Bagaimana Mengajarkan Kesantunan kepada Anak Muda?

Sebagai dosen muda, saya sering menerima keluhan dari dosen senior bahwa kesantunan anak uda cenderung berkurang. Buktinya, cara mahasiswa menghubungi dosennya terkadang tidak sesuai dengan prinsip kesantunan. Kondisi ini bahkan umum terjadi, tidak hanya di kampus, tetapi juga di sekolah-sekolah.

Ada beberapa kesan dalam perkataan anak muda yang membuatnya terasa tidak santun. Ada yang terkesan memerintah, ada yang terkesan memaksa, ada pula yang terkesan serampangan. Ada juga yang memosisikan dirinya setara. Padahal, dalam pergaulan, ada tingkatan sosial yang mestinya jadi bahan pertimbangan dalam menghasilkan tuturan.

Di kelas yang saya ampu, kesantunan berbahasa menjadi salah satu topik yang kami ulas. Melalui proses itu, saya berharap mahasiswa menguasai konsep-konsep kesantunan sekaligus mempraktikannya. Teori saja (tanpa praktik) akan sia-sia. Sebab, pada akhirnya kesantunan muncul saat kegiatan berbahasa.

Perkulaiahan tentang kesantunan dikelola dengan semacam mini research. Mahasiswa membuka arsip pesan pendek dalam ponselnya, memilih secara acak 10 pesan, dan memeringkatkannya dari yang paling santun ke yang paling tidak santun. Saat membuat peringkat, otomatis mereka membuat analisis mengapa salah satu sandek terasa santun dan lainnya terasa tidak santun.

Berdasaran analisis mereka, sandek yang santun adalah dibuka dengan salam, disertai perkenalan diri (jika perlu), isi pesan jelas, dan ditutup dengan ucapan terima kasih. Ada pula mahasiswa ayang menambahkan: jangan gunakan singkatan yang tidak populer dan gunakan kata sapaan yang tepat.

Sekilas, analisis mahasiswa ini tampak sederhana, tapi ternyata memiliki relevansi dengan teori kesantunan Geofrey Leech. Menurut Leech, setidaknya ada enam maksim yang perlu dipenuhi agar seseorang dapat berbahasa dengan santun.

Maksim kebijaksanaan ditunjukkan oleh sikap penutur untuk meminimalkan keuntungan yang bisa diraih diri sendiri. Sekalipun tujuan bertutur lazimnya adalah memperoleh sesuatu (informasi, dll), namun sebaiknya tidak ditunjukkan secara vulgar.

Maksim kedermawanan ditunjukkan dengan sikap penutur untuk memperbanyak keuntungan yang bisa diperoleh lawan tutur. Sebisa mungkin tawarkanlah bantuan kepada mitra tutur. Maksim kesederhanaan, ditunjukkan dengan mengurangi (atau bahkan meniadakan) pujian terhadap diri sendiri.

Maksim penghargaan, ditunjukkan dengan memberikan pujian kepada mitra tutur. Maksim kemufakatan, ditunjukkan dengan menunjukkan ekspresi yang relevan dengan yang disampaikan mitra tutur. Terakhir, maksim simpati, ditunjukkan dengan produksi ungkapan simpatik yang menunjukkan perasaan turut terlibat dengan kondisi yang dialami mitra tutur.

Secara konseptual, enam maksim kesantunan Leech itu sangat sederhana. Namun konsep itu tak selalu dapat dipraktikkan karena berkaitan dengan mentalitas, worldview, dan pengetahuan seseorang terhadap sistem nilai masyarakatnya.
Kesantunan bukan perkara cara ungkap semata, melainkan sebuah sikap hidup yang diserap seseorang dari nilai sosial yang ada di masyarakatnya. Oleh karena itu, pembelajaran tentang kesantunan sejatinya tidaklah sesederhana mengajarkan persoalan makna dan pragamtika saja, tetapi perlu juga kerelaan untuk menyelami kondisi, tradisi, dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Dari prinsip komunikasi, kesantunan adalah salah satu aspek yang harus diperhatikan. Sebab, bahasa selalu berkaitan dengan  nilai sosial masyarakat. Jika bahasa diproduksi dengan mengabaikan nilai masyarakat, maka bahasa itu tidak akan efektif digunakan. Pada tingkat tertentu, kondisi demikian bisa menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif.

Karena itulah, kesantunan perlu diajarkan sejak awal. Sedini mungkin, anak-anak dperkenalkan dengan aturan-aturan tidak tertulis dalam masyarakat. Aturan tidak tertulis itu kemudian disikapi dengan tindakan berbahasa yang tepat.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.