Bahasa dalam Kekerasan Massa

Terjadi kekerasan massa yang mengerikan di Lumajang. Seorang aktivis antitambang diculik, digelandang di jalanan, dan dipukuli oleh sekitar 40 orang. Kontras Surabaya merilis, korban bernama Salim Kancil ini dipukuli, ditusuk senjata tajam, kemudian diarak ke kuburan sebelum akhirnya dihantam dengan batu.

Analisis perilaku kekerasan lazimnya didekati secara sosiologis dan psikologis. Lantaran pelakunya cukup banyak, analisis psikologi kerumunan juga kerap menjadi sandaran untuk memahmi kekerasan massa. Namun, hemat saya, ada aspek lain yang juga punya peran, yakni bahasa.

Dalam aksi kekerasan massa, bahasa memiliki dua peran. Pertama, bahasa digunakan seseorang untuk merekonstruksi konflik yang ada di sekitarnyal. Manusia menarasikan sesuatu yang tampak dan terdengar dengan bahasa agar disimpan dalam ingatannya. Kemampuan berbahasa mementukan caranya memahmi konflik di sekitarnya.

Kedua, bahasa digunakan manusia untuk menarasikan konflik yang dipahaminya kepada orang lain. Seseorang harus memilih kata, menyusun gramatika, dan menata wacana agar apa yang dikatakannya mendekati apa yang dipikirkan. Kekeliruan diksi dan susunan gramatika kerap membuat informasi yang dikatakannya berbeda dengan yang dikehendakinya, menimbulkan kesalahpahaman, dan memantik konflik.

Aktivitas berbahasa pada dua proses di atas kerap tidak mudah jika berkaitan dengan konflik. Hal itu karena konflik tidak pernah sederhana, selalu melibatkan sejumlah pihak, dan berbagai variabel yang kerap tidak dapat dibahasakan. Ketika menggambarkan konflik, seseorang memiliki kecenderungan bersikap simplifikatif dengan memperhatikan sejumlah variabel namun mengabaikan variabel lainnya.

Konflik juga sulit diverbalisasi dengan bahasa karena melibatkan agen, ruang, dan suasana. Konflik tidak serta merta terjadi karena perbedaan kepentingan antara satu agen dengan agen lain. Konflik juga dapat terjadi karena suasana yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh kedua pihak.

Penelitian Manurung (2012) terhadap superter sepakbola, misalnya, menunjukkan bahwa kekerasan yang melibatkan superter sepakbola kerap terjadi karena perkataan. Salah satu pihak menggambarkan realitas dan mengekspreskan perasaan dengan cara yang memicu kesalahpahaman. Kata-kata yang tidak tepat melahirkan respon yang antipati, memunculkan suasana konfrontatif, hingga memicu tindakan agresi.

Misalnya, untuk mengekspresikan kekecewaan terhadap kekelahan tim yang didukung seorang superter menggunakan kata umpatan: asu. Kata itu sebenarnya digunakan untuk meluapkan emosi yang tidak terbendung. Namun pihak lain justru menanggapi ucapan itu sebagai makian yang tertuju padanya.

Kesalahpahaman

Kemampuan seseorang berbahasa menentukan jenis dan caranya memahami realitas. Semakin baik perbendaharaan kosakata seseorang lazimnya semakin luas wawasannya. Wawasan atau perbendahaaran pengetahuan membantu seseorang memahami realitas dengan lebih teliti. Inilah yang membuat orang bodoh berkecenderungan senang memaki dan orang cerdas berkecenderungan lebih arif.

Proses berbahasa adalah proses bertukar simbol. Untuk memahami pesan inti komunikator, komunikan perlu menerjemahkan sebuah simbol bahasa sesuai wawasan dan kapasitas intelektualnya. Jika pengetahuan yang tersedia tidak cukup layak, penerjemahan atas simbol bahasa kerap berlangsung serampangan. Akibatnya, informasi yang diterima berbeda dengan pesan yang dikirim.

Perilaku berbahasa seperti ini berpotensi memicu kesalahpahaman yang berakhir konflik. Dua pihak yang sama-sama memiliki maksud baik bisa bermusuhan karena kegagalan menerjemahkan pesan. Meskipun jarang terjadi, kesalahpahaman juga dapat menyababkan pesan yang buruk diterima sebagai pesan baik.

Dalam arena ekonomi dan politik, potensi kesalahpahaman ini telah dikembangkan sebagai strategi komunikasi. Pada dunia periklanan, misalnya, produsen iklan memanfaatkan kesalahpahaman agar calon konsumen memahami produknya melebihi wujud aslinya. Teknik kesalahpahaman dalam iklan bekerja efektif karena kerap didukung visual, grafis, dan data yang meyakinkan.

Pada arena politik, kesalahpahaman lazim dimanfaatkan agar sebuah pesan politik membangkitkan perasaan tertentu. Slogan diciptakan agar sebuah pesan dipahami berbeda dari maksud sebenarnya. Slogan diteriakkan agar muncul rasa kebersamaan dan saling memiliki. Bahkan terkadang, kesalahpahaman diciptakan untuk menebar kebencian. Ini bisa dilakukan antara lain dengan labeling dan stigmatisasi.

Bahasa kerap menentukan apakah seseroang merespon sesuatu secara positif atau negatif. Kekaguman seseorang terhadap tokoh tertentu lazimnya tidak didasari pertimbangan logis bahwa tokoh bersangkutan memang memiliki kepribadian dan karakter unggul. Kekaguman kerap muncul secara emosional karena orang lain di sekitarnya menggunakan kata-kata yang baik untuk mendeskripsikannya. Seorang tokoh politik misalnya bisa deulelukan orang bukan karena kebijakannya, melainkan karena orang terlanjur menyebutnya sebagai pemimpin yang merakyat, rendah hati, cerdas, berani, dan sebutan lain yang bernada positif.

Kritis Berbahasa

Agar terhindar dari kesalahpahaman, masyarakat perlu memahmi bahwa setiap tindak tutur berdimensai politis. Sebagaimana Searle (1962) katakan, perkataan tidak pernah berakhir hanya sebagai perkataan, melainkan sebuah tindakan. Pilhan kata, nada, susunan gramatikal yang digunakan seseorang merepresentasikan kepentingan apa yang hendak diperolehnya.

Oleh karena itu, kini diperlukan kesadaran kritis berbahasa. Kritis memiliki dua deminsi, yakni tepat dan cermat. Tepat berarti memahami dengan lebih teliti agar bisa memaknai sesuai proporsional. Cermat artinya memperhatikan keterkaiatan bahasa dengan kepentingan yang melingkupinya.

Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Tulisan dipublikasikan Suara Merdeka, Kamis (8/10)

Sumber gambar: Okezone/kekerasan massa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.