Analisis Pencemaran Pada Sungai Krengseng di Sepanjang Daerah Universitas Diponegoro

Aliran Sungai Krengseng terletak di sepanjang daerah Universitas Diponegoro yang arah alirannya menuju ke waduk penelitian Undip, air permukaan yang dialirkan melalui sungai Krengseng kemudian sebagaian menuju ke waduk Undip dan sebagian dialirkan ke hilir sungai tersebut merupakan termasuk dalam formasi Kaligetas (Qpkg) yang secara umum terdiri dari breksi vulkanik kuarter.

Menurut kondisi geologi dan pembentukannya system airtanah daerah penelitian merupakan akuifer tertekan-semi tertekan (Marsudi, 2001).Akuifer ini pada umumnya berada pada kedalaman 30-150m di bawah permukaan tanah setempat (dbpts).

 

Kondisi sungai daerah penelitian yang bertempatan di Universitas Diponegoro yang dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk dapat menyebabkan tidak adanya daerah aliran sungai (DAS).

Untuk itu dilakukan penelitian berdasarkan keadaan sungai ditinjau dari konsidi geologi, hidrogeologi, pengaruh jumlah penduduk, dan anilis sampel air sungai yang bertujuan untuk mengetahui karakter fisik dari kondisi air permukaan,kandungan hidrokimia yang berupa Ph dan DHL dari sampel air, danfaktor yang mempengaruhi pencemaran yang pada sungai.

Semakin banyaknya penjumlahan penduduk dapat menyebabkan tercemarnya kandungan air pada sungai yang disebabkan oleh adanya limbah rumah tangga, haltersebutdapatditunjukkanpada data kepadatanpendudukKecamatanTembalangberdasarkan data BadanPusatStatistiktahun 2017 (Tabel 1).

 

Tabel 1. Kepadatan Penduduk Kecamatan Tembalang

Tahun Luas Wilayah (KM2) Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk per KM2
2016 41,74 159.066 3.811
2015 41,74 156.868 3.758
2014 41,74 154.697 3.706

Sumber ; (BPS, 2017)

Berdasarkan kondisi curah hujan pada daerah kota semarang menandakan bahwa curah hujan meningkat pada bulan Novemberpadasetiaptahunnya,haltersebutdapatditunjukkanpada data data curah hujan di kota semarang dirinci per bulanberdasarkan data BadanPusatStatistiktahun 2016 (Tabel 2).

Tabel 2. Data Curah Hujan di Kota Semarang dirinci per Bulan

Bulan Curah Hujan Kota Semarang (Mm)
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Oktober 25 272 53 267 99 45 0
November 171 205 512 272 146 194 280
Desember 285 413 214 328 242 193 209

Sumber ; (BPS, 2016)

Berdasarkan data tersebutdapat di indkasikandengan bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan maraknya pembangunan menyebabkan tertutupnya DAS dan drainase sehingga dapat menyebabkan banjir pada 6 Desember 2016.

Bencana yang umum terjadi pada area  penelitian adalah meluapnya sungai pada saat turun hujan. Meluapnya sungai pada area penelitian akan berdampak pada daerah di hilir yaitu banjir. Seperti yang diketahui bahwa daerah penelitian termasuk pemukiman padat penduduk dengan morfologi perbukitan. Dari penjelasan tersebut seharusnya secara alamiah sungai pada area penelitian jika daerah hulu sungai tidak terganggu daerah tangkapan air dan vegetasinya maka luapan sungai kemungkinan kecil dapat terjadi, tetapi pada kenyataanya tidak demikian.

Penyebab dari sering meluapnya sungai Krengseng walaupun hanya hujan dengan intensitas rendah disebabkan oleh berkurangnya daerah tangkapan air dan vegetasi yang seharusnya mampu mengurangi dan menyerap air ketika hujan. Bertambahnya jumlah Perumahan pada area hulu ditambah kebiasaan buruk warga yang sering membuang sampah dan limbah rumah tangga ke sungai berkontribusi besar terhadap meluapnya sungai siwungu dan juga ikut membuat sungai tercemar sehingga pada daerah penelitian hingga terus ke hilir terkena dampaknya ketika hujan terjadi.

Air Waduk Diponegoro adalah air yang berasal dari Sungai Krengseng, Tembalang dan merupakan sungai penampung limbah domestik masyarakat sekitar Tembalang,Jawa Tengah (Fajar I,dkk,2017). Limbah domestik tersebut antara lain yaitu tinja, bekas cucian dapur dan kamar mandi, serta sampah rumah tangga yang merupakan salah satu penyebab dari pencemaran air pada Waduk Diponegoro. Limbah-limbah yang dibuang ke sungai tersebut berpengaruh terhadap penurunan kualitas dari air. Penurunan kualias dari air ditandai dengan adanya perubahan fisika dan kimia pada waduk diponegoro. Perubahan fisik yang terlihat yaitu warna air yang awalnya jernih berubah menjadi cenderung lebih keruh, dan dilihat dari bau cenderung lebih berbau tidak sedap. Kemudian sifat kimia dari air tersebut dilihat dari pengujian nilai DHL (sifat menghantarkan listrik) dan PH, dimana menunjukkan PH yang cenderung basa yaitu 7,5 – 8 dan DHL dengan nilai kisaran 291-329 yang termasuk kedalam macam air tanah dengan kelas yang fresh (Texas Water Development Board).

BerdasarkanhasildaripenelitiandapatdisimpulkanbahwaFaktor yang mempengaruhi pencemaran pada sungai adalah faktor dari morfologi sungai yang kecil dan sampah rumah tangga yang berasal dari daerah hulu dibuang sembarangan ke sungai sehingga menimbulkan pencemaran sungai sehingga menyebabkan dampak banjir di musim hujan.Hasil percobaan dengan kontrol penambahan zeolit yang paling mencolok pada sungai 1 menghasilkan kenaikan ph menjadi 8,31 dan DHL mengalami penurunan menjadi 258. Kontrol penambahan lempung yang paling mencolok pada sungai 2 yang menghasilkan kenaikan ph menjadi 9,65 dan penaikan DHL menjadi 330. Kontrol yang terakhir adalah zeolit+lempung yang menunjukkan perubahan yang mencolok pada air waduk dengan kenaikan ph menjadi 9,88 dan penaikan DHL menjadi 473. Perbedaan fisik dan kimia setelah dilakukan percobaan adalah penyampuran zeolit+lempung memiliki kondisi fisik yang sangat keruh dan larutannya secara kimia mengalami penaikan pH dan DHL yang signifikan, berbeda dengan hanya menambahkan zeolit atau hanya menambahkan lempung.

Sehinggadapatdirekomendasikanbahwa sebaiknya warga yang tinggal di daerah hulu lebih memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya dengan tidak membuang sampah sembarangan agar tidak mencemari sungai dan menyebabkan bencana penyakit ataupun bencana alam, dan sebaiknya perlu dilakukan peninjauan ulang kepada petugas pengangkut sampah-sampah di rumah tangga tentang lokasi pembuangan sampah akhir dari sampah-sampah yang telah dikumpulkan apakah lokasinya berdekatan dengan hulu sungai apa tidak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kota Semarang. 2015. Data Curah Hujan di Kota Semarang dirinci per Bulan, 1984 -2015.

  1. Berlin S, PP. Bernadeta A, Suharyanto, dan Pranoto S. 2017. Normalisasi Sungai Krengseng dalam Mendukung Keberlanjutan Waduk Pendidikan Diponegoro. Jurnal Karya Teknik Sipil, Volume6, Nomor1, tahun 2017, halaman1-11. Universitas Diponegoro.

Fajar I, Sarminingsih A, dan Rezagama A. 2017. Pengolahan Air Waduk Diponegoro dalam Menyisihkan Suspended Solids dan Kekeruhan Menggunakan Media Filter Pasir Silika, Batu Apung, dan Perlit Pada Reaktor Filtrasi. Jurnal Teknik Lingkungan, Vol.6, No.2. Universitas Diponegoro.

Hidayat.R. 2012. Geologi Daerah Ungaran Kabupaten Semarang. Tersedia: http://rorygeobumi.blogspot.co.id/2012/06/geologi-daerah-ungaran-kabupaten.html
(05 November 2017)

https://www.pu.go.id/main/view_pdf/8576 (Diakses pada Senin, 5 November 2017)

http://www.kampusundip.com/2016/09/waduk-undip-dipenuhi-sampah-dan-eceng.html(Diakses pada Senin, 5 November 2017)

http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/07/limbah-domestik-musuh-utama-sungai-indonesia (Diakses pada Senin, 5 November 2017)

Marsudi. 2001. Prediksi Laju Amblesan Tanahdi Dataran Aluvial Semarangpropinsi Jawa Tengah. Bandung.

  1. Thaden, dkk .1996. Peta Geologi Lembar Magelang dan Semarang, Jawa. Bandung : Direktorat Geologi

van Bemmelen, R.W., 1941, Geologische Kaart Van Java, Toelichiting Dig De Bladen, 73. Semarang : En 74 Vengaram.

van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology of Indonesia, Vol.1A, The Hauge Martinus N Jhoff, 732.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *