Asal Mula Kebaikan (dan Keburukan)

Struktur kesadaran macam apa yang membuat manusia begitu gemar mereproduksi klasifikasi “baik” dan “buruk”? Ritual semacam itu berlangsung di berbagai arena dan dimanifestasikan dengan berbagai ungkapan. Perdebatan tentang mana yang benar dan salah, kemudian, menjadi aktivitas harian yang menguras energi.

Dalam praktik beragama, -misalnya – cap “benar” dan “salah” telah menjadi modus pengendalian diri yang melembaga. Para penganut agama menyandarkan tindakannya pada pertimbangan-pertimbangan kualitatif terhadap sesuatu yang berakhir pada simpulan benar dan salah. Benar dilakukan, salah dihindari.

Kegemaran ini agak ganjil sebab kitab suci jarang sekali menggunakan istilah yang eksplisit beisi justifikasi benar dan salah. Sepanjang saya baca, kitab suci memberikan deksripai dan argumentasi mengapa sesuatu patut dikerjakan dan sesuatu lain patut ditinggalkan. Namun, cap bahwa ini baik dan itu buruk jarang saya dapati.

Dengan karakteristik yang berbeda, perhatian manusia pada “benar” dan “salah” juga tampak pada praktik berhukum. Negara melembagakan pengadilan sebagai institusi yang memiliki otoritas legal menjatuhkan vonis “melanggar” atau “tidak melanggar”. Dua kemungkinan vonis itu kemudian kerap diartikan sebagai “bersalah” dan “tidak bersalah”.

Hal serupa juga dapat terjadi pada dunia seni. Para pelaku seni memproduksi objek keindahan yang oleh para kritikus, kurator, dan publik dinilai dengan kualita-kualita yang unik dan spesifik. Meski tidak selalu terjadi, penilaian terhadap objek seni kerap berakhir pada justifikasi “indah” dan “tidak indah”.

Kenikmatan

Jauh sebelum nilai sebagai produk kultural lahir dan melembaga, saya menduga, kebaikan dan keburukan dikenali manusia secara biologis. Kebaikan dan keburukan adalah respon spontan sel, hormon, dan organ terhadap realitas yang ada di sekitarnya. Lantaran ini bersifat spontan, identifikasi ini tak melibatkan nilai.

Orang yang haus memiliki dorongan biologis untuk minum. Ketika dia menemukan minuman dan menenggaknya, kebutuhan biologis tubuh terpenuhi. Berkat air yang ditenggak manusia, sel-sel memperoleh suplai zat (entah apa) yang dibutuhkan sel untuk menjalankan fungsi biologisnya: memproduksi sesuatu dan mereproduksi diri.

Keberfungsian sel menjamin sistem biologis manusia berjalan normal, sehingga tidak ada kesakitan atau penderitaan yang diakibatkan oleh abnormalitas fungsi biologis tubuh. Pembebasan diri dari rasa kesakitan melahirkan sensasi kenikmatan. Sensasi inilah yang direkam dalam ingatan sebagai sesuatu yang “baik”. Kondisi “baik” itu dioposisikan dengan kondisi “tidak baik” yang dirasakan sebelumnya.

Dari situlah, insting manusia terasah untuk membedakan “baik” dengan “tidak baik”. Kebaikan adalah keterbebasan dari kondisi buruk yang dialami sebelumnya. Kebaikan diperoleh dengan melakukan tindakan yang mengubah kondisi sakit dan tersiksa menjadi kondisi tidak sakit dan tidak tersiksa.

Negosiasi dan Kesepakatan

Konsep baik dan buruk yang lahir dengan mekanisme biologis itu berubah menjadi konsep sosial karena manusia berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi berlangsung dalam medan negosiasi yang berjalan terus-menerus. Subjek satu menawarkan konsep “baik dan buruk” kepada subjek lain. Adapun subjek lain memiliki pilihan untuk mengonfirmasi atau menegasikannya.

Proses negosasi yang berjalan terus-menerus melahirkan kesepakatan yang membuat “baik dan buruk” yang awalnya personal menjadi konsep yang bersifat komunal. Akibatnya, “baik dan buruk” terlembagakan dan tampak sebagai nilai bersama. Penolakan terhadap nilai bersama berkonskuensi pada alienasi yang berujung pada hadirnya rasa sakit dan tersiksa.

Proses sosial demikian, sudah barang tentu, menempatkan para individu pada posisi soal tertentu. Individu satu bersifat dominan adapun individu lain terdominasi. Otoritas individu dominan memungkinkan dia memaksakan agar “baik dan buruk” versinya dterima sebagai konsep yang massal, atau bahkan universal.

Proses sosial demikian berisiko membuat “baik dan buruk” dalam ruang sosial tertentu berbeda dengan “baik dan buruk” yang lahir dari proses individual. Pemilik otoritas berkecenderungan mendefinisikan “baik dan buruk” berdasarkan “baik dan buruk” personalnya. Jika sudah demikian “baik dan buruk” dapat tercemar dan bisa berebda atau bahan sama sekali berbeda dengan “baik dan buruk asal”.

Jika proses itu benar terjadi, “kebaikan” bisa sama sekali tidak baik dan “keburukan” bisa sama sekali tidak buruk. (Sumber gambar: Yearlyglot)

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.