Beautifully Imperfect – Catatan ke-2 Harjanto Halim

Saya ngantri untuk membayar belanjaan di sebuah hypermart yang menjual berbagai barang keperluan hidup. Hampir semua yang kita perlukan maupun tidak – tersedia disini. Mulai dari perkakas rumah tangga sampai sepeda, dari timbangan badan sampai lilin wangi, dari mainan anak sampai sofa lipat.

Kami enjoy datang ke toko ini, meski kadang pulangnya beli barang yang enggak-enggak. Kata isteri, kita kerap bertingkah mirip tikus. Maksudnya?

“Senenge nyusoh…”

Hehe bener juga, tanpa kita sadari, dari waktu ke waktu, dari sana & dari sini, sedikit demi sedikit, kita bawa kresek, bawa barang baru, memenuhi rumah, rak & laci lemari. Sementara barang barang lama menumpuk tak terpakai, tak tersentuh sama sekali. Hahahaha

Lha ini isteri saya malah beli panci & wajan – lagi. Di rumah kan sudah ada beberapa panci?

“Ya…, tapi kegunaannya beda-beda….,” kata isteri menjelaskan.

“Panci kecil ini…, khusus untuk rebus telur.”

Ok, make sense.

“Yang itu untuk masak indomie.”

Ok, saya juga sering pakai.

“Kalau yang agak gedhe itu untuk masak spaghetti.”

Oo, lha kalau yang dibeli ini?

“Ow, itu untuk masak bubur….”

Hebat ya, wanita sungguh detail. Semua barang ada fungsi & penjelasannya masing masing yang masuk di akal.

Saya menunggu mbak kasir men-scan label satu persatu. Nampak pasangan muda menuju kasir sebelah. Yang cewek berdandan necis. Roknya mini, pakai kaos setrit tanpa lengan. Sepatunya hak tinggi. Yang cowok tergopoh gopoh membawa barang di belakangnya. Nampak agak lemot bin teledor. Si cewek nampak tak sabar. Mukanya jutek, bibirnya mrengut. Jari jemarinya yang lentik terawat pedicure menjentik tak sadar kian kemari. Lucu ya, saat hati tak sabar menanti, entah ujung jari entah ujung kaki, bergerak tak terkendali. Jari diketukkan ke meja, atau kaki dijejakkan ke lantai. Sebuah gesture berulang ulang tanda tak sabar. Tak jarang dibarengi desah nafas penuh kesal,

“Huuh..”, atau decak lidah penuh jengkel, “Tskk…”

Kadang saya berpikir, kita kaum lelaki memang kelakuan – sengaja bertingkah teledor. Bersin keras keras sampai mengejutkan semua orang,

“Hwuaaajing..!!”

Tanpa menutup mulut lagi. Buang angin seenaknya. Kadang sambil lewat, kadang di bawah selimut. Lalu stel wajah innocent, “Siapa ya?,” meski mata serumah menatap & menuduh. Ambil baju dari tumpukan paling bawah, hingga tumpukan baju rubuh, mawut kalang kabut. Kadang kaos yang tidak jadi dipakai, digulung sekenanya & berharap mukjijat itu ada. Esok hari atau beberapa hari kemudian, kaos telah terlipat & tumpukan rapi kembali. Ada tangan malaikat yang tak betah melihat adegan porak poranda.

Hehehe. Jujur saja, dalam jutek, dalam rengut wajah, ada cantik yang tersisa. Dan kita sungguh menikmati wajah ‘cute’ penuh nervous dari pasangan hidup yang tak tahan menatap ketidaksesuaian. Hahaha=)). Dan itu semua harus kita – kaum Adam – pertahankan, karena itulah modal obrolan yang tak pernah habis dikupas kaum Hawa saat arisan Dawis. Keteledoran, kelemotan, ketidakrapian para lelaki. Itulah sifat sifat bawaan nan alamiah yang tidak mungkin kita pungkiri.

Saya pernah melihat sebuah video klip yang indah. Di sebuah ruang duka. Sebuah kesaksian seorang isteri untuk mendiang suaminya. Sebuah kesaksian yang tegar. Tak ada tangis melolong, tak ada kesenduan berlebihan. Hanya isak ketabahan, dibalut senyum penuh duka, diupayakan tabah dengan bibir bergetar, penuh syukur akan kebahagiaan yang pernah tercecap.

Kisah kisah kecil menjadi bingkai yang menghiasi mahligai perkawinan bertahun tahun. Betapa cinta bisa terungkap melalui kata kata yang gagah berani, namun penuh kelembutan. Seloroh penuh humor namun sesungguhnya ungkapan jujur paling hakiki, sehingga tabu bukanlah sebuah issue.

“I want to tell you…, what happened in our beds…”

Tamu yang mendengar tersenyum tak pasti. Suami yang mengorok keras di pagi hari bagai suara mobil tua distarter, diselingi suara buang angin yang sedemikian keras hingga ia terbangun sendiri.
“Go back to sleep dear…, it was just the dog…,” kata sang isteri.
=D˚˚°нåнåнå°˚˚=D. Ironi kecil yang melekat setia di hati.

Menjelang ajal menjemput sang suami, suara ngorok & buang angin itulah pertanda kehidupan masih berdenyut dalam diri kekasih yang dicinta. Ketidaksempurnaan adalah kebiasaan kebiasaan kecil yang acap menjengkelkan saat terjadi, namun dalam ketiadaan, menjelma menjadi suatu kerinduan yang mendera dan dinanti. Ketidaksempurnaan itulah potongan puzzle yang menyempurnakan mosaik makna yang telah dirajut bersama. Temukan dan syukuri ketidaksempurnaan dalam pasanganmu, karena disitulah keindahan mewujud.

Anak anaknya mendekat & mendekap mamanya yang berdiri di depan. Tanpa malu & ragu mendesakkan kepala mereka di dada lebar sang mama. Mereka berpelukan seakan saling menguatkan. Tamu tamu & sanak keluarga terharu & menyeka airmata. Hanya sebuah cinta & ketulusan yang telah disemai – yang bisa menumbuhkan ketegaran semacam itu. Dan ketidaksempurnaan itulah potongan yang melengkapi dua hati yang berpadu. Beautifully imperfect.

Januari 2013
Harjanto Halim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.