Inilah 11 Hal yang Membuat Kudus Jadi Kampung Halaman yang Selalu Ngangeni

Pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek menyita perhatian masyarakat luas. Konon itu gerbang kota paling megah se-Indonesia. Baik desain maupun citraan yang ditampilkan hendak mewakili spirit masyarakat Kudus – selain spirit perusahaan sponsornya (Djarum).

Bentuk bangunan gerbang didesain menyerupai daun tembakau yang memayungi sisi kiri dan kanan ruas jalan. Tinggi bangunan Gerbang Kudus Kota Kretek, dirancang setinggi 12 meter dari permukaan jalan.

Lebar gerbang mencapai 21 meter. Replika daun tembakau akan dibuat dengan bahan stainless khusus yang didatangkan dari Australia.

Tapi, gerbang bukanlah satu-satunya hal yang membuat Kudus jadi kampung halaman yang ngangeni. Ada 10 alasan yang membuatnya jadi tempat pulang yang sempurna bagi penduduknya.

1.    Kabupaten Terkecil Penghasilan Besar

Dengan luas 425,5 km persegi, Kudus adalah kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Luas wilayah Kudus bahkan tidak mencapai seperempat dari luas kabupaten Cilacap yang mencapai 2.142km persegi.

Meski begitu, Kabupaten Kudus adalah salah satu kabupeten dengan penghasilan asli daerah terbesar. Tahun 2011, PAD Kudus mencapai 102 miliar. Penghasilan ini tentu ditopang oleh aneka industri, khususnya kretek, yang berdiri di sini.

Data statistik ini bisa jadi tidak bermakna apa-apa bagi kebanyakan orang. Tapi bagi saya dan warga Kudus lain, ini sebuah fakta yang menarik sekaligus membanggakan.

2.    Kota Santri yang Sesungguhnya

Tiap-tiap kota bisa mengklaim bahwa kota mereka adalah kota santri. Tapi, Kudus adalah kota santri dalam arti yang sebenarnya.

Secara historis, telah diakui, Kudus adalah salah satu pusat dkwah Islam di Jawa. Hal itu dapat dilihat dari terdapatnya lima makam yaitu Kyai Telingsing, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kedu, Syeh Syadzili. Tercatat, ada sebanyak 86 pondok pesantren di Kudus, yang tersebar di sembilan kecamatan.

Nah, yang istimewa dari Kudus adalah lahirnya banyak ahli Quran. Banyak pondok yang mengajarkan ilmu Al-Quran, namun ada satu pondok yang sangat terkenal dengan ilmu Al-Qurannya, yakni Pondok Pesantren Yanbu’ul QuranPondok pesantren Warisan KH Arwani Amin, itu kini diasuh oleh KH Ulin Nuha Arwani.

3.    Keuletan Warga dalam Tradisi Gusjigang

Salah satu sikap hidup yang diajarkan Sunan Kudus kepada santrinya adalah Gusjigang. Gus berarti bagus, ji berarti mengaji, dan gang berarti berdagang. Melalui filosofi itu, Sunan Kudus menuntun masyarakat menjadi orang berkepribadian bagus, tekun mengaji, dan mau berdagang.

Dari pembauran lewat sarana perdagangan dan semangat ”gusjigang” itulah masyarakat Kudus mengenal dan mampu membaca peluang usaha. Dua di antaranya usaha batik dan jenang. Namun banyak juga warga Kudus yang berwiraswasta di sektor lain kok.

Dalam Gusjigang terdapat spirit bahwa ilmu agama dan harta benda sama-sama diperlukan. Dalam Gusjigang pula warga Kudus percaya, rizki harus diperoleh dengan cara halal. Walaupaun jumlahnya sedikit, tapi jika halal akan bermanfaat.

4.    Sebuah Kombinasi Karagaman dan Kerukunan

Sebelum Islam masuk, mayoritas warga Kudus menganut agama Hindu. Memang, saat itu ada sebagian warga yang telah memeluk Islam berkat dakwah Sunan Telingsih.

Ketika Sunan Kudus mulai berdakwah, ia berusaha mengakrabi warga setempat yang masih beragama Hindu dan Budha. Ia tidak bersikap frontal terhadap keyakinan tradisional yang saat itu.

Terhadap sapi, misalnya, Sunan Kudus memberikan toleransi. Ia melarang santrinya menyemeblih sapi karena dalam agama Hindu hewan itu dianggap suci.

Saat Sunan Kudus membuat masjid, ia membuat delapan padasan (tempat wudu). Pada masing-masing padasan itu, Sunan Kudus meletakkan arca. Ini strategi untuk mengakrabi umat Budha. Sebab ia tahu,dalam ajaran Budha ada ajaran Asta Sanghika Marga, konsep kabaikan yang diyakini penganut Budha.

5.    Gemerlap Kota dan Kerindangan Desa

Kudus kota adalah gambaran semangat kerja warganya. Selain pabrik rokok, di sana terdapat aneka pusat perbelanjaan. Bisa dibilang, di sekitar SImpang Tujuh merupakan pusat kegiatan ekonomi, representasi semangat berdagang.

Sementara itu, di desa-desa tergambar kerharmonisan warga dengan alam. Dengan kerindangan yang terjaga, desa-desa di sini terjaga kesejukannya.

6.    Rumah Seni Bercita Rasa Seni Tinggi

Di kampung tempat saya lahir, ada sejumlah rumah adat yang terpelihara sampai saat ini. Dari dulu, rumah ini jadi tempat kami ngaji dan bermain. Tipe rumah ini dinamakan rumah Pencu. Ukiran yang menghiasai rumah ini merupakan perpaduan gaya Jawa, Persia (Islam), Cina (Tionghoa) dan Eropa (Belanda).

