Belajar dari Problematika Mahasiswa

Untuk kedua kali saya mengirim pesan kepada mahasiswa itu. Saya menawarkan apakah dia akan melakukan remidi atau tidak.

Tawaran itu saya berikan karena nilai akhir semesternya belum cukup baik. Lulus sih, tapi tidak cukup baik.

Tidak seperti kebanyakan mahasiswa lain, ia menjawab “Saya akan mengulang semester depan saja, Pak.”

Jawaban itu diikuti penjelasan yang kurang lebih begini: saya sebenarnya tertarik mendalami mata kuliah itu sehingga pengin belajar serius tahun depan.

Pilihan itu dia buat dengan harapan: tahun depan perkuliahan sudah bisa dilaksanakan sepenuhnya secara tatap muka sehingga bisa dilaksanakan optimal.

Mahasiswa lain saya hubungi melalui Telegram malam ini.

Dia tidak ada di grup WhatsApp kelas sehingga saya harus mencari nomor Telegramnya melalui teman seangkatan.

Saya merasa perlu menanyai mahasiswa ini karena dia tidak ikut ujian akhir.

Setelah perbincangan, saya tahu dia sedang bimbang karena program studi tempatnya belajar kurang sesuai minatnya.

Tentu ini persoalan tak sederhana untuk ukuran mahasiswa S1. Karena itu, saya tidak buru-buru memberinya saran.

“Bicarakan dulu dengan orang tuamu dan dosen wali,” hanya itu.

Dua mahasiswa yang saya hubungi malam ini memberi saya pelajaran. Di balik identitas tunggalnya sebagai mahasiswa, mereka adalah manusia-manusia unik dengan aneka persoalannya.

Idealnya, mereka dipahami dan dilayani sebagai pribadi yang berbeda-beda.

Tapi dalam situasi umum itu cukup sulit dilakukan.

Pembelajaran daring akibat pandemi ini mengubah banyak hal. Saya memperbanyak obrolan di grup dan chatting pribadi. Obrolan itu kadang-kadang merepotkan, tapi kerap juga memberi kejutan.

Sebagai pengajar saya bisa menemukan pribadi yang sesungguhnya dalam obrolan itu. Sebagian mahasiswa kadang tampak lebih leluasa menyatakan pikiran dan perasaannya. Karena itu, saya punya kesempatan mengenalnya lebih dari atribusi generiknya sebagai mahasiswa.

Tapi tentu saja pengalaman semacam itu tak bisa ditemukan di semua mahasiswa.

Mahasiswa minimalis yang terhubung dengan saya seperlunya saja juga banyak. Dan itu sama sekali tidak masalah.

Tapi, – meski sedikit- hubungan yang lebih personal dengan mahasiswa memberi saya kesempatan untuk belajar kepada mereka.

Mereka adalah manusia yang indah dengan aneka persoalannya. Dalam bentuk yang lebih nyata, mereka adalah guru-guru saya.

Rahmat Petuguran
dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.