Berburu Oleh-oleh Semarang di Jalan Pandanaran

Kawasan Jalan Pandanaran Semarang memiliki karakter khas. Bangunan perdagangan dan perkantoran yang membentang dari Tugu Muda hingga Simpang Lima menyiratkan kawasan ini sebagai kawasan niaga. Tentu saja, kesan demikian cukup potensial untuk membangun citra Semarang.

Untuk itu, perlu dimunculkan gagasan dan ide-ide tentang membangun pencitraan Kawasan Jalan Pandanaran secara fisik agar citra kawasan menjadi semakin kuat.

Ciri khas sebuah kota, termasuk Jalan Pandnaran, terdapat pada adanya kawasan-kawasan yang dapat dilihat atau dipahami sebagai seri visual. Artinya, sebuah kota tidak dapat dilihat dalam satu titik saja.

Yang diperlukan dalam hal ini adalah suatu proses pengamatan di dalam gerakan (Cullen dalam Zahnd, 1999). Menurut Kevin Lynch (Lynch dalam Zahnd, 1999), citra kota dapat dibagi dalam lima elemen, yaitu path (jalur), edge (tepian), district (kawasan), node (simpul), serta landmark (tengeran).

Bagi sebagian besar masyarakat, ruang jalan/jalur adalah elemen kota yang utama, walaupun variasi kepentingannya tergantung pada tingkat kedekatan dengan kota. Konsentrasi pada fungsi maupun kegiatan khusus di sepanjang jalan memberikan kesan yang melekat kuat di benak masyarakat.

Pada kenyataannya, lima elemen dalam di dalam kota tidak dapat dilihat secara terpisah. Agar gambaran terhadap citra kota menjadi nyata dan benar maka perlu diperhatikan interaksi antara lima elemen citra itu (Lynch, 1960).

Kawasan Jalan Pandanaran ini dulunya merupakan kawasan permukiman yang kemudian muncul beberapa toko sebagai pelopor penjualan oleh-oleh khas Semarang. Kemunculan ini sebagai suatu keinginan masyarakatnya untuk mengembangkan perekonomian mereka, yang kemudian disusul munculnya toko-toko lain. Toko-toko yang menjadi pelopor di kawasan ini adalah ”Bandeng Presto” yang terletak di pojok Jalan Kyai Saleh, serta toko roti ”Danti” yang dulunya bernama ”Danish”.

Struktur Struktur suatu kawasan dapat dianalisis dengan menggunakan teori Figure / Ground yang menganalisis bangunan berdasarkan elemen solid dan void. Serta dengan menggunakan teori Linkage Visual dan Linkage Struktural. Figure / Ground yang dibahas disini merupakan skala makro kecil, karena hanya di tingkat kawasan yang berada di dalam suatu kota.

Menurut teori Figure / Ground, Kawasan Jalan Panadanaran terdiri dari elemen Solid dan Void. Pola tekstur kawasan ini bersifat homogen, karena hanya ada satu pola penataan, yaitu susunan massa bangunannya membentuk pola linear (berderet di kiri kanan jalan). Menurut teori Linkage Visual, kawasan ini berbentuk koridor, dimana bagian jalannya merupakan elemen void, dan massa-massa bangunan di sisi kiri kanannya merupakan solid.

Masyarakat mengenal kawasan Jalan Pandanaran sebagai kawasan perdagangan dan pusat oleh-oleh Kota Semarang. Hal ini dapat terlihat pada padatnya Kawasan Jalan Pandanaran dengan pertokoan yang menjual oleh-oleh Kota Semarang.

Sesuai dengan teori karakter suatu kawasan ruang publik di pusat kota, bahwa karakter suatu kawasan dibentuk oleh ruang itu sendiri yang memiliki makna penting bagi masyarakat dalam konteks kegunaan, sosial budaya, ekonomi, sejarah, dan politik.

Dari segi activity support, PKL sebagai activity support yang utama di kawasan tersebut perlu ditata agar lebih rapi sehingga mampu menarik wisatawan. Dari segi building form and massing, memperbaiki sistem signage di kawasan Jalan Pandanaran sehingga masyarakat lebih mudah mengingat dan menangkap gambaran kawasan tersebut sebagai pusat oleh-oleh kota Semarang.

Dari segi signage, dapat dibuat suatu identitas yang menandakan ciri khas kawasan ini, misalnya patung / sculpture bandeng, sehingga selalu dapat diingat oleh orang yang berkunjung, bahwa kawasan ini adalah kawasan khas penjualan oleh-oleh di Semarang.

Rumusan pencitraan dari segi komponen non fisik yang dapat dikembangkan antara lain : Dari segi aktivitas, dibuat penataan area PKL yang lebih rapi, dan mendesain properti di sekitar mereka, seperti mendesain dan memberdayakan para pedagang sehingga menambah nilai estetis.

Selain itu, dibuat taman parkir di depan BRI. Kendaraan yang melintas di Jalan Pandanaran menuju ke kawasan perkantoran pada waktu kembali harus memutar lewat Jalan Kyai Saleh untuk mengurangi kemacetan.

Dari segi suasana, penataan PKL serta parkir harus lebih ditata supaya tetap rapi meskipun aktivitas padat. Selain itu pada malam hari kawasan ini ditutup untuk akses kendaraan dan hanya khusus diperuntukkan bagi para pejalan kaki yang ingin berbelanja di Kawasan Jalan Pandanaran. Suasana yang khas ini akan menguatkan pencitraannya.

Dari segi budaya, dengan tetap melestarikan bangunan-bangunan kuno yang ada di kawasan tersebut agar citra yang terbentuk semakin kuat.

Untuk memudahkan pengunjung menangkap gambaran Kawasan Jalan Pandanaran sebagai pusat oleh-oleh Kota Semarang, dapat dibuat sculpture/patung berbentuk bandeng dengan skala kawasan. Digunakan patung bandeng karena ikan bandeng presto terkenal sebagai oleh-oleh khas Semarang.

Dibuat gate / gerbang masuk kawasan dengan desain menarik yang mampu menggambarkan suasana Kawasan Jalan Pandanaran sebagai pusat oleh-oleh khas Semarang. Sebagai contoh, gerbang masuk Kawasan Pecinan dengan desain khas Pecinan dan warna merah yang dominan. Malam hari, kawasan ini sebaiknya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Dengan begitu Jalan Pandanaran semakin ramah.

2 Comments

  1. ton ms

    November 1, 2011 at 9:54 am

    makanan tradisional getuk modern getuk sidoamarem dengan cita rasa istimewa dijamin lezat,ciamix top markotop..monggo pinarak di kandri gunungpati semarang 02470413971 http://getuksemar.blogspot.com/

    • ari saputra

      February 20, 2012 at 2:54 pm

      ada tahu bakso isi daging sapi super dg harga miring dibanding tempat lain,yakni Rp 17.000,-/dus @10pcs dg menghubungi ari saputra no hp 085842254675. ditunggu kontak anda

Leave a Reply

Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.