Bahaya Laten Komunis ancam Pancasila dan Keutuhan NKRI

 Era Reformasi menjadi angin segar tumbuhnya idiologi  idiologi lama dengan wajah baru, Berbagai peristiwa sejarah pemberontakan sejumlah partai partai besar seperti Partai Komunis Indonesia atau PKI, Masyumi dll, Pertarungan idiologi besar menjadi bukti sejarah yang tak terlupakan, jutaan rakyat Indonesia menjadi korban kebiadaban. Hal ini tentu kita berharap agar tidak terulang kembali.

Tanpa kita sadari bahwa saat ini Indonesia dalam sebuah ancaman besar tumbuhnya laten Komunis dan DI/TII (Dengan banyaknya kelompok kelompok radikal di Indonesia). Peristiwa saat itu adalah peristiwa hari ini dimana demokrasi liberal dijalankan sehingga angin segar bagi mereka untuk menyebarkan dan menggalang kembali kekuatan kekuatan baru dengan wajah barunya.

Secara sistem bahwasanya Pancasila dan UUD 45 sudah dalam masa kritis. Sejak Era Reformasi UUD 45 sudah tidak berlaku dan sekarang diberlakukan Amandemen UUD 2002. Kemenangan bagi kaum liberalis, Komunis didalam percaturan politik di Indonesia dengan menyerang sistem kenegaraan.

50 Tahun sejak tahun 1965 berlalu peristiwa yang menyisakan perih hingga saat ini, kontroversi sejarah yang hingga saat ini masih belum terlihat jelas kebenaran atas fakta pembantaian terhadap 7 jendral di lubang Buaya, Komplek Halim Perdana Kusuma Jakarta. Berbagai argument tentang peristiwa tersebut samar siapa dibalik peristiwa tersebut.

Di satu sisi memang sebenarnya Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 juga telah melakukan pemberontakan yang di pimpin oleh Muso di Madiun. Selain itu juga fakta sejarah telah membuktikan bahwasanya pemberontakan PKI mediun menyisakan luka yang dalam pada saat itu.

Berdasarkan keterangan dari seorang warga di desa saya , yang pada saat itu mengalami peristiw tersebut mengatakan bahwa PKI dengan segala cara ingin berkuasa dan menggantikan idiologi Pancasila dengan Idiologi Komunis. Ratusan ribu rakyat juga menjadi korban kebiadaban mereka saat itu.

Di sisi yang lain atas kepedihan rakyat Indonesia akibat kekejaman PKI saat pemberontakan dimadiun maupun kekejaman yang dilakukan oleh massa PKI saat peristiwa G-30S/PKI 1965 hingga menewaskan 7 putra terbaik bangsa. Tentunya didalam menyikapi peristiwa ini, kita sebagai anak bangsa harus benar benar belajar dari sejarah diman peristiwa demi peristiwa sudah dialami oleh orang orag sebelum kita.

Tentunya dari keterangan diatas muncul sebuah pertanyaan, Berapa kali PKI melakukan aksi pemberontakan untuk mengganti Idiologi Pancasila dengan Idiologi Komunis ? Usaha pemberontakan yang dilakukan oleh PKI sudah dua kali yaitu pada Tahun 1948 dan 1965.Ketika berbicara secara kedaulatan tentu kita sebagai bangsa akan menumpas pemberontak terutama yang mengancam keutuhan NKRI.

Saya sangat sependapat jika hal tersebut dilakukan oleh Mayjend Soeharto secara cepat untuk menumpas habis aksi yang dilakukan oleh kaum Komunis bagaimanapun juga PKI tetap bersalah saat itu.Kita bicara secara kenegaraan dululah kalau kita bicara secara kemanusiaan berapa ribu rakyat Indonesia yang mati oleh Penjajah baik Belanda maupun Jepang ?

Berapa banyak kyai (Ulama) yang diculik dan disiksa oleh PKI pada peristiwa 1948 di Madiun?, Berapa Banyak rakyat yang dibunuh akibat kekejaman PKI. Kesaksian sejarah juga sudah jelas berdasarkan pengakuan dari seorang warga yang saat itu mengalami peristiwa tersebut propaganda yang memang sudah disiapkan sebelumnya lewat aksi kebudayaan.Nyanyian “Genjer Genjer” ternyata mengandung makna “Ganyang jendral Revolusi”.

Jika hari ini kita mempermasalahkan Mayjend Soeharto yang harus bertanggungjawab atas penumpasan G-30S, lalu siapa yang harus bertanggungjawab atas aksi biadab yang dilakukan oleh PKI terhadap korban pembantaian di Madiun dan korban G-30S. Sudah seharusnya kita berterimakasih kepada Mayjen Soeharto yang mampu menjalankan perintah presiden Soekarno melalui Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret).

Dengan Supersemar tersebut Mayjen Soeharto atas dukungan rakyat Indonesia mampu menyelamatkan Pancasila, dan juga keselamatan Presiden Soekarno. Jika hal tersebut tidak dilakukan yang akan terjadi adalah Idiologi Pancasila akan diganti dengan idiologi komunis kemudian keselamatan Presiden Soekarno juga saat itu pastinya terancam.

Benerapa alasan yang mendasari atas pelarangan terhadap Partai Komunis Indonesia antaralain :

  1. Pelarangan PKI di Indonesia  berdasarkan TAP MPRS NO 25 Tahun 1966 tentang pembubaran PKI dan UU RI No 27 Tahun 1999 berkaitan dengan kejahatan terhadap negara.
  2. PKI dilarang karena sudah dua kali melakukan pengkhianatan (Pemberontakan) tahun 1948 di madiun, tahun 1965 dipimpin oleh Letkol Untung dengan membunuh tujuh jenderal TNI AD secara kejam.
  3. PKI bertentangan dengan pancasila karena komunis anti agama/tuhan, disamping itu kegiatan PKI selalu menggunakan kedok membantu rakyat miskin, tani, nelayan, buruh sering menyebarkan fitnah/pintar dalam membalikkan fakta serta adu domba.

Tentu dari pelarangan tersebut diatas merupakan bukti kuat atas kejahatan yang dilakukan oleh mereka terhadap negara. Lalu kenapa saat itu Komunis mau memberontak ? bahwasanya pada saat itu pertarungan idiologi dunia sedang berlangsung dan didalam paham komunis sendiri ingin mengkomuniskan dunia secara otomatis akan mengancam Pancasila dan keutuhan NKRI.

Banyaknya argumentasi pembelaan terhadap PKI menjadi bukti nyata akan bangkitnya komunis gaya baru atau yang disebut dengan Neokomunis. Dengan adanya kegagalan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI tersebut diatas hendaknya kita sebagai putra putri bangsa untuk selalu waspada adanya bahaya laten komunis yang sudah jelas mengancam Pancasila dan Keutuhan NKRI.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *