“Asal” Cinta

SEDULURKU TERCINTA,seratan Ajisaka dalam “Ha Na Ca Ra Ka,Da Ta Sa Wa La,Pa Dha Ja Ya Nya,Ma Ga Ba Tha Nga”–saya balik aksara Jawa itu,ternyata aksara-aksara itu ada kemiripan dalam huruf Arab yang melafalkan “Allah” dengan berbagai bentuk,dan itu hampir sama dengan huruf-huruf Arab dalam perkembangan awalnya. Apalagi bila dikaitkan dengan berbagai “sandhangan”,misalnya “wulu” sama “pepet” itu bentuknya sama dengan huruf “wawu” dan harokat “dhommah”,demikian juga “cakra wa”.

“Pengkol” itu berbunyi “ya”,bentuknya sama dengan huruf “ya'”,kemudian “wignya” itu bentuknya sama dengan “hamzah” terbalik,demikian dalam berbagai “sandhangan” yang lain,semua itu hampir mirip dengan perkembangan huruf-huruf Arab “kuno”,silahkan simak sendiri bentuk-bentuk sandangan itu:ada yang mirif “ain” bagi “cakra ra atau cakra keret”,ada “taling” yang mirip “Allah”,”lungsi” yang digunakan untuk “titik” itu sama dengan penutup dalam tulisan Arab,dan seterusnya.

Dari situ kita akan bisa melihat bahwa huruf Arab itu seperti huruf Jawa yang dibalik,dan ini perlu penelitian para ahli arkeologis untuk bisa menguak tabir dinamika “peradaban” yang tersedia.Ada dua kemungkinan,dimana bisa jadi huruf Jawa lebih dulu dibanding huruf Arab,dan sebaliknya huruf Arab bisa lebih dulu,hal ini berkaitan dengan sejarah Prabu Ajisaka yang punya dua abdi,namanya Sembodo dan Dora.

Pada suatu hari Prabu Ajisaka yang “bersorban” itu berkelana dan diikuti Sembodo,sementara Dora disuruh Prabu Ajisaka menunggu “keris”–ada yang bilang “kekering Arsy”.Prabu Ajisaka sebelum lelono wasiat sama Sembodo dan Dora:kalau keris itu tidak boleh diberikan siapa saja kecuali Parbu Ajisaka.Setelah sekian “lelono”,Prabu Ajisaka mengutus kepada Sembodo untuk mengambil kerisnya.Namun Sembodo dan Dora “regejegan” atau bertengkar saling menikam satu dengan yang lain sehingga mati bersama.

Tidak lama kemudian Prabu Ajisaka menyusul kepada abdinya karena lama menunggu tidak datang-datang.Prabu Ajisaka terkejut ketika melihat kedua abdinya sama-sama mati.Prabu Ajisaka lalu ingat akan pesannya kepada kedua abdi itu,pesan itu berbunyi:Ha Na Ca Ra Ka,Da Ta Sa Wa La,Pa Dha Ja Ya Nya,Ma Ga Ba Tha Nga.

Pada akhirnya kita akan lebih bisa melihat segala bentuk huruf di dunia ini,dimana satu dengan yang lain ada “kemiripan-kemiripan”,dan itu bukan sesuatu yang asing bahwa segala sesuatu itu ada “inti” dan “bagian”.Semua ini akan terkuak pada akhirnya, sebagaimana penemuan-penemuan yang ada sekarang ini dengan asumsi-asumsi yang didukung dengan kecanggihan alat teknologi.Misalnya,bebatuan Mesir itu sementara ini dianggap paling kuno,ternyata lebih kuno bebatuan piramida yang sedang ditemukan di Tasikmalaya.

Manusia tertua sementara ini juga ditemukan di Sangiran itu,bahkan ada raja segala burung yang menjadi induk segala spesies burung di seluruh dunia yang bernama Garuda,dimana raja segala burung ini berada di wilayah gunung berapi,dan itu wilayah sini.Ditambah lagi bahwa banyaknya ungkapan bahasa juga menjadi “barometer” tuanya “peradaban” dunia,dan silahkan “cek” secara etimologis:wilayah mana yang paling kaya bahasa. Dimana di wilayah Nusantara ini ada 300 jenis bahasa,dan beranak pinak ungkapan sampai 700 jenis bahasa.Suku terbesar juga ada di wilayah ini,namun walau dipisahkan oleh puluhan ribu pulau,tetap bersatu,padu.

Kawan-kawan,saya ingat pesan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw bahwa sesuatu itu kembalikan kepada “asal”.Apalagi Beliau sampai pesan agar menuntut ilmu sampai ke negri “shin”.Dan terdapat indikasi bahwa para shabat beliau itu telah banyak yang sampai ke negri Nusantara ini,sampai terbanyak “habib” di sini,Islam terbanyak di sini,peziarah ke Tanah Suci terbanyak dari sini,dan seterusnya dan seterusnya.

Andai boleh,Hajar Aswad itu diteliti–ini tugas para pencinta “akik”,boleh jadi itu bebatuan dari sini,yang orang sana menyebut batu dari surga.Dimanakah surga yang diturunkan di bumi? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw menyatakan:dimana kerukunan dan kebersamaan menjelma di bumi.Bumi manakah sementara ini yang menunjukkan indikasi sabda Nabi itu? Silahkan simak sejarah,,,Tabik!

– Kiai Budi Hardjono,

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *