Benarkah Kita dan Anak-anak Kita Perlu Membaca?

GURU-guru menganjurkan siswanya membaca (buku). Para dosen menganjurkan mahasiswanya membaca – juga meneliti. Orang tua menganjurkan anak-anaknya belajar lebih giat.

Seruan itu bahkan terakumulasi menjadi seruan nasional: negara menganjurkan rakyatnya membaca. Melalui Departemen Pendidikan, negara menyeponsori pembangunan perpustakaan-perpustakaan dan menggeler tender dengan nilai miliaran rupiah untuk pengadaan buku.

Tampaknya telah menjadi kesadaran kolektif bahwa membaca akan mendatangkan manfaat. Orang-orang percaya membawa akan membikin orang luas wawasannya, mengenali dunia dengan lebih baik, lalu dia bisa tepat mengambil keputusan-keputusan dalam hidup. Orang perlu membaca supaya bisa jadi pengusaha kaya. Orang perlu membaca agar bisa jadi politisi yang digemari.

Tujuan-tujuan pragmatis itu tentu tak keliru jika kini telanjur jadi motivasi banyak orang. Namun, sebelum tujuan-tujuan itu telanjur jadi ambisi, membaca sebaiknya dihubungkan dengan akal sehat. Dengan asumsi itu, aktivitas membaca dilakukan pertama-tama untuk menghidupkan dan menjaga akal sehat.

Dulu, orang berpikir (berfilsafat?) untuk tujuan menjernihkan konsep-konsep di sekitar manusia. Pekerjaan ini dilakukan dengan pengakuan awal bahwa kehidupan manusia dipenuhi aneka kebebalan. Kebebalan, dalam konsep itu, adalah semacam pandemi merasa tahu sesuatu yang tidak diketahui, kenyamanan dalam ketidaktahuan, atau kemalasan untuk mencari tahu.

Pada periode berikutnya, orang berpikir agar mendapat pemahaman hakikat dan tujuan keberadaan manusia beserta segala kerumitannya. Di sini ada semacam kerendahhatian bahwa persoalan berpikir sehat adalah disiplin studi biasa yang meliputi hampir segala hal yang dapat membantu manusia hidup dengan lebih benar atau otentik.

Dewasa ini, dua anggapan itu tidak dipersepsi sebagai dua hal yang bercabang satu sama lain, melainkan sebuah pekerjaan yang saling melengkapi. Agar bisa berpikir dengan “baik”, pertama-tama diperlukan kejernihan untuk memahami berbagai konsep. Pemahaman itu diperlukan untuk membantu manusia memahami eksistensi dirinya, hakikat kebaradaannya. :Foto: portalmadura.com

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.