Mengapa Anak Muda Sebaiknya Belajar Jurnalistik?

Saya Rahmat Petuguran, dosen MKU Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang dan Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM. Terima kasih kepada Kholifah, Ayu, Bhayu, juga kawan-kawan Klub Jurnalistik Jurusan Bahasa Indonesia yang telah memberi kesempatan saya berbicara. Saya akan menggunakan kesempatan ini mengajak kawan-kawan sekalikan merefleksikan makna jurnalisme bagi kita.

Pada tahun 2007 saya mulai belajar tentang jurnalistik dengan bergabung menjadi anggota Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang. Saat itu niat saya sangat sederhana: ingin belajar menulis berita dan opini.

Saya bersyukur di organisasi itu mendapatkan partner dan mentor yang baik, mereka adalah senior-senior yang sudah berkiprah sebagai wartawan, penulis, blogger, dan pengusaha penerbitan. Mereka membimbing, mengajari, melatih saya banyak hal: sesuai keahlian dan kecakapan mereka masing-masing.

Semakin hari belajar tentang jurnalistik, saya merasa semakin sadar bahwa jurnalistik adalah bidang yang jauh lebih besar dari sekadar soal menulis. Jurnalistik adalah teknik sekaligus seni. Teknik dan seni berpikir, teknik dan seni memverivikasi informasi, teknik dan seni mengolah informasi, juga teknik dan seni memublikasikan informasi.

Di situ pula saya menyadari,  hasil kerja jurnalistik bukan hanya produk yang dilahirkan dan kemudian dibaca oleh banyak orang. Hasil kerja jurnalistik juga ada pada pergulatan internal, refleksi pribadi, dan terinternasionalisasinya nilai-nilai tertentu dalam hidup seseorang. Ya, jurnalisme adalah tentang teknik dan seni menata diri.

Di berbagai kelas jurnalistik yang pernah saya ampu, kerap saya katakan: kalau jurnalistik hanya tentang urusan teknis, itu bisa dipelajari seminggu dua minggu, bisa dipelajari sebulan dua bulan, bisa dipelajari setahu dua tahun. Itu mudah. Gampang!

Tetapi jurnalistik bukan semata-mata teknis, tetapi lebih jauh dari itu, jurnalistik adalah tentang nilai. Di bidang ini kita belajar tentang kejujuran, kita belajar kedisiplinan, kita belajar memberdayakan nalar, kita belajar tentang salah dan benar, kita belajar membedakan mana hal yang patut kita bela dan mana yang tidak.

Nilai-nilai itulah yang membuat jurnalistik tampak rumit, tetapi sekaligus asyik dan menarik. Sebab dengan belajar jurnalistik pada dasarnya kita belajar mendisiplinkan dan mengelola diri.

Kawan-kawan sekalian…

Banyak orang bilang kini kita hidup pada era informasi. Ya, saya kira itu betul.
Banyak orang bilang kita tidak bisa hidup tanpa informasi. Ya, saya kira itu benar.
Banyak orang bilang setiap hari kita kebanjiran informasi, sampai kita bingung sendiri untuk membedakan informasi mana yang benar dan salah. Ya, saya kira itu tepat.

Dalam situasi seperti inilah, kecakapan dan senisitivitas jurnalisme menjadi berguna. Dengan jurnalisme kita membedakan mana informasi yang benar dan layak kita konsumsi, mana informasi meragukan dan harus diverivikasi, mana pula informasi bohong dan harus kita hindari.

Dari situlah saya semakin percaya bahwa belajar jurnalistik amat sangat berguna. Berguna bagi saya, berguna bagi Anda, berguna bagi kita.

Seorang pakar pengembangan diri, John Maxwell, pernah menaksir bahwa manusia modern menerima setidaknya 35 ribu pesan tiap hari. Pesan-pesan itu datang secara audio, visual, dan audiovisual. Pesan-pesan itu datang dari barang-barang di sekitar kita, juga orang-orang di sekitar kita. Sampai kepada kita melalui iklan, melalui baliho, melalui koran, melalui televisi, majalah, internet, media sosial, juga sarana lainnya.

Di antara puluhan ribu pesan itu, ada pesan yang berguna ada pula yang tidak. Ada yang jernih, ada pula yang tidak. Ada yang bernilai, ada pula yang tidak. Ada yang jujur, ada pula yang telah dimanipulasi.

Jika semua pesan yang kita terima kita percaya, barangkali kita senantiasa terombang-ambing dalam ketidakpastian yang mengenaskan. Kita seperti buah kelapa kering di tengah lautan yang bergelombang hebat. Digiring ke sana kemari tanpa bisa menolak, tanpa bisa melawan. Kita sendiri tak tahu pasti apa yang kita kehendaki.

Dalam situasi itulah jurnalisme berguna mendidik kita untuk tidak mudah percaya, lebih disiplin memilah informasi, sehingga kita tidak bisa selamat dari aneka kebohongan yang teru-menerus diproduksi.

Kawan-kawan yang baik…

Terus terang, saya sebenarnya merasa minder jika harus bicara tentang ideologi jurnalisme terlalu jauh. Rekam jejak saya pada bidang ini tidak terlalu baik, tidak terlalu menjanjikan, apalagi cemerlang.

Kadang saya mempersepsi diri, pada bidang jurnalistik saya ini hanya seorang migran, pendatang baru dari entah barantah. Persepsi itu kerap muncul lantaran saya tidak pernah mempelajari bidang ini melalui jalur pendidikan resmi. Saya mempelajarinya secara serabutan dari referensi dan orang-orang di sekitar.

Sebagai praktisi, pengalaman saya di bidang jurnalistik juga baru seujung hitam kuku. Sangat sedikit. Sebagai reporter, saya bekerja secara profesional pada salah satu koran lokal di Semarang hanya selama 4 bulan. Karier itu saya lanjutkan dengan menjadi wakil pemimpin redaksi sebuah majalah pendidikan selama 2 tahun terakhir. Bersamaan dengan itu, saya memang mengelola media online selama 5 tahun terakhir. Itu pun media online kecil.

Terlebih, beberapa tahun terakhir saya memang bersinggungan dengan dunia public relation, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai noda jurnalisme. Untuk yang terakhir ini, bahkan saya kerap menerima olok-olok sebagai orang yang mencederai kejujuran karena mengelola informasi untuk kepentingan institusi yang mapan. Tuduhan yang menjengkelkan, tetapi asyik pula dinikmati karena itu hanya sterotip.

Meski demikian, saya merasakan baha bidang jurnalistik adalah bidang yang asyik, seru, sekaligus penting. Oleh karena itu, saya terus mempelajari bidang ini, dengan segala keterbatasan.

Mengapa jurnalisme penting? Penting bagi siapa? Jurnalisme penting karena bidang ini berkaitan dengan urusan banyak orang. Jurnalisme, dalam bahasa Tempo, adalah kepentingan publik, kepentingan republik. Jurnalisme adalah bidang yang turut membentuk pandangan dunia seseorang, pandangan dunia masyarakat, juga pandangan dunia bangsa.Melalui jurnalisme kita mendefinisikan siapa kita, siapa masyarkat kita, siapa bangsa kita.

Peran jurnalistik kian penting karena peran pers dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan juga semakin penting.

Pers andil dalam pencerdasan publik, atau sebaliknya: pembodohan terhadap publik.
Pers andil dalam penguatan demokrasi, atau sebaliknya: kebangkitan penguasa tirani.
Pers andil dalam terciptanya perdamaian atau sebaliknya: terwujudnya masyarakat yang penuh permusuhan.
Pers turut andil dalam membangun komunitas sipil yang solid, atau sebaliknya: membuat komunitas sipil tercerai berai.
Pers andil membentuk komunitas yang menghargai nilai-nilai kemanuisaan, atau sebaliknya: terbentuknya komunitas yang penuh kekerasan.

Kalau saya sampikan hal-hal itu kepada kawana-kawan sekalian, ini bukan omong kosong. Ada banyak bukti yang mendukung itu.

Misalnya:

Beberapa dekade lalu, para pendiri bangsa seperti Ki Hajar Dewantara, Tirto Adi Soerja, juga HOS Tjokroaminoto menggunakan jurnalistik sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan kemerdekaan. Ki Hajar mendirikan Indonesia Pers Bireu di Belanda saat menjalani masa pembuangan untuk mengabarkan kepada dunia bahwa kolonialisme Belanda di Indonesia yang telah begitu menyengsarakan bangsa. Dengan jurnalisme Ki Hajar membuka mata dunia, menarik simpati masyarakat luas agar mendukung terwujudnya Indonesia yang merdeka.

Jauh hari setelahnya, jurnalisme juga turut membangun kesadaran kritis warga sehingga orang-orang yang dipimpin presiden  korup tergerak bangkit menuntut reformasi dengan terlebih dahulu menumbangkan sang penguasa.

Di Amerika, jurnalisme punya andil besar terhadap tersingkapnya skandal korupsi raksasa Watregate. Bahkan pada akhirnya, terbongkarnya skandal itu memaksa presiden berkuasa, Richar Nixon, meletakkan jabatan. Mundur.

Tetapi apakah junalisme selalu membawa dampak baik?  Tidak. Bergantung siapa orang yang menggunakannya dan kepentingan apa yang mendorongnya. Person behind the gun!

Misalnya: jurnalisme turut bertanggung jawab terhadap invansi Amerika ke Irak pada 2003. Perang tak seimbang itu telah memakan korban ribuan jiwa, kehilangan harta benda, juga mengubah relasi Barat dan Islam menjadi semakin tegang dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam catatan Lance Bennet dkk. (When The Press Fails, University of Chicago, 2007) Perang Irak, hanya mungkin terjadi karena dukungan publik Amerika cukup. Dukungan publik Amerika diperoleh Gedung Putih karena para wartawan rajin menyebarkan kebenaran versi Gedung tanpa diimbangi kebenaran versi Irak, pihak yang ada di seberangnya. Akibatnya, opini publik digiring sebagaimana dikehendaki Gedung Putih.

Atau, jika mau contoh yang lebih mengerikan. Jurnalisme juga turut serta memicu kebencian antarsuku di Rwnada sehingga pembantian suku Tutsi dan Hutu moderat oleh eksrtimis suku Hutu. Kebencian disiarkan melalui radio yang dikelola esktrimis suku Hutu, Radio Télévision Libre des Mille Collines (RTLMC).

Kawan-kawan sekalian…

Di negara kita yang tumbuh menjadi semakin demokratis, jurnalisme mungkin tidak berkembang terlalu jauh menjadi sumber malapetaka seperti di Rwanda. Tetapi tetap saja, jurnalisme adalah bidang yang strategis dan sangat penting. Di era seperti sekarang, jurnalisme justru berperan lebih dalam lagi karena dapat merekonstruksi kesadaran warga.

Bukankah benah dan salahnya sebuah perkara kerap diputus oleh media? Bukankah justifikasi hero atau evil kerap diputus oleh media? Bukankah apa yang kita yakini dalam benak kita juga berasal dari media? Itulah kenapa jurnalisme penting.

Sekarang ini, misalnya, hubungan sosial kita semakin tegang karena ada pemilu. Masyarakat seolah terpecah dalam berbagai kubu kekuatan politik. Bahkan ketegangan politik melebar kepada ketegangan antarsuku dan antarpenganut agama. Saya yakin, terciptanya ketegangan itu juga karena pers yang tidak bertanggung jawab. Ketegangan politik dan sosial seolah-olah membuat kita demikian saling benci, seperti sudah mau perang saja.

Kawan-kawan yang hadir di sini adalah kawan-kawan yang masih muda. Saya berharap kawan-kawan bisa tumbuh menjadi generasi cendikia yang berperan mendorong dan berpartisipasi terwujudnya jurnalisme yang lebih baik di masa depan. Anda memiliki kecerdasan, pengetahuan, dan kesempatan untuk mewujudkan hal itu jika Anda benar-benar menghendakinya.

Selamat belajar jurnalistik di Klub Jurnalistik Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita.

Catatan:
Tulisan ini adalah naskah sambutan sy dalam Sarasehan Klub Jurnalistik Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes

1 Comment

  1. Hendrawan

    October 20, 2016 at 10:31 am

    Tes komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.