Belajar Mendengar kepada Ben Whittaker

Ada prinsip yang mestinya tidak pernah ditinggalkan seseorang ketika berdialog: resiprokal. Ini prinsip perbincangan yang sederhana namun tidak selalu dipatuhi, terutama oleh-oleh orang berkepribadian overekstrovert.

Tipe orang ini (celakanya, barangkali saya salah satunya) selalu bicara melebih apa yang pendengarnya perlukan. Bahkan lebih buruk: orang ini berbicara melebihi porsi yang dia mampu katakan. Akibatnya, dia mendominasi perbincangan, mengubah dialog menjadi semacam orasi yang tak berkesudahan.

Bahkan: orang seperti ini sulit sekali dihentikan, sekalipun kita telah berusaha membuat ekspresi bahwa pembicaraannya sudah tidak menarik lagi.

Kita patut bersimpati kepada orang yang menjadi korban tipe orang ini. Mereka harus menghabiskan waktu mendengar bualan. Tetapi simpati yang lebih besar justru perlu kita berikan kepada orang bertipe overextrovert ini. Sebab, dia menganiaya dirinya dengan menjadikan dirinya menyebalkan.

Agar kita tak menganiaya diri dengan cara seperti itu, mari kita belajar kepada Ben Whittaker. Dia pria sepuh, 70 tahun, punya pengalaman bisnis selama 42 tahun.

Tetapi ketika di terdampar sebagai pemagang di perusahaan yang semua penghuninya anak muda, Ben tidak berusaha menunjukkan kecerewtannya. Dia tidak berusaha menasehati. Dan yang lebih penting: dia tahu bagaimana berbicara dengan benar di momen yang benar.

Lihat bagaimana cara Ben menghadapi perempuan yang menangis. Dia tidak bertanya “Mengapa kamu sedih?” atau memberi perempuan itu nasihat. Ben justru memberikan sapu tangan, dan jika kondisi memang mengharuskan: bahu untuk bersandar.

Lihat pula cara Ben menangani partnernya yang mengaku lapar. Dia tidak meberi cermah soal pentingnya sarapan, Yang dia katakan justru: kalau kamu mau, aku bisa mencarikanmu shushi di dekat sini.

Atau, mari lihat cara Ben mengatur dirinya ketika mendapati suami dari partner kerjanya sedang berselingkuh. Ben menahan diri tidak mendamprat, melapor kepada sang istri, atau membincangkannya kepada orang lain. Ben tahu betul, apa yang ia ketahui cukup ia ketahui.

Keterampilan Ben mengatur mulutnya adalah keterampilan tingkat dewa. Karakter ciptaan Nancy Mayers ini layak jadi teldan agar kita bisa menghindari keberisikan sekaligus tidak menjadi penyumbang keberisikan itu sendiri.

Rahmat Petuguran 
Cerewet di Facebook, cerewet di kelas

Sumber foto: di sini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *