Ada Metode “Swaraj” di Pesantren APIK Kaliwungu

Di pesantren APIK Kaliwungu, setiap santri boleh masuk ke kelas yang dikelola ustad. Metode pendidikan semacam ini telah dipraktikkan sejak pesantren ini berdiri 1919 lalu. Beberapa dekade kemudian, metode ini kerap disebut dengan sebutan Swaraj.

Nama Swaraj merujuk pada sebuah universitas di India bernama Swaraj University. Ini semacam universitas terbuka yang dikelola swadaya oleh masyarakat. Siapa pun boleh masuk menjadi mahasiswa, memilih perkuliahan yang dikehendaki, sesuai kebutuhan dan minatnya.

Di APIK, santri bebas untuk memilih dan mengikutinya sesuai dengan tingkatan dan kemampuannya. Bagi santri yang telah lulus dari pendidikan di pesantren tingkat I’dadiyah, Tsanawiyah dan Aliyah boleh menetap di asrama pondok pesantren untuk mengikuti pengajian pada kyai dan mendalami ilmu yang lebih matang yang disebut takhassus.

Tinggal atau Meninggalkan

Peneliti IAIN Walisongo Wardatun menulis, santri yang telah lulus aliyah bisa mengikuti pengajian muthola’ah kepada para kyai, pengajian ini merupakan ekstra kurikuler. Adapun pelaksanaannya berupa ifadah dan istifadah.

“Ifadah adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama di pesantren dengan cara mengajar para santri. Sedang istifadah adalah mengambil faedah dalam mengkaji dan mendalami ilmu yang ada dalam kitab klasik dengan para kyai selama kurang lebih 4 tahun,” tulisa Wardatun.

Setelah mengikuti program ini santri boleh memilih tetap tinggal di pesantren atau meninggalkan pesantren dan kembali ke kampung halaman. Bagi santri yang merasa sudah cukup ilmunya atau sebab lain, boleh meninggalkan pesantren. Tapi bagi santri yang masih ingin memperdalam ilmunya, boleh tetap tinggal selama yang diinginkan.

Setiap tahun Pondok Pesantren APIK Kaliwungu mewisuda rata-rata 100 orang santri dari madrasah aliyah. Sistem pendidikan pesantren bersifat fleksibel, memungkinkan santri mengakhiri pendidikannya dan kembali ke kampung halamannya sewaktu-waktu.

“Meskipun kurikulum yang dilaksanakan sepenuhnya bersifat keagamaan, sejak tahun 1997 ijazah yang dikeluarkan diakui setara dengan ijazah Madrasah Aliyah. Dengan demikian, para santri dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atau melamar pekerjaan yang membutuhkan ijazah formal,” lanjutnya.

Hingga sekarang, sudah lebih dari 15 orang alumni Pondok Pesantren APIK Kaliwungu yang menjadi sarjana tanpa memiliki ijazah SMU. Mereka adalah sarjana bidang agama yang berhasil menamatkan pendidikannya di IAIN, Unissula dan Universitas Tribakti Jawa Timur.

Bersama Masyarakat

Pondok Pesantren APIK didirikan pada 12 Februari 1919 oleh KH. Irfan bin Musa bin Abdul Baqi bin Mu’arif bin Qomarudin bin Jiwosuto (Panembahan Demak Bintoro). Awalnya pendiri dan tokoh masyarakat sekitar Kaliwungu sepakat untuk memberi nama Al Ma’hadus Salafi Al-Kaumani. Nama ini dipilih karena santri yang belajar di sana berasal dari daerah sekitar Masjid Jami’ Al-Muttaqien Kaliwungu. Zaman dahulu masyarakat yang tinggal di sekitar masjid disebut masyarakat kauman.

Seiring usia, santrinya tidak hanya dari daerah sekitar. Banyak santri yang erbasal dari luar daerah sehingga pengurus perlu mendirikan asrama.

Bangunan pertama yang didirikan oleh KH. Irfan bin Musa (Kakak KH. Ridwan bin Musa) adalah sebuah Asrama dengan ukuran sekitar 15 meter yang merupakan tanah wakaf.

Dana yang dipergunakan untuk Pembangunan Asrama tersebut adalah 75% ditanggung oleh Kakak dari KH. Irfan bin Musa yakni KH. Abdur Rasyid bin Musa (Ayah dari KH. Utsman dan KH. Ahmad Badawi) yang berprofesi sebagai Pedagang yang berhasil, sedang 25% diperoleh dari infak masyarakat sekitar.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.