Antara Sukinah, Ilusi Negara Agraris, dan Tugas Dakwah yang Tak Selesai

Oleh Kalis Mardiasih

“Jangan ke Watuputih dulu, Mbak. Situasinya sedang tidak aman.”
“Kenapa, Mas? Saya hanya ingin menengok Yu Sukinah dan kawan-kawan di sana. Memberi dukungan.”
“Situasinya tidak seperti yang Mbak bayangkan. Banyak polisi berjaga di sekitar lokasi dan sudah mulai melakukan tindak represif. Banyak oknum yang sudah mulai mendatangi rumah-rumah warga memberi ancaman serta menyebar teror untuk melawan pergerakan Yu Sukinah dan kawan-kawan.”

Demikian sepenggal obrolan saya, kurang lebih hampir setahun lalu dengan seorang kawan yang bergiat dalam sebuah zine anti-otoritarian yang menjadikan isu lingkungan sebagai isu penting dalam pergerakannya. Belum selesai rasa gusar berkecamuk, selanjutnya, saya mendapat kabar lanjutan dari Ibu Dewi Candraningrum, pimpinan redaksi Jurnal Perempuan, bahwa kabar tersebut benar adanya. Bahkan, kondisi yang sebenarnya di lokasi lebih buruk lagi.

Tersiar kabar, anak-anak para Ibu yang menolak pembangunan pabrik semen oleh P.T Semen Indonesia di kawasan Kendeng Utara mulai menjadi olok-olok. Anak-anak tak berdosa itu dikucilkan dan dianggap anak para pengkhianat sebab tidak mendukung agenda Industri yang memberi mereka janji manis berupa lapangan kerja dan uang instan. Mereka dicaci, dikucilkan, bagai potret yang mengingatkan kita kepada para korban peristiwa 1965 berikut keturunannya.

Hingga hari ini, sudah setahun lebih para Ibu perlawanan itu tinggal di tenda-tenda perjuangan. Mereka memulai perlawanan pada 16 Juni 2014, mengumpulkan dukungan dari satu acara kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Dukungan dari kawan-kawan aktivis lingkungan, HAM, pegiat kebudayaan, seni dan sastra tak henti mengalir seakan meyakinkan para Ibu bahwa mereka tak sendirian.

Saya bertanya, Negara merdeka macam apa yang membiarkan rakyatnya berteriak-teriak, mengemis keadilan, dan bahkan bertempur di hadapan pemodal raksasa yang ingin merebut lahan mereka sendiri. Rahim pertiwi yang menghidupi, yang kaya akan Sumber Daya, yang ingin mereka jaga kelestariannya semata demi nasib anak dan cucu yang lebih baik. Para Ibu perlawanan yang dengan lantang berkata tak butuh bekerja di Industri dan hanya ingin bercocok tanam. Tetapi langkahnya justru dijegal oleh para cukong dan centeng penguasa.

Dan di langit/ dua tiga cukong mengangkang
Berak di atas kepala mereka

(Sajak Sebatang Lisong, WS Rendra)

Pertanyaan-pertanyaan itu seketika tercekat di tenggorokan ketika suatu sore saya melakukan perjalanan dari Solo ke Blora dengan motor. Saya mengamati sawah-sawah sepanjang jalan. Saya temukan banyak lahan persawahan yang telah berubah menjadi penghasil batu, bukan lagi penghasil padi dan jagung. Lahan persawahan mulai akrab dengan alat berat penggaruk tanah dan pencetak batu. Gubug dan lumbung tidak lagi berisi hasil panen, namun tumpukan batu-batu.

Pikiran saya berkecamuk. Seakan terlambat menyadari sebuah penyakit kronis yang terlanjur meruyak di sekujur tubuh negeri bagai kanker ganas. Yu Sukinah nun jauh di Rembang sana memimpin perjuangan melawan pemodal raksasa yang terang-terangan ingin merusak sumber air. Namun, sejujurnya, tentang fenomena lahan persawahan yang beralih fungsi ini, bukankah telah lama berlangsung?

Pada lahan persawahan di Blora, di sudut-sudut dusun terpencil, hampir tidak ada lahan yang utuh sebagai agenda bercocok tanam. Beberapa petaknya pasti disewakan kepada pemodal untuk menjadi penghasil batu. Tanah subur pada lapisan pertama hingga ketiga dikeruk, dan bertahun kemudian setelah masa sewa habis, para warga terlambat menyadari bahwa sawah mereka sudah tidak bisa bertanam padi kembali karena lapisan tanah yang mengandung kesuburan telah hilang. Hal ini belum meliputi berapa jumlah lahan persawahan yang telah berubah menjadi perumahan, ruko, dan berbagai ujud bangunan gagah yang tak mungkin berubah menjadi sawah kembali.

Semua terjadi dengan aman-aman saja di berbagai daerah. Tak ada perlawanan. Saya kembali tertegun, menyadari bahwa ternyata musuh kita yang sesungguhnya bukan hanya para penguasa yang culas atau para pemodal yang serakah, tetapi mental inlander atau terjajah.

