Anakronisme yang Menghibur dalam Pentas “Roro Sendari”

Untuk kali kedua, drama musikal Roro Sendari dipentaskan. Setelah dipentaskan di Teater Indonesia Kaya Jakarta 2017 lalu, sutradara Zulfa Fahmy menyajikan drama musikal itu di Radjawali Semarang Cultural Center, Sabtu (22/6).

Bagi saya, drama musikal itu relatif segar karena keberanian Zulfa menggabungkan drama dengan sulap. Pilihan itu agaknya berkait dengan latar belakang Zulfa yang selain dosen drama juga seorang pesulap atawa magician. Paduan drama-sulap itulah yang kemudian membangun hampir keseluruhan unsur teatrikal: alur, tokoh, adegan, properti, dialog, dan lainnya.

Saya menangkap adanya anakronisme dalam pentas malam itu. Dalam kajian sastra, anakronisme merupakan keganjilan yang terjadi karena ketidakdisiplinan dalam menata sequence waktu.

Dengan tokoh Dewi Durga yang berkostum ala dukun zaman old, saya menduga setting waktu keleluruhan lakon ini adalah era pra-Indonesia. Periode itu juga yang tergambar dari latar rumah Dewi Durga yang khas tampak dalam film-film berseting Jawa sebelum Indonesia.

Tapi dugaan saya mengenai setting waktu itu terkacaukan oleh dialog tokoh Komat dan Kamit. Dua tokoh pembantu perangkai cerita itu membincangkan Indonesia. Itu berarti, setting waktunya bukan pra-Indonesia.

Anakronisme juga tergambar dalam penggunaan properti. Di panggung ada tiga property utama yang muncul sejak drama dimulai hingga berakhir. Pertama, kursi Dewi Durga yang berbahan kayu dengan ukiran model kuno. Kedua, stand berbahan logam yang digunakan untuk menunjang aksil sulap Lalang. Ketiga, koper berbahan aluminium yang digunakan tokoh pesulap Roman. Di belakang kursi Dewi Durga juga ada cemeti.

Paduan bahan-bahan itu, antara kursi kayu model old dengan stand logam yang sangat modern, membuat saya sebagai penonton bingung pada awalnya.

Pada kostum tokoh pesulap juga ada anakronisme yang mencolok. Tokoh Satria berdandan layaknya pendekar pada masa era Majapahit – atau setidak-tidanya Mataram Islam. Tapi dua pesulap yang menyertainya menggunakan jas dan beskap.

Begitu pun saat tokoh Satria unjuk kesaktian. Dengan kostum khas prajurit zaman Majapahit, logis saja ia menggunakan golok. Tapi ia juga menggunakan kunci pas dan bor listrik. Tentu, ini paduan ganjil.

Apakah anakronisme yang ditunjukkan Zulfa Fahmi adalah keteledoran menyusun unsur dramatik atau disengaja?

Sebagai pengajar drama, saya percaya betul ia didukung konsep yang matang ketika menggarap “Roro Sendari”. Karena itu, pengabaian terhadap nalar waktu tentu dilakukan dengan pertimbangan yang lebih besar.

Pertimbangan itulah yang terjawab pada pertengahan hingga akhir pentas. Anakronisme ternyata jadi modus komunikasi panggung yang sengaja didesain untuk melahirkan efek menghibur.

Strategi ini bukan sesuatu yang baru. Baik dalam drama rakyat seperti ketoprak maupun drama modern, anakronisme sengaja digunakan untuk melahirkan keganjilan yang melahirkan efek lucu.

Peneliti seni pertunjukan Dr Sucipto Hadi Purnomo, misalnya, menemukan pola itulah yang konsisten digunakan grup-grup ketoprak Pati dalam berbagai pentasnya.

Dalam disertasi berjudu “Penggarapan Lakon Kethoprak Pati: Dinamika Dramaturgi dalam Respons Seniman, Penanggap, dan Penonton” ia mengungkapkan bahwa dalam berbagai lakon, pemain diberi keleluasaan untuk melompat dari satu seting waktu ke seting waktu lain.  Keleluasaan itu diberikan agar pemain dapat menciptakan kekocakan, unsur dramatik yang amat penting dalam posisinya sebagai hiburan rakyat.

Zulfa Fahmy  pun berhasil menggunakan strategi ini. Itu tampak dalam berbagai ledakan tawa  yang terdengar di berbagai adegan. Dengan memanfaatkan anakronisme Zulfa berhasil menampilkan Roro Sendari sebagai pentas yang menghibur.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.