo-orang yang paling dituakan-sebenarnya adalah Ketua Paguyuban Kesenian Jaran Kepang di wilayah Ambarawa dan mempunyai 30-40 anggota kelompok.

Tuntuntan hidup dan kesetiaan pada senilah yang membawanya berkelana meninggalkan kampung halaman menyusuri teriknya jalanan kota. Jogja, Solo, Magelang, dan Semarang adalah beberapa kota yang pernah disinggahinya. Berapa pendapatan mereka sebulan? Benarkah sampai angka 18 juta seperti jadi pembicaraan banyak kalangan belakangan ini ?

“Ah ndak sebanyak itu Mas. Kalau cuaca terang dan tidak hujan bisa bawa pulang Rp 30.000 per orang. Tapi kalau hujan kaya begini paling ya Rp. 15.000 – 20.000,-. Itupun belum dipotong iuran ongkos sewa kostum, makan, dan ngemel (memberi upeti) oknum petugas yang minta uang atau dibelikan pulsa agar kami tak ditangkap dan diusir dari sini“ cerita Ruwiyati kepada saya.

Sungguh getir hidup Mbah Pomo dan anak cucunya. Di tengah himpitan keadaan dan susahnya bertahan hidup, masih banyak orang-orang yang menistakan diri dengan menghisap rezeki dari keringat mereka. Sampai kapan kesetiaan itu akan bertahan Mbah?

Teks dan Foto: Muslihudin El Hasanudin
Sumber: Kompasiana

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.