Ada Mantenan di IKIP PGRI Semarang?

ADA yang beda di Auditorium Gedung Pusat IKIP PGRI Semarang pagi tadi. Hampir separuh ruangan disulap dengan dekorasi layaknya prosesi pengatin adat Jawa. Begitu pintu lift yang menghantarkan kita tiba di ujung lantai 7, terdengar sinden menyanyikan sekar Pangkur dengan merdunya.

Seakan dibawa ke dalam sebuah cerita prosesi pernikahan, tatkala langkah kaki berada di ujung pintu auditorium, terlihat gebyog, padi-padi, dan segala ugorampe telah terpasang rapi dan indah. Siapa gerangan yang hendak mantu di kampus IKIP PGRI Semarang?

Siapa yang mengira dekorasi persiapan penganten adat Jawa itu, ternyata bagian dari Ujian Panatacara yang harus dilalui mahasiswa program studi Bahasa Jawa semester 7. Mengangkat tema “Pagelaran Adat Penganten Jawi Jangkep Gagrag Surakarta Hadiningrat”, ujian tersebut dilaksanakan selama 2 hari (21-22/1) dan diikuti sebanyak 8 kelas.

Nampak kelas pertama tampil memperagakan prosesi pemasangan bleketepe, sungkeman,  siraman, bebilas, pecah pamor, magas rikma (potong rambut) dan nanem rikma, bopongan, dulang pungkasan, sade dhawet, dilanjutkan dengan upacara jonggolan, panggih, hingga pahargyan.

Menakjubkan memang, karena semua prosesi benar-benar dilakukan layaknya kita menyaksikan prosesi pernikahan adat Jawa. Penonton yang hadir pun memperoleh kesempatan untuk merasakan manisnya dhawet yang dijual oleh orang tua temanten putri, dengan menyodorkan koin gerabah yang telah dibagikan sebelumnya.

Sebelum acara dibuka, Dra HR Utami MHum, ketua program studi Pendidikan Bahasa Jawa menyampaikan bahwa ujian pranatacara ini sudah kelima kalinya dilaksanakan.

“Selain pranatacara, juga ada ujian karawitan, ujian beksa (tari), wicara, dan microtheaching,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor IKIP PGRI Semarang, Muhdi SH MHum memberikan apresiasi lebih terhadap pelaksanaan ujian tersebut. Menurutnya praktek pranatacara tersebut harus terus dilestarikan sehingga bisa menjadi keunggulan tersendiri yang dimiliki oleh IKIP PGRI Semarang.

“Akan lebih baik bila lulusan IKIP PGRI Semarang memiliki keunggulan lainnya selain dua yang wajib itu. Lulusan Bahasa Jawa harusnya tidak hanya bisa mengajarkan budaya Jawa, tetapi juga harus bisa mempraktekkan ilmu itu dalam kehidupan bermasyarakat,” himbau Muhdi.

 

 

1 Comment

  1. Nofalanta

    January 26, 2012 at 2:46 pm

    Good your information… 😀
    thanks..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.