Dalam sisa-sisa kesadaran saya bersama motor yang terus melaju sepanjang jalan Solo-Purwodadi-Blora, saya bertanya: “Dimana peran agama?” serta “Bagaimana posisi fenomena semacam ini dalam Islam?”

Dalam kasus Rembang atau sejarah kasus pertikaian lahan di Indonesia, hampir-hampir tidak terdengar peran agama di dalamnya. Mereka yang bersama kawan-kawan melawan, kebanyakan adalah para aktivis lingkungan dan kebudayaan.

Di pedesaan, para pemuka agama memiliki peran yang strategis untuk membentuk kepribadian dan pola kebudayaan masyarakat. Seharusnya, Yu Sukinah tidak hanya bersepuluh. Seharusnya, semangat Sukinah adalah semangat seluruh warga desa bahkan seluruh warga kota bahkan seluruh rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Seharusnya, warga desa, jika ia beragama Islam, tidak menyerahkan sawahnya begitu saja kepada para pemodal untuk dialihfungsikan dalam kepentingan yang merusak fungsi lahan. Tak perlu muluk hingga berbicara sistem kapitalisme atau ideologi, sebab seharusnya hal tersebut adalah manifestasi kehidupan manusia yang memeluk agama, khususnya Islam.

Islam mengenal Fiqh Al Biah atau diskursus fikih lingkungan. Dalam Al qur’an, tak kurang ayat yang mengajarkan para pemeluk agama Islam untuk menjaga lingkungan, dan kehidupan pada umumnya. Dalam situasi ekonomi sesulit apapun, pemeluk agama Islam harusnya memiliki pandangan yang lebih arif soal bagaimana bertahan hidup tanpa melibatkan peran para pemodal perusak alam. Permasalahannya, apakah Islam dalam kehidupan sehari-hari telah menjalankan perannya untuk membangkitkan kesadaran soal diskursus semacam ini?

Bulan Ramadhan ini, umat Islam terlalu sibuk melayani isu-isu “gumunan” semacam perdebatan warung makan dan bagaimana hukum menyetel kaset pengajian lewat speaker masjid. Ceramah-ceramah di masjid selama Ramadhan selalu dan masih berkutat soal-soal syariat belaka. Masyarakat menerima Islam sebagai surga dan neraka, halal dan haram, tapi tak pernah mendapati Islam dalam soal hidup sehari-hari. Dalam masyarakat yang melaksanakan ibadah wajib sehari-hari, untuk soal-soal kesulitan ekonomi mereka tetap bergumul bersama rentenir dan kerapkali menggadaikan soal-soal etik, asal dapat bertahan hidup. Seringkali, kegiatan penyuluhan pertanian adalah agenda industri pupuk kimia, dan pemuka agama tak pernah berpikir bagaimana menyejahterakan masyarakat melalui swasembada pupuk alam dari dan untuk masyarakat sendiri dengan mewujudkan sistem ekonomi Islam lewat koperasi desa, misalnya.

Kemana pula arah pergerakan mahasiswa Islam?

Sebagian, ada yang berteriak-teriak untuk membubarkan Negara Indonesia dan menggantinya dengan sistem khilafah. Sebuah cita-cita utopis yang saya tidak tahu manakah yang lebih penting antara agenda pembubaran Negara dengan perlawanan terhadap korupsi atau menolong mereka yang kelaparan.

Masjid-masjid kampus masih rajin membina akhlak mahasiswa dengan rajin menyelenggarakan seminar penyempurnaan akhlak. Dan sebagian lainnya larut dalam tren, menjadi mahasiswa salon yang rajin mengikuti agenda youth conference, membicarakan agenda-agenda perubahan di gedung megah dan hotel mewah.

Aku bertanya/
Tetapi pertanyaanku membentur jidat para penyair salon/
yang berbicara tentang anggur dan rembulan/
sementara ketidakadilan/
terjadi di sampingnya

(Sajak Sebatang Lisong, WS Rendra)

Idealisme adalah sesuatu yang lahir dari geliat rasa ingin memberontak di hadapan ketidakadilan dengan menjalani laku hidup bersama mereka yang tertindas. Jika sejak awal abad 19 Cokroaminoto mendampingi masyarakat untuk melawan monopoli kolonial, sekuat tenaga berbicara tentang kesejahteraan ekonomi walau nampak utopis di negeri yang terjajah, terus ia wariskan ideologinya kepada para muridnya, dan toh terwujud juga cita kemerdekaan yang telah diimpikannya setelah berpuluh tahun kemudian, lalu, apa yang menjadi tema khotbah para ulama hari ini?

Apakah mereka masih bermimpi tentang masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT? Atau sekadar jidat hitam yang berharap surga? Bertengkar antar golongan tetapi sama-sama tak berdaya di hadapan para pemodal dan tetap menjadi centeng penguasa?

– Kalis Mardiasih, penulis lepas, sedang menafsir soal-soal hidup dan masyarakat lewat cara pandang Islam

Facebook Comments

2 Comments

  1. Risa Umami Nk

    July 8, 2015 at 4:22 am

    Wah Kalis makin mendunia ajaa nih.. Keren 🙂

  2. Pingback: Antara Sukinah, Ilusi Negara Agraris, dan Tugas Dakwah yang Tak Selesai | Lapmi Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.