Secara umum, interior rumah adat Kudus terdiri dari tiga bagian. Jogo Satru adalah bagian depan rumah. Ruangan ini sering digunakan sebagai tempat menerima tamu yang berkunjung.

Gedongan adalah bagian ruang keluarga. Ruangan ini biasa digunakan untuk tempat tidur kepala keluarga.
Pawon terletak di bagian samping. biasa digunakan untuk masak, belajar dan melihat televisi. Untuk halaman depan rumah, terdapat sumur pada sebelah kiri yang dinamakan Pakiwan.

7.    Jenang Rakyat yang Istimewa

Merk jenang Mubarok barangkali adalah merk paling terkenal. Tidak hanya di Indonesia, tapi ke sejumlah negara Islam di timur tengah.

Tapi, Mubarok bukanlah produsen satu-satunya di Kudus. Di sini, ada ratusan produsen, baik membuat jenang untuk konsumsi pribadi maupun untuk dijual.

Jenang dibuat secara tradisional oleh sekitar 10 sampai 15 orang secara bersama-sama. Ada bagian yang mengupas dan memarut kelapa serta membuatnya santan, ada yang bertugas mengaduk adonan selama 4 jam berturut-turut di atas tungku api kayu dengan menggunakan wajan besar atau yang biasa disebut dengan kawah.

8.    Saksi Kelahiran Pemain Bulutangkis Dunia

Boleh dibilang, Kudus adalah kawah candradimuka pemain bulu tangkis nasional. Ini bermula pada tahun 1969. Para karyawan pabrik rokok Djarum ternyata banyak yang suka main bulu tangkis. Biasanya mereka main setelah kerja.

Melihat itu,pimpinan pabrik kemudian memberi fasilitas dnegan mengubah brak pabrik (tempat karyawan melinting rokok) di Jalan Bitingan Lama jadi lapangan bulu tangkis. Ini membuat permainan bulu tangkis jadi makin semarak. Lama kelamaan, tidak hanya karyawan yang ikut main, tapi orang-orang luar.

Nah, karena anggotanya semakin banyak, tahun 1974 secara resmi dirikan Perkumpulan Bulutangkis Djarum (PB Djarum). Dua tahun berselang, Liem Swi King menorehkan prestasi besar dengan tampil di final All Englang. Ia bahkan mengulangi prestasi hingga jadi juara All England untuk ketiga kalinya.

Banyak atlet bulu tangkis yang Berjaya di kompetisi internasional lahir dari PB Djarum. Ada Alan Budikusuma, Christian Hadinata, Hariyanto Arbi, Hastomo Arbi, Heryanto, Ivana Lie, dan tentu saja Liem Swie King.

9.   Sambut Ramadan dengan  Dandangan

Jelang bulan Ramadan, umat Islam menyambutnya dengan suka cita. Di Kudus umat Islam secara khusus menggelar tradisi Dandangan. Tradisi ini sudah turun temurun atas warisan dari Sunan Kudus.

Dulu, tradisi ini bermula pada saat masyarakat mendatangi masjid Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman dari sesepuh masjid mengenai kapan dimulainya hari pertama puasa Ramadan.

Pengumuman diawali dengan permulaan menabuh beduk yang diterpasang Menara, lalu beduk tersebut kedengarannya menimbulkan suara “dhang…dhang..dhang”. Bunyi beduk itulah yang memunculkan kata dhandhang, sehingga kebiasaan tersebut dikenal dengan tradisi Dandangan.

10.    Tradisi Sewu Kupat

Di daerah lain, puncak kesemarakan Idul Fitri mungkin tepat 1 syawal. Di Kudus, puncak keramaian lebaran justru seminggu setelah Idul Fitri. Saat itulah warga dari berbagai daerah berkunjung untuk merayakan tradisi Sewu Kupat. Warga Kudus sendiri menyebut tradisi ini bada kupat.

Prosesi Sewu Kupat biasanya diawali dengan arak-arakan sejumlah gunungan, berisi kupat dan hasil bumi. Berbagai gunungan itu diarak dan menempuh jarak sejauh 1,2 kilometer dari makam Sunan Muria menuju kawasan wisata Colo. Setelah didoakan, gunung ketupat ini biasanya diperebutkan warga.

11. Kenangan Masa Kecil Dicatatkan

Bagi warganya, kampung halaman selalu istimewa karena di sanalah kenangan masa kecil disimpan. Di kampung pula, aneka keindahan masa bocah terlipat rapi.

Membayangkan keseruan ketika sekolah, ngaji, dan tarawih adalah sebuah kenikmatan.

Di sana, orang-orang tua membesarkan kita dengan perhatian yang tiada tara. Dari sana, doa terucap setiap hari untuk kami yang sedang belajar mandiri.

4 Comments

  1. Amalul Arifin

    February 10, 2015 at 7:49 am

    Semuanya true,, malah jadi kangen ni sama Kampung..
    sayang saya nan jauh di Ibu Kota..

    • Ahmad Dzul A.

      February 14, 2015 at 12:00 pm

      Iya mas, aku juga kangen.
      baru dua tahun di ibu kota..

    • Yuli Prastyawan

      June 17, 2015 at 1:17 am

      Kudus selalu ngangenin, kota kecil nan semarakk

  2. M . Aniq Yasrony

    June 19, 2015 at 2:17 am

    Kota kudus memang eksotik,, aq jadi pengen pulang,,, thank untuk orang yang sudah menuliskan about kudus,,, kangen masa kecil jadinya…